ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Rentetan Risiko Ekonomi Imbas Konflik Iran vs Israel-AS

Minggu, 1 Maret 2026 | 14:40 WIB
AH
H
Penulis: Akmalal Hamdhi | Editor: HE
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran bisa memicu lonjakan harga minyak dunia.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran bisa memicu lonjakan harga minyak dunia. (Pexels/Versolaluce)

Jakarta, Beritasatu.com – Memanasnya konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) tak lagi sekadar menjadi isu geopolitik, tetapi telah menjalar ke ranah risiko ekonomi global. Ketegangan yang meningkat di kawasan Timur Tengah langsung direspons pasar keuangan dengan pola risk-off, di mana investor global mengurangi kepemilikan aset berisiko dan beralih ke instrumen safe haven.

Pengamat pasar modal sekaligus founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan pergeseran sentimen tersebut tercermin dari pergerakan sejumlah komoditas dan aset global. Harga emas menguat lebih dari 1%. Sementara itu, minyak mentah jenis west texas intermediate (WTI) dan Brent masing-masing melonjak hampir 3%.

‘’Kenaikan harga ini dipicu kekhawatiran terganggunya pasokan energi dari kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi salah satu pusat produksi minyak dunia. Salah satu titik krusial yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah Selat Hormuz,’’ ujar Hendra kepada Beritasatu.com, Minggu (1/3/2026).

ADVERTISEMENT

Menurut Hendra, salah satu titik krusial yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah Selat Hormuz. Jalur sempit tersebut merupakan salah satu rute distribusi minyak tersibuk di dunia, dengan sekitar 30% perdagangan minyak global melewati kawasan itu.

“Apabila eskalasi konflik mengganggu arus kapal tanker di Selat Hormuz, harga minyak bisa melonjak lebih tinggi karena pasar akan menghitung ulang risiko pasokan,’’ jelasnya.

Ia menambahkan, apabila eskalasi konflik benar-benar menghambat distribusi minyak melalui Selat Hormuz, maka pasar berpotensi melakukan repricing terhadap risiko pasokan global. Kondisi tersebut dapat mendorong harga minyak naik lebih tinggi dan memperbesar tekanan terhadap stabilitas ekonomi dunia.

Lebih lanjut, Hendra menilai dampak kenaikan harga energi tidak hanya dirasakan oleh negara produsen, tetapi juga berpotensi berdampak ke inflasi global, nilai tukar mata uang, hingga arah kebijakan suku bunga di berbagai negara.

‘’Dampaknya bisa menjalar ke inflasi global, nilai tukar, hingga kebijakan suku bunga di berbagai negara,’’ sebut Hendra.

Di samping itu, situasi tersebut dinilai turut memberi tekanan pada pasar modal Indonesia. Hendra melihat risiko dari potensi arus keluar modal (capital outflow) karena investor asing mengurangi eksposur di emerging market, termasuk Indonesia. Kedua, risiko inflasi impor akibat lonjakan harga energi.

Secara teknikal, Hendra melihat IHSG berpotensi bergerak melemah dan menguji level support klasik di 8.133. Apabila level tersebut ditembus, area psikologis 8.000 menjadi support berikutnya. Sementara itu, resistance terdekat berada di 8.300.

Dalam situasi ketidakpastian geopolitik yang meningkat, ia memperkirakan volatilitas pasar keuangan global masih akan berlangsung dalam jangka pendek hingga menengah, seiring pelaku pasar terus mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Defisit Transaksi Berjalan Intai RI Imbas Konflik Iran vs Israel-AS

Defisit Transaksi Berjalan Intai RI Imbas Konflik Iran vs Israel-AS

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT