Harga Emas Melemah hingga Catat Pekan Terburuk dalam 15 Tahun Terakhir
Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:57 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Harga emas global terus mengalami tekanan tajam hingga akhir pekan, mencatat kinerja terburuk dalam 15 tahun terakhir di tengah kekhawatiran dampak ekonomi dari konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Mengutip CNBC, Sabtu (21/3/2026), harga emas spot sempat menguat tipis 0,6% menjadi US$ 4.674,29 per ons troi pada Jumat (20/1/2026) waktu AS berkat aksi beli. kontrak berjangka emas turun 0,7% ke level US$ 4.574,90 per ons troi , setelah sempat menguat di awal perdagangan. Secara mingguan, harga emas anjlok hingga 9,6%, menjadi penurunan terdalam sejak September 2011.
Namun, pada Sabtu (21/3/2026) pagi, harga emas kembali melemah 3,39% ke level US$ 4.492,43 per ons.
Koreksi tajam ini menempatkan emas dalam jalur penurunan terburuk sejak krisis keuangan global 2008. Namun, secara tahunan logam mulia ini masih mencatat kenaikan lebih dari 5% sepanjang 2026.
Tidak hanya emas, harga perak juga tertekan. Kontrak berjangka perak turun lebih dari 2% ke level US$ 69,66 per ons, sekaligus menjadi penutupan terendah sejak Desember. Dalam tiga pekan terakhir, harga perak telah merosot lebih dari 14%.
Gejolak di pasar energi turut memperburuk sentimen investor. Harga minyak sempat melonjak di atas US$ 112 per barel, mencerminkan ketidakpastian global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Tekanan juga menjalar ke pasar saham. Indeks utama di Amerika Serikat seperti Dow Jones dan Nasdaq mendekati fase koreksi setelah terkoreksi hampir 10% dari puncaknya.
Analis dari SP Angel Arthur Parish mengatakan volatilitas ekstrem emas dipicu oleh berakhirnya reli panjang yang terjadi sebelum konflik memanas.
“Harga emas sudah turun signifikan karena momentum perdagangan mulai melemah,” ujarnya.
Ia menambahkan, banyak investor jangka pendek dan dana spekulatif mulai keluar dari pasar setelah sebelumnya masuk saat tren kenaikan harga.
Sementara itu, Chief Investment Officer BRI Wealth Management Toni Meadows menilai pergerakan emas lebih dipengaruhi tren jangka panjang dibanding sentimen jangka pendek.
“Emas tidak selalu menjadi lindung nilai harian terhadap aset berisiko. Pergerakannya lebih ditentukan oleh tren jangka panjang,” jelasnya.
Sebelumnya, emas dan perak sempat mencatat reli besar sepanjang 2025, masing-masing melonjak 66% dan 135%. Namun memasuki 2026, volatilitas meningkat seiring dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




