8 Perusahaan Siap IPO meskipun Ada Sentimen MSCI
Senin, 2 Maret 2026 | 05:44 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) memastikan rencana penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) tetap berlanjut meskipun pasar modal domestik berada dalam fase wait and see akibat tekanan sentimen global.
Hingga akhir Februari 2026, perusahaan mencatat terdapat 7 hingga 8 calon emiten dalam pipeline IPO dengan nilai aset terbesar mencapai Rp 2 triliun hingga Rp 3 triliun.
Direktur Utama KISI Kyoung Hun Nam mengatakan pipeline IPO yang ada relatif stabil karena merupakan proyek jangka panjang yang telah dipersiapkan sejak jauh hari.
“Jumlah perusahaan dalam pipeline KISI saat ini sekitar 7 hingga 8. Hampir 50% pipeline sudah kami realisasikan pada Januari dan Februari, yang sebenarnya dimulai sejak paruh kedua tahun lalu,” ujar Kyoung Hun Nam di Jakarta.
Ia menambahkan berbagai sentimen global seperti isu Morgan Stanley Capital International (MSCI) maupun peringkat kredit global dari Standard & Poor’s (S&P) belum memberikan dampak signifikan terhadap rencana IPO yang sedang berjalan.
Menurut dia, proses IPO memiliki waktu persiapan panjang, minimal 6 bulan hingga 1 tahun sehingga tidak mudah terpengaruh fluktuasi jangka pendek.
“Kalau sentimen memburuk lebih jauh tentu bisa berdampak, tetapi sampai sekarang semua masih berjalan baik,” ujarnya.
Berdasarkan data PT Bursa Efek Indonesia (BEI) per 20 Februari 2026, terdapat 8 perusahaan dalam antrean IPO. Sebanyak 5 perusahaan masuk kategori aset skala besar di atas Rp 250 miliar, sedangkan 3 perusahaan lainnya memiliki aset skala menengah antara Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar.
Sektor usaha calon emiten tersebut meliputi:
- Dua perusahaan sektor barang baku.
- Dua perusahaan sektor keuangan.
- Satu perusahaan sektor transportasi dan logistik.
- Satu perusahaan sektor barang konsumen primer.
- Satu perusahaan sektor energi.
- Satu perusahaan sektor industri.
Hingga periode tersebut, BEI mencatat belum ada perusahaan yang melangsungkan IPO pada 2026 sehingga jumlah perusahaan tercatat di pasar modal Indonesia tetap sebanyak 956 emiten.
KISI mencatat perusahaan-perusahaan yang masuk pipeline IPO berasal dari sektor perbankan, pariwisata, pertambangan, dan infrastruktur. Nilai transaksi terbesar dalam pipeline tersebut diperkirakan mencapai Rp 2 triliun hingga Rp 3 triliun sehingga tergolong sebagai perusahaan beraset besar sesuai ketentuan POJK 53/2017.
“Sektornya perbankan, pariwisata, pertambangan, dan infrastruktur. Nilai terbesar saat ini sekitar Rp 2 triliun hingga Rp 3 triliun,” kata Kyoung Hun Nam.
Selain IPO, KISI juga aktif sebagai arranger penerbitan surat utang. Sepanjang Januari hingga Februari 2026, perusahaan telah menyelesaikan sekitar tujuh penerbitan obligasi dan sejumlah penerbitan susulan masih dalam proses.
Kyoung Hun Nam menilai kondisi pasar modal Indonesia saat ini masih penuh kehati-hatian. Investor menunggu kejelasan beberapa agenda regulasi, termasuk penyelesaian isu dengan MSCI dan arah kebijakan moneter pemerintah ke depan.
“Untuk saat ini pasar masih wait and see. Namun pemerintah berupaya menyelesaikan masalah dengan MSCI dan kemungkinan akan ada sentimen berbeda yang didukung kebijakan moneter,” ujarnya.
Ia optimistis perbaikan sentimen dapat mendorong realisasi IPO lebih besar pada paruh kedua 2026 seiring meningkatnya kepercayaan investor asing maupun domestik terhadap prospek pasar modal Indonesia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
PSEL Makassar Akan Olah Ribuan Ton Sampah Jadi Energi Listrik
MK: Kerugian Negara Ditentukan BPK!
Pilot Hilang, AS Hadapi Tantangan Berat Pencarian
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Salah Bakal Hengkang dari Liverpool, Slot: Jangan Salahkan Saya!




