ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Ekonomi Tiongkok Melemah, Bisnis Airline Asia Pasifik Masih Kuat

Jumat, 11 Desember 2015 | 19:17 WIB
TM
B
Penulis: Tri Murti | Editor: B1
Foto arsip menunjukkan logo International Air Transport Association (IATA) di Kuala Lumpur pada 8 Juni 2009. IATA pada Kamis (10/12) menyatakan, rendahnya harga minyak mentah dan kuatnya permintaan akan mendorong laba para maskapai global lagi sepanjang 2016.
Foto arsip menunjukkan logo International Air Transport Association (IATA) di Kuala Lumpur pada 8 Juni 2009. IATA pada Kamis (10/12) menyatakan, rendahnya harga minyak mentah dan kuatnya permintaan akan mendorong laba para maskapai global lagi sepanjang 2016. (Reuters/Zainal Abd Halim/File photo)

Jenewa- Laba maskapai Asia Pasifik diperkirakan tumbuh dari US$ 5,8 miliar pada 2015 menjadi  US$ 6,6 miliar pada 2016. Secara keseluruhan laba per penumpang tahun 2016 diperkirakan US$ 5,13 di bawah pencapaian laba maskapai di Amerika Serikat dan Eropa.

"Meskipun perekonomian Tiongkok melambat, bisnis perjalanan udara masih kuat. Maskapai di kawasan ini diuntungkan lebih banyak dari dampak penurunan harga minyak," kata Director General and CEO International Air Transport Association (IATA) Tony Tyler seperti dikutip dari siaran pers, Kamis (10/12).

Namun demikian, pelemahan pendapatan kargo di kawasan ini diperkirakan  masih berlanjut. Di sisi lain, pertumbuhan kapasitas penumpang di Asia Pasifik bakal meningkat dari 6% pada 2015 menjadi 8,4% pada 2016. Hal itu menyusul masuknya pesawat-pesawat baru dalam jumlah besar untuk mengakomodasi pertumbuhan pasar di emerging market Indonesia, India, dan Tiongkok.

Sementara itu, IATA juga memperkirakan pertumbuhan laba bersih industri penerbangan global sebesar 5,1% menjadi US$ 36,3 miliar. Selain itu lembaga yang menaungi 83% perusahaan penerbangan dunia itu menaikkan predikasi laba bersih industri ini pada 2015 menjadi U$ 33 miliar atau naik 4,6%, dibanding perkiraan Juni lalu sebesar US$ 29,3 miliar.

ADVERTISEMENT

Penguatan kinerja industri penerbangan global tahun depan dipicu oleh kombinasi beberapa faktor, yakni rendahnya harga minyak dunia, kenaikan permintaan jasa perjalanan, menguatnya perekonomian di beberapa wilayah kunci, serta keberhasilan upaya efisiensi. "Perkiraan harga minyak untuk jenis Brent tahun 2015 yang sebesar US$ 55 per barel dan US$ 51 per barel pada 2016 akan memberikan kenaikan laba, kendati penguatan tesebut akan moderat di beberapa pasar akibat apresiasi dolar AS," papar dia

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon