ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Nilai Ekspor Februari 2024 Turun Mencapai US$ 19,31 Miliar

Jumat, 15 Maret 2024 | 09:56 WIB
AK
AD
Penulis: Arnoldus Kristianus | Editor: AD
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti (BPS/BPS)

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor mencapai US$ 19,31 miliar pada Februari 2024. Angka ini turun 8,34% dari posisi Januari 2024 dan kontraksi hingga 9,45% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan nilai ekspor secara bulanan dan tahunan utamanya disebabkan oleh penurunan nilai ekspor sektor industri pengolahan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan nilai ekspor migas mencapai US$ 1,22 miliar pada Februari 2024. Nilai ini menunjukkan kontraksi hingga 12,93%dari posisi Januari 2024.

Penurunan ekspor migas didorong oleh penurunan ekspor gas dengan andil penurunann 1,58%. Sementara itu nilai ekspor non migas mencapai US$ 18,09 miliar atau turun 5,27% dari bulan sebelumnya.

ADVERTISEMENT

“Penurunan nilai ekspor Februari didorong oleh penurunan ekspor non migas terutama pada besi dan baja (HS 72) dengan andil penurunan 3,26%, lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) dengan andil penurunan sebesar 2,6%, serta logam mulia dan perhiasan permata dengan andil penurunan sebesar 0,6%,” ucap Amalia dalam konferensi pers di Kantor BPS pada Jumat (15/3/2024).

Jika dilihat secara tahunan kondisi ekspor mengalami kontraksi 9,45% karena terjadinya penurunan ekspor non migas terutama pada lemak dan minyak hewan nabati (HS 15), bahan bakar mineral (HS 27), dan besi baja (HS 72).

Bila dirinci menurut sektor, maka ekspor nonmigas terbagi dalam tiga sektor. Secara tahunan semua sektor mengalami penurunan kecuali pertanian yang meningkat 16,91% sedangkan penurunan terdalam terjadi pada industri pengolahan yang turun 11,49%.

Pertama, yaitu sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan nilai ekspor mencapai US$ 390 juta. Ekspor pada sektor ini tumbuh 5,37% tetapi mengalami kontraksi hingga 16,91 % secara tahunan .

Kedua yaitu, sektor pertambangan dan lainnya sebesar US$ 4,05 miliar. Jika dilihat secara bulanan ekspor sektor ini tumbuh 9,7 sedangkan secara tahunan mengalami kontraksi 7,54%.

Ketiga, yaitu sektor industri pengolahan memberikan kontribusi ekspor US$ 13,64 miliar. Jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar mengalami kontraksi 9,22% dan secara tahunan turun 11,49%.

“Penurunan nilai ekspor industri pengolahan (secara bulanan) utamanya disebabkan oleh penurunan ekspor minyak kelapa sawit, logam dasar bukan besi, besi dan baja, barang perhiasan dan barang berharga, serta alumunium,” pungkas Amalia.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Kabar Baik! Kesenjangan Gender di Indonesia Capai Level Terendah 2025

Kabar Baik! Kesenjangan Gender di Indonesia Capai Level Terendah 2025

MULTIMEDIA
Aceh Jadi Provinsi dengan Indeks Demokrasi Tertinggi di Sumatera

Aceh Jadi Provinsi dengan Indeks Demokrasi Tertinggi di Sumatera

NUSANTARA
Pengangguran RI Turun ke 7,24 Juta, Kota Besar Masih Bermasalah

Pengangguran RI Turun ke 7,24 Juta, Kota Besar Masih Bermasalah

MULTIMEDIA
Konsumsi Pemerintah Melejit 21,81 Persen, Ekonomi RI Kuartal I Gaspol!

Konsumsi Pemerintah Melejit 21,81 Persen, Ekonomi RI Kuartal I Gaspol!

MULTIMEDIA
Jumlah Penduduk Jakarta 10,72 Juta Jiwa, Mayoritas Milenial dan Gen Z

Jumlah Penduduk Jakarta 10,72 Juta Jiwa, Mayoritas Milenial dan Gen Z

JAKARTA
IKG Terendah, Tingkat Kesetaraan Gender di Jakarta Terbaik Nasional

IKG Terendah, Tingkat Kesetaraan Gender di Jakarta Terbaik Nasional

JAKARTA

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon