ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

BI: 47% Perusahaan Belum Melakukan "Hedging"

Kamis, 7 Mei 2015 | 17:42 WIB
A
FB
Penulis: Agustiyanti | Editor: FMB
Gubernur BI Agus Martowardojo
Gubernur BI Agus Martowardojo (Antara/Puspa Perwitasari)

Jakarta -- Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo meminta perusahaan-perusahaan BUMN untuk menerapkan transaksi lindung nilai (hedging) sebagai bagian dari manajemen risiko perusahaan dan menjadi contoh bagi perusahaan-perusahaan swasta untuk ikut melaksanakan transaksi lindung nilai.

"Kami ingin BUMN berikan contoh bagaimana kelola valas (valuta asing). Supaya swasta bisa contoh dalam melakukan praktek manajemen risiko yang baik, konsisten, akuntabel," ujar Agus dalam Seminar Transaksi Lindung Nilai Sebagai Alat Tata Kelola Keuangan dan Perusahaan di Jakarta, Kamis (7/5).

Agus menjelaskan saat ini, dari seluruh total utang luar negeri swasta, termasuk BUMN, masih terdapat sebanyak 47 persen perusahaan yang belum sama sekali melakukan transaksi lindung nilai. Padahal, menurut dia, tanpa melakukan hedging, perusahaan yang semula berada dalam kondisi keuangan yang sehat atau solvent dapat seketika menjadi insolvent akibat perubahan nilai tukar.

"Ke depan penguatan dolar AS masih akan terus berlanjut karena suku bunga Amerika Serikat yang akan cenderung naik dalam jangka pendek dan menengah," terang dia.

ADVERTISEMENT

Menurut Agus, BUMN dan perusahaan-perusahaan swasta perlu berkaca dari pengalaman krisis tahun 1997-1998 di mana banyak perusahaan yang terpukul akibat memiliki pinjaman valuta asing berjangka pendek, padahal memiliki pendapatan dalam rupiah.

"Sekarang ini rata-rata utang valas swasta dan BUMN kita memiliki jangka waktu yang pendek antara 1-3 tahun. Untuk perbankan, kami sudah yakinkan kalau mereka sudah kelola risiko dengan baik, untuk itu kami juga dorong BUMN agar mengupayakan pengelolaan risiko utang yang sesuai," terang dia.

Agus menuturkan sejak akhir Desember lalu hingga saat ini, aliran dana asing yang masuk ke Indonesia sudah mencapai Rp 43,9 triliun. Dana tersebut masuk antara lain dalam bentuk portofolio saham, surat utang negara, surat utang korporasi, serta sertifikat bank Indonesia.

"Dana asing masuk ke Indonesia cukup besar, tahun lalu masuk dana Rp 181,5 triliun, sedangkan dari Desember sampai saat ini itu dana asing yang masuk sudah mencapai Rp 43,9 triliun," ujar Agus

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon