BI Perlu Intervensi Agresif Agar Rupiah Tetap di Rp 17.000
Senin, 9 Maret 2026 | 17:27 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan karena perang Iran dengan Israel dan AS. Rupiah bahkan hampir menembus level Rp 17.000 per dolar AS.
Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai nilai tukar rupiah masih berpotensi melemah, tetapi pergerakannya diperkirakan tidak akan jauh di atas Rp 17.000 per dolar AS, asalkan Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi agresif.
Pergerakan rupiah belakangan ini dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang belum mereda.
“Seharusnya bisa dijaga di bawah Rp 17.000, asalkan intervensinya memang intervensi yang agresif,” kata Myrdal seperti dilansir dari Antara, Senin (9/3/2026).
Dia menambahkan, bank sentral perlu mempertimbangkan kesinambungan cadangan devisa saat melakukan intervensi di pasar valas, meskipun secara umum kondisi cadangan devisa masih cukup kuat untuk meredam tekanan terhadap rupiah.
Menurut Myrdal, potensi arus keluar modal asing dari pasar saham relatif terbatas. Sementara itu, kepemilikan investor asing di pasar surat utang negara dan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga masih dalam level yang dapat dikelola.
Kondisi tersebut membuat tekanan terhadap cadangan devisa untuk intervensi di pasar valas diperkirakan relatif terbatas. Meski demikian, cadangan devisa tetap bergantung pada arus masuk devisa dari sektor riil, terutama melalui ekspor dan investasi asing langsung (FDI).
Oleh sebab itu, pemerintah perlu mencermati perkembangan kinerja ekspor ke berbagai negara tujuan utama seperti kawasan ASEAN, negara-negara Asia, hingga Amerika Serikat, untuk memastikan arus devisa tetap terjaga.
“Kalau kita lihat dari potensi outflow di pasar saham ataupun di pasar surat utang negara, harusnya cadangan devisa kita aman, asalkan kita masih tetap mendapatkan flow dari sisi ekspor ataupun dari sisi FDI,” kata Myrdal.
Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2026 tercatat sebesar US$ 151,9 miliar, menurun dibandingkan posisi pada akhir Januari 2026 sebesar US$ 154,6 miliar. BI mencatat perkembangan cadangan devisa dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah.
Kondisi ini terjadi di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai respons BI menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi.
Meski menurun, BI memastikan posisi cadangan devisa pada akhir Februari 2026 setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Bank sentral menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
Nilai tukar rupiah di pasar spot sempat menyentuh level Rp 17.010 per dolar AS pada perdagangan Senin (9/3/2026) pagi, sebelum kembali menguat ke kisaran Rp 16.900-an pada siang hari.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
3 Prajurit Gugur, TNI AD Berduka!
Liburan Sambil Belajar Sains Lewat Museum Iptek TMII
Perbaiki Tanggul Irigasi Makam, Warga Palopo Temukan Granat Nanas
3
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
TNI Menunggu Hasil Investigasi Terkait Gugurnya 3 Prajurit di Lebanon




