Dana CPO Fund Harus Perkuat Sektor Sawit
Rabu, 6 Mei 2015 | 15:41 WIB
Jakarta -- Anggota Pengarah ICEPO (International Conference and Exhibition on Palm Oil) Yohannes Samosir mengatakan, ketertinggalan Indonesia mengembangkan industri sawit akibat lemahnya fundamental kebijakan dan perhatian pemerintah. Hal itu, kata dia, diperburuk oleh semakin kompleks dan kuatnya tekanan akibat isu pemanasan global dan keanekaragaman hayati biodiversity.
Akibatnya, kata Yohannes, pemerintah dan pelaku industri kelapa sawit di Indonesia menjadi kelabakan dan cenderung panik. Hal itu, kata dia, karena selama ini tidak ada persiapan.
Menurut dia, riset dan pengembangan (R&D) merupakan kunci untuk persiapan menghadapi serangan dan tekanan isu-isu serupa. Selain untuk kemajuan teknologi, kata dia, penelitian yang komprehensif dan terarah akan memberikan kesiapan berargumen secara objektif dan valid.
"Semoga dengan inisiatif CSF (CPO Support Fund) dari pemerintah, benar-benar digunakan untuk mendukung pengembangan sektor kelapa sawit. Dalam hal ini, memperkuat R&D. Pengelolaan dana CSF untuk R&D memerlukan kerjasama dan sinergi yang sinkron para pihak terkait. Sebaiknya, juga dibentuk Dewan Riset Kelapa Sawit Nasional," kata Yohannes saat International Conference and Exhibition on Palm Oil (ICEPO) 2015 di Jakarta, Rabu (6/5).
Sementara itu, Ketua GPPI Delima Hasri Darmawan mengatakan, pemerintah seharusnya mendeklarasikan kelapa sawit sebagai industri strategis nasional.
"Dengan begitu, semua lembaga terkait baik di pusat maupun daerah akan semakin serius dan fokus mendukung sektor ini. Indonesia sudah cukup lama terlambat menyikapi ini. Kita terbuai kepuasan sesaat menikmati ekspor CPO. Kita tidak banyak bersiap untuk pengembangan lebih strategis," kata Delima.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




