2013, Harga Minyak Bisa US$ 230 Per Barel
Selasa, 27 Maret 2012 | 13:52 WIB
Untuk pertama kali dalam 40 tahun terakhir, AS jadi net eksporter minyak, maka dia senang naikin harga.
Pengamat ekonomi dari EC Think, Aviliani, memperkirakan harga minyak mentah (Indonesia Crude Price/ICP) bisa menembus US$ 230 per barel pada 2013 mendatang, dibandingkan ICP saat ini dikisaran US$ 128 per barel.
Faktor geopolitik menjadi pemicu lonjakan harga tersebut.
"Harga minyak mentah itu cenderung naik dan tak pernah bergerak turun," kata Aviliani dalam diskusi dengan wartawan di Kantor EC-Think, Jakarta, hari ini.
Dia mengatakan, faktor geopolitik yang dimaksud adalah ketegangan antara Iran dengan negara-negara Barat, seperti Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa lantaran Iran diduga mempunyai proyek senjata nuklir.
Akibatnya, negara pengekspor minyak mentah terbesar kedua negara anggota OPEC ini diberikan sanksi.
"Sekalipun ada rencana negara-negara industri melepas stok minyak mentah strategis demi menurunkan harga minyak, pengaruhnya tidak akan signifikan. Kalau pun harga minyak turun hanya sesaat saja, kemudian dia (harga minyak) akan naik lagi," kata Aviliani.
Lonjakan harga ini kata dia, diperburuk dengan menipisnya suplai minyak dunia seiring berkurangnya produksi sumur-sumur minyak. Bahkan China, kata dia, sebagai konsumen energi terbesar di dunia meningkatkan cadangan minyaknya.
"Otomatis suplai minyak dunia pun turun. Alhasil permintaan dan penawaran minyak mentah tidak berimbang," kata wanita yang menjabata sebagai komisaris Bank Rakyat Indonesia (BRI) ini.
Pengamat Ekonomi EC Think Iman Sugema menambahkan, faktor penentu geopolitik diawali dari AS. "Untuk pertama kali dalam 40 tahun terakhir, AS jadi net eksporter minyak, maka dia senang naikin harga. Caranya, supaya harga naik ancamlah Iran," tandas Iman.
Pengamat ekonomi dari EC Think, Aviliani, memperkirakan harga minyak mentah (Indonesia Crude Price/ICP) bisa menembus US$ 230 per barel pada 2013 mendatang, dibandingkan ICP saat ini dikisaran US$ 128 per barel.
Faktor geopolitik menjadi pemicu lonjakan harga tersebut.
"Harga minyak mentah itu cenderung naik dan tak pernah bergerak turun," kata Aviliani dalam diskusi dengan wartawan di Kantor EC-Think, Jakarta, hari ini.
Dia mengatakan, faktor geopolitik yang dimaksud adalah ketegangan antara Iran dengan negara-negara Barat, seperti Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa lantaran Iran diduga mempunyai proyek senjata nuklir.
Akibatnya, negara pengekspor minyak mentah terbesar kedua negara anggota OPEC ini diberikan sanksi.
"Sekalipun ada rencana negara-negara industri melepas stok minyak mentah strategis demi menurunkan harga minyak, pengaruhnya tidak akan signifikan. Kalau pun harga minyak turun hanya sesaat saja, kemudian dia (harga minyak) akan naik lagi," kata Aviliani.
Lonjakan harga ini kata dia, diperburuk dengan menipisnya suplai minyak dunia seiring berkurangnya produksi sumur-sumur minyak. Bahkan China, kata dia, sebagai konsumen energi terbesar di dunia meningkatkan cadangan minyaknya.
"Otomatis suplai minyak dunia pun turun. Alhasil permintaan dan penawaran minyak mentah tidak berimbang," kata wanita yang menjabata sebagai komisaris Bank Rakyat Indonesia (BRI) ini.
Pengamat Ekonomi EC Think Iman Sugema menambahkan, faktor penentu geopolitik diawali dari AS. "Untuk pertama kali dalam 40 tahun terakhir, AS jadi net eksporter minyak, maka dia senang naikin harga. Caranya, supaya harga naik ancamlah Iran," tandas Iman.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




