ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Bisnis Perikanan Terhambat Tingginya Bunga Perbankan

Kamis, 19 Januari 2012 | 16:39 WIB
IM
B
Penulis: ID/Alina Mustaidah/WBP | Editor: B1
Dua orang nelayan memindahkan hasil tangkapan ikan Teri Lengkuru dari kapal di Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi, Kecamatan Watulimo, Prigi, Trenggalek,  Banyaknya nelayan yang tidak melaut akibat cuaca buruk mengakibatkan harga ikan teri lengkuru naik tiga kali lipat per kuital nya dengan harga Rp100.000 menjadi Rp300.000. FOTO :  ANTARA/M Risyal Hidayat.
Dua orang nelayan memindahkan hasil tangkapan ikan Teri Lengkuru dari kapal di Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi, Kecamatan Watulimo, Prigi, Trenggalek, Banyaknya nelayan yang tidak melaut akibat cuaca buruk mengakibatkan harga ikan teri lengkuru naik tiga kali lipat per kuital nya dengan harga Rp100.000 menjadi Rp300.000. FOTO : ANTARA/M Risyal Hidayat. (FOTO : ANTARA/M Risyal Hidayat.)
Bandingkan dengan China dan Thailand 4-8 persen, Australia 3 persen, Malaysia 2-4 persen, dan Jepang 0,5 persen.

Selain persoalan bahan baku, industri perikanan sulit berkembang akibat tingginya suku bunga. Hal itu berdampak pada bisnis perikanan yang tidak efisien sehingga sulit bersaing dengan negara-negara lain.
 
Menurut Ketua Umum Forum Pemerhati Perikanan Indonesia (FPPI), MS Tampubolon, tantangan bisnis dan industri perikanan di Indonesia sangat besar sehingga membutuhkan upaya ekstra agar bisa membangkitkan sektor perikanan.

"Salah satu tantangan tersebut adalah masih tingginya suku bunga kredit perikanan di Indonesia yang berkisar 12-16 persen," kata dia dalam diskusi Ocean Watch Indonesia (OWI)  di Jakarta, hari ini.

Suku bunga tersebut masih tinggi dibandingkan dengan China dan Thailand 4-8 persen, Australia 3 persen, Malaysia 2-4 persen, dan Jepang 0,5 persen. "Tingginya bunga kredit sangat memberatkan bisnis  perikanan. Dengan kondisi ini tidak mudah mendorong usaha perikanan," kata Tampubolon.

Dia menjelaskan, suku bunga kredit perbankan di Indonesia hanya kalah dari Myanmar. Untuk itu, diperlukan berbagai kerja keras sehingga bisnis perikanan bisa memberi kontribusi pada perekonomian nasional.

Jika bisnis dan industri perikanan berkembang, maka akan membuka lapangan kerja, efek  domino kelautan dan perikanan, serta nilai tambah bagi semua bidang yang  terkait.
 
Direktur OWI Herman Jaya mengungkapkan, dengan kondisi tersebut, sangat sedikit nelayan dan pelaku usaha perikanan skala kecil dan menengah mendapat kredit perbankan.


Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Ekspor Perikanan Turun 41 Persen Imbas Perang Iran

Ekspor Perikanan Turun 41 Persen Imbas Perang Iran

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon