Menakar Ketahanan Energi RI Saat Selat Hormuz Ditutup Iran
Selasa, 3 Maret 2026 | 20:59 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran menjadi ujian nyata bagi ketahanan energi global. Jalur sempit tersebut selama ini dilalui sekitar 20,1 juta barel minyak per hari atau nyaris seperlima pasokan dunia.
Bagi Indonesia, situasi ini bukan sekadar isu geopolitik, melainkan soal kepastian pasokan, stabilitas harga, hingga beban subsidi negara.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah tidak ingin berspekulasi soal kapan konflik berakhir.
“Sekali lagi saya katakan bahwa ketegangan ini tidak bisa kita meramalkan kapan selesai, bisa cepat, bisa lambat,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di kantor Kementerian ESDM, Selasa (3/3/2026).
Bukan Sekadar Impor, tetapi Ini Soal Ketahanan
Secara langsung, ketergantungan Indonesia terhadap minyak mentah dari Timur Tengah relatif terbatas. Dari total impor crude nasional, hanya sekitar 20%-25% yang berasal dari kawasan tersebut dan melewati Selat Hormuz.
“Setelah kami melakukan detailing, total impor crude kita dari middle east itu kurang lebih hanya sekitar 20% sampai 25%,” kata Bahlil.
Selebihnya, Indonesia mengimpor dari Afrika seperti Angola, dari Amerika Serikat, dan Brasil. Namun, pemerintah menilai ancaman terbesar bukan semata pada volume impor, melainkan pada potensi gangguan berkepanjangan yang dapat mengguncang pasar global.
Jika Perang Berlarut, Apa Dampaknya ke RI?
Pemerintah kini menggeser fokus dari sekadar pengalihan impor ke pendekatan mitigasi menyeluruh. Dalam skenario terburuk, yakni konflik berkepanjangan dan eskalasi lebih luas, maka yang paling terdampak adalah harga minyak dunia dan stabilitas fiskal.
Dalam APBN, asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dipatok US$ 70 per barel. Kini harga bergerak di kisaran US$ 78-US$ 80 per barel.
“Kita harus hati-hati. Ini berdampak pada kenaikan subsidi yang akan ditanggung oleh negara,” ujar Bahlil.
Kenaikan harga memang bisa menambah penerimaan negara dari lifting sekitar 600.000 barel per hari. Namun beban subsidi energi juga berpotensi membengkak jika tren harga tinggi bertahan lama.
Dengan kata lain, skenario terburuk bukan hanya soal pasokan fisik, tetapi tekanan fiskal dan daya beli masyarakat.
Diversifikasi Jadi Kunci Bertahan
Sebagai respons, pemerintah mempercepat diversifikasi sumber pasokan. Sebagian impor crude dari Timur Tengah telah disiapkan untuk dialihkan ke Amerika Serikat dan negara lain.
“Maka apa skenarionya? Sekarang crude yang kita ambil dari middle east sebagian kita alihkan untuk ambil di Amerika supaya ada kepastian ketersediaan crude kita,” jelas Bahlil.
Untuk BBM jenis bensin RON 90, 93, 95, dan 98, impor tidak berasal dari Timur Tengah. Sementara solar juga sudah tidak bergantung pada kawasan tersebut. Artinya, dari sisi distribusi produk jadi, risiko relatif lebih terkendali.
Cadangan Energi Nasional 21 Hari, Cukupkah?
Indonesia memiliki cadangan energi operasional di atas standar minimum nasional 21 hari, dengan kapasitas maksimal storage sekitar 25-26 hari.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




