Kuartal Pertama, BI Prediksi Ekonomi Indonesia Tumbuh di Atas 5,02 Persen
Selasa, 17 Maret 2015 | 18:50 WIB
Jakarta - Bank Indonesia memproyeksi perekonomian Indonesia tumbuh di atas 5,02 persen pada kuartal-I 2015 seiring konsumsi swasta yang meningkat seiring dengan terkendalinya inflasi.
Selain itu, konsumsi pemerintah juga diekspektasikan membaik sejalan dengan peningkatan pengeluaran pemerintah. Hal itu disampaikan Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI hari ini.
Menurutnya, faktor lain yang turut menjadi pertimbangan adalah kinerja ekspor. Meski mulai membaik, namun masih akan terkontraksi karena turunnya harga komoditas dan masih melemahnya permintaan global.
"Kuartal-I 2015 akan lebih baik dibanding kuartal sebelumnya, ke depan, pertumbuhan ekonomi pada 2015 diprakirakan akan berada pada kisaran 5,4 persen hingga 5,8 persen, ditopang faktor-faktor tadi," katanya di Gedung BI, Jakarta, Selasa. (17/3).
Tirta mengatakan fundamental ekonomi sejauh ini masih solid. Menilik neraca perdagangan Fabruari 2015, tercatat surplus sebesar US$ 0,74 miliar didorong surplus neraca non migas sebesar US$ 0,57 miliar dan sisanya surplus neraca migas untuk pertama kalinya dalam tahun ini.
Sementara di neraca investasi, terjadi aliran masuk portofolio asing (inflow) sebesar US$ 4,3 miliar yang menyebabkan cadangan devisa Indonesia pada Februari 2015 meningkat menjadi US$ 115,5 miliar dolar AS.
"Itu setara 7 bulan impor atau 6,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, dan di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," katanya.
Inflasi sendiri, semakin menurun dan mendukung prospek pencapaian sasaran inflasi 2015 yakni 4 persen plus minus 1 persen. Indeks Harga Konsumen (IHK) kembali mencatat deflasi sebesar 0,36 persen (mtm) atau 6,29 persen (yoy), terutama karena terjadi deflasi pada komponen kelompok volatile food dan administered prices.
Inflasi inti menurun dari bulan lalu sebesar 0,61 persen (mtm) menjadi 0,34 persen (mtm) atau 4,96 persen (yoy). Penurunan tersebut ditopang oleh harga komoditas global yang menurun, permintaan domestik yang moderat, dan ekspektasi inflasi yang terjaga.
Namun demikian, tantangan global menurutnya masih akan mewarnai perekonomian ke depan. Pemulihan ekonomi global masih terus berlangsung, terutama ditopang oleh perekonomian AS yang semakin solid.
Pemulihan ekonomi AS yang didukung oleh konsumsi yang meningkat seiring dengan turunnya harga minyak dan membaiknya kondisi ketenagakerjaan, diikuti oleh indikator produksi yang semakin meningkat, semakin menguatkan arah normalisasi kebijakan moneternya, meski waktu implementasinya masih diliputi ketidakpastian.
"Ini mendorong penguatan dolar AS terhadap hampir seluruh mata uang dunia serta meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global. Sementara itu, langkah Quantitative Easing dari Bank Sentral Eropa dapat mengimbangi sebagian dari pengaruh kebijakan the Fed terhadap pergerakan arus modal global ke emerging markets. Di sisi lain, perekonomian Tiongkok yang diperkirakan terus melambat seiring penurunan investasi juga menjadi ancaman," paparnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




