ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Ekonomi Daerah Tumbuh 10 Persen Berkat Pembangunan Konektivitas Udara Era Jokowi

Jumat, 27 September 2024 | 07:06 WIB
AF
AD
Penulis: Alfida Rizky Febrianna | Editor: AD
Presiden Jokowi (kanan) didampingi Menhub Budi Karya Sumadi dan Gubernur Papua Lukas Enembe melihat maket pengembangan bandara Douw Aturure Nabire, Papua.
Presiden Jokowi (kanan) didampingi Menhub Budi Karya Sumadi dan Gubernur Papua Lukas Enembe melihat maket pengembangan bandara Douw Aturure Nabire, Papua. (Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com - Guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Telisa Aulia Falianty mengungkapkan, peningkatan konektivitas udara selama 10 tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo membawa pertumbuhan ekonomi daerah mencapai 10%.

"Kalau diperkirakan, rata-rata di seluruh Indonesia ini dengan adanya konektivitas udara, bisa menaikkan pertumbuhan (ekonomi daerah) sekitar 5-10%. Secara year on year perekonomian daerah bisa tumbuh akibat adanya konektivitas udara," ungkap Telisa, saat ditemui Beritasatu.com, di Kampus FEB UI, Salemba, Jakarta, pada Kamis (26/9/2024).

Menurutnya, pembangunan infrastruktur transportasi udara yang signifikan dalam 10 tahun terakhir ini memberikan dampak ekonomi yang positif bagi masyarakat hingga ke wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T). Hal ini yang kemudian menjadi pendukung pertumbuhan ekonomi daerah.

ADVERTISEMENT

"Dampak ekonomi pembangunan fasilitas udara sampai ke wilayah 3T itu adalah memudahkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya. Kita tahu banyak daerah-daerah terpencil itu yang tidak terjangkau dengan fasilitas darat dan laut sehingga dibutuhkan jalur udara," katanya.

Pertama, Telisa mencontohkan masyarakat Papua yang ia sebut sangat terbantu dari sisi pemenuhan kebutuhan pokok melalui konektivitas udara. Kemudahan akses dan ketersediaan kebutuhan pokok ini bahkan berdampak kepada harga kebutuhan pokok yang menurun.

"Itu tidak bisa dinafikan dan terbukti era beliau (Jokowi), harga-harga kebutuhan pokok bisa dijaga, terutama di daerah terpencil juga. Selain harganya lebih terjangkau karena intensitas dari bandaranya, penerbangannya, dan konektivitasnya yang lebih baik, tentunya ketersediaan bahan pokok menjadi lebih baik sehingga harga juga baik," jelasnya.

Kedua, Telisa menyampaikan, konektivitas udara yang menjangkau wilayah 3T ini menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat lokal. Sumber pendapatan baru ini salah satunya berasal dari terbukanya peluang usaha dari aktivitas pariwisata.

"Jadi dengan membangun konektivitas udara hingga ke wilayah 3T, wisatawan lebih bisa menjangkau daerah-daerah tersebut, karena ada wisatawan yang mencari tempat-tempat yang baru, yang belum umum. Memang tidak semasif pemenuhan kebutuhan pokok, tetapi itu sudah ada dan dengan adanya wisata ini menciptakan pendapatan baru untuk masyarakat sekitar," terangnya.

Ketiga, Telisa menilai, konektivitas udara dapat mengurangi ketimpangan pembangunan. Dia berujar, di era Jokowi, inklusivitas pembangunan bisa dirasakan oleh semua lapisan masyarakat hingga ke pelosok negeri.

"Jadi pembangunan tidak hanya untuk masyarakat perkotaan, tetapi pembangunan untuk masyarakat yang lebih luas," tuturnya.

Keempat, terbukanya konektivitas udara juga dinilai dapat meningkatkan penerimaan pemerintah daerah dan pusat. Hal ini karena semakin luasnya peluang-peluang ekonomi baru yang menggerakkan perkonomian lokal.

"Pembangunan bandara di Nabire sangat mendorong perekonomian Papua untuk tumbuh. Ini salah satu contoh bukti bahwa memang ini (pembangunan bandara) memberikan aspek ekonomi," pungkasnya.
 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon