Laba Bersih Emiten Farmasi Anjlok 66,67%
Selasa, 9 April 2024 | 10:16 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Laba bersih emiten farmasi yang memproduksi obat Antimo, PT Phapros Tbk (PEHA) ambles 66,67% menjadi Rp 10,36 miliar dari periode yang sama mampu kantongi untung mencapai Rp 30 miliar.
Pelemahan laba sejalan dengan koreksi penjualan perseroan selama 2023 dengan raihan sebesar Rp 1,02 triliun, melemah 12,93% dari periode yang sama tahun sebelumnya ketika perseroan mampu membukukan penjualan Rp 1,16 triliun.
BACA JUGA
Dorong Kemandirian Industri Farmasi, Menkes Resmikan Fasilitas Industri Alat Kesehatan Dexa Group
Pelemahan penjualan bersumber dari menurunnya pemasukan penjualan pihak berelasi yang menyumbang Rp 881 miliar daripada 2022 lalu berkontribusi Rp 1,09 triliun. Meski demikian, perseroan berhasil meningkatkan penjualan pada pihak ketiga mencapai 87,21% menjadi Rp 132 miliar dari sebelumnya Rp 70,86 miliar.
Dengan menurunnya penjualan, maka beban pokok penjualan PEHA juga menunjukkan penurunan cukup dalam yakni 15,24% menjadi Rp 495 miliar dari Rp 584 miliar pada akhir 2022. Dengan demikian, laba bruto yang diperoleh Phapros berjumlah Rp 518 miliar, minus 11,30% dari Rp 584 miliar.
Sementara itu, total aset dari PEHA pada 2023 tercatat sebesar Rp 1,76 triliun yang terdiri dari aset lancar Rp 929 miliar dan aset tidak lancar Rp 836 miliar. Sedangkan pada pos liabilitas, perseroan mencatatkan sebesar Rp 995 miliar pada pos liabilitas, lebih rendah 0,80% dari jumlah utang pada tahun 2022 sebesar Rp 1,03 triliun.
Meski PEHA membukukan kinerja kurang cemerlang pada 2024, banyak tokoh percaya bahwa sektor farmasi masih jadi sektor yang menarik pada 2024.
Pengamat pasar modal Haryajid Ramelan menyebut faktor populasi penduduk Indonesia yang berjumlah 270 juta orang maupun populasi penduduk dunia yang mencapai 8 miliar orang merupakan pasar yang sangat potensial baik saat ini maupun akan datang. Dalam pandangannya, pemenuhan kebutuhan obat di dalam negeri saja sudah besar, apalagi negara lain seperti Afrika dan Timur Tengah.
“Perlu terobosan-terobosan untuk melakukan ekspansi ke negara-negara yang memiliki populasi dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Bukan hanya negara berkembang saja. Sektor ini masih sangat tinggi dan stabil pertumbuhannya, dan kondisi permintaannya juga cukup bagus terutama orang-orang yang memiliki pendapatan yang sudah stabil,” tuturnya.
Direktur Utama Lembaga Sertifikasi Profesi Pasar Modal (LSPPM) itu mengatakan bahwa inovasi merupakan hal yang paling penting untuk dilakukan oleh perusahaan-perusahaan farmasi. Ia mencontohkan penemuan alat kesehatan terbaru dan pengembangan obat-obatan seiring dengan kebutuhan akan berbagai penyakit di dunia saat ini yang sangat tinggi.
“Menerapkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan blockchain akan menumbuhkan sektor farmasi,” imbuhnya.
Pengembangan obat baru, walaupun berbiaya tinggi, bisa memiliki peluang yang sangat besar apabila perusahaan farmasi masuk ke ranah tersebut.
“Perusahaan juga bisa menggandeng kalangan akademisi,” tambahnya.
Dari sisi investasi, sektor ini juga bisa memberikan dividen khususnya untuk portofolio jangka panjang.
“(Emiten) farmasi masih sangat menarik, menjanjikan dan bisa disimpan untuk long term. Secara keseluruhan sektor ini masih dipandang positif, potensinya tinggi sehingga wajar jika banyak investor yang melirik untuk mengoleksi,” tegasnya.
Secara terpisah, Direktur Utama PT Phapros Tbk, David Sidjabat mengatakan 2024 ini perusahaannya akan terus melakukan kemitraan dengan berbagai lembaga untuk berinovasi menciptakan alkes dan obat-obatan terbaru.
“Kami sudah menggandeng beberapa universitas dan lembaga penelitian untuk mengembangkan produk yang inovatif. Di sisi lain, kami juga mengembangkan innovative dosage form secara internal, sehingga nantinya jenis sediaan produk Phapros akan semakin beragam. Selain itu, rencana ekspor tahun 2024 juga masih sesuai jadwal. Kami optimis tahun ini, pertumbuhan Phapros tetap positif,” ungkapnya.
PT Phapros Tbk yang merupakan bagian dari Holding BUMN farmasi juga telah dikenal luas dengan produk Antimo. Sebagai bagian dari emiten Syariah, kinerja keuangan Phapros serta pergerakan harga sahamnya dalam jangka panjang cukup menarik bagi para investor.
“Di kuartal pertama ini pun kami akan terus memberikan kinerja terbaik yang nantinya juga bisa dinikmati oleh para investor,” pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




