Inflasi Oktober Diperkirakan 0,36%
Minggu, 26 Oktober 2014 | 10:25 WIB
Jakarta - Ekonom Aviliani memperkirakan inflasi pada bulan Oktober sangat mungkin akan lebih tinggi dari bulan lalu sebesar 0,27%.
Meluasnya kekeringan di sejumlah daerah penghasil bahan pangan dan kenaikan harga komoditas klasik seperti cabai menjadi penyebabnya.
Harga cabai telah naik lebih dari dua kali lipat. Cabai merah besar naik menjadi Rp 35.000 per kilo gram dari Rp 15.000 per kilo gram.
Cabai rawit merah naik menjadi Rp 40.000 per kilo gram, cabai rawit hijau naik menjadi Rp 22.000 per kilo gram dari dari Rp 15.000 per kilo gram.
"Kemungkinan di 0,36%," katanya pada Beritasatu.com, Minggu (26/10).
Angka tersebut melebihi rata-rata inflasi pada bulan Oktober selama lima tahun terakhir sebesar 0,16%. Inflasi pada bulan Oktober biasanya rendah seiring datangnya masa panen dan meredanya tekanan inflasi.
Puncak inflasi biasanya terjadi pada periode Juni hingga Agustus, saat masyarakat merayakan lebaran dan tahun ajaran baru.
Adapun terkait neraca perdagangan, Aviliani menilai Indonesia masih akan mengalami defisit terutama karena naiknya konsumsi energi (bahan bakar minyak/ BBM) pada bulan September.
"Meskipun harga minyak mentah internasional cenderung turun, tapi konsumsinya naik. Sementara harga komoditas ekspor kita seperti minyak sawit juga turun, jadi kemungkinan masih defisit di atas 2,5% PDB," paparnya.
PT Pertamina (Persero) mencatat penyaluran BBM bersubsidi hingga 30 September 2014 naik 1,7% dibanding setahun yang lalu, menjadi 34,9 juta kilo liter.
Penyaluran premium mencapai 22,24 juta kilo liter atau naik 1,9% dibandingkan setahun lalu. Sementara realisasi penyaluran solar pada periode tersebut naik 3,9% menjadi 11,94 juta kilo liter.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




