ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Tahun Depan, Perekonomian Indonesia Diprediksi Tumbuh 5,3%

Rabu, 3 Desember 2014 | 15:24 WIB
RS
B
Penulis: Ridho Syukro | Editor: B1
Pemimpin Redaksi Investor Daily,Suara Pembaruan,Majalah Investor dan Beritasatu.com Primus Dorimulu (kiri) bersama pembicara (dari kiri ke kanan) Wealth Motivator,CEO & Founder Lima Dua Group Jimmy Dimas Wahyu, Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penaman Modal, BKPM RI MM Azwar Lubis, CEO AKR Land Development Widijanto, Kepala Ekonomi PT Bank Danamon Indonesia Tbk Anton Hendranata, Direktur Executive Indonesia Property Watch Ali Tranghandra dan moderator Aditya L Djono berpose bersama sebelum Seminar Economic Outlook 2015 di Jakarta, Rabu (3/12). Seminar dengan tema
Pemimpin Redaksi Investor Daily,Suara Pembaruan,Majalah Investor dan Beritasatu.com Primus Dorimulu (kiri) bersama pembicara (dari kiri ke kanan) Wealth Motivator,CEO & Founder Lima Dua Group Jimmy Dimas Wahyu, Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penaman Modal, BKPM RI MM Azwar Lubis, CEO AKR Land Development Widijanto, Kepala Ekonomi PT Bank Danamon Indonesia Tbk Anton Hendranata, Direktur Executive Indonesia Property Watch Ali Tranghandra dan moderator Aditya L Djono berpose bersama sebelum Seminar Economic Outlook 2015 di Jakarta, Rabu (3/12). Seminar dengan tema " Potensi Investasi Properti di Tahun Pembangunan Infrastruktur " diselenggarakan oleh Majalah Investor dengan AKR Land Development (Majalah Investor/Uthan A Rachim)

Jakarta - Perekonomian Indonesia pada tahun 2015 diperkirakan hanya bisa tumbuh pada level 5,3 persen.

Hal itu diungkapkan pengamat ekonomi Bank Danamon Anton Hendranata dalam acara Majalah Investor Seminar Economic Outlook 2015 mengenai Potensi Investasi Properti di Tahun Pembangunan Infrastruktur di Hotel JS Luwansa, Rabu (3/12).

Menurut Anton, tahun 2015 bukanlah tahun yang mudah bagi perekonomian, ibaratnya seperti kapal berlayar yang siap diterjang angin dari arah depan.

"Pada tahun 2015, Amerika Serikat saja yang diharapkan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi global karena mesin mesin pertumbuhan lainnya melambat," katanya.

ADVERTISEMENT

Bank Sentral Amerika Serikat mulai mengetatkan kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga global di kuartal kedua. Jika suku bunga naik, maka ada potensi terjadinya capital outflow di negara berkembang termasuk Indonesia.

Selain itu pada 2015, perekonomian Tiongkok diperkirakan melemah dari biasanya tumbuh 10 persen menjadi tujuh persen.

Melemahnya perekonomian Tiongkok menyebabkan harga komoditas mengalami penurunan, sehingga mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia.

Faktor penopang perekonomian Indonesia tahun depan masih didominasi sektor konsumsi dan proyek investasi di sektor infrastruktur.

Anton mengatakan, BI rate pada level 7,75 persen harus dipertahankan karena sudah cukup aman menjangkar inflasi.

"Tahun depan BI tidak perlu lagi menaikkan suku bunga," ujarnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon