Laba Bersih Kuartal-III BNI Tumbuh 28,7 persen
Kamis, 13 Oktober 2016 | 17:05 WIB
Jakarta - Laba bersih PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI/BBNI) pada kuartal III tahun ini tumbuh 28,7 persen menjadi sebesar Rp 7,72 triliun dibandingkan periode yang sama tahun 2015.
"Pertumbuhan laba yang cukup kuat sebesar 28,7 persen tersebut terbentuk di tengah kondisi perekonomian yang menantang, dimana perekonomian pada tahun 2016 diprediksi hanya tumbuh 5,1 persen dan di saat pertumbuhan laba bersih di industri perbankan hanya mampu mencapai 9,8 persen," kata Direktur Utama BNI Achmad Baiquni di Jakarta, Kamis (13/10).
Kenaikan laba bersih, sambungnya antara lain ditopang oleh kinerja penyaluran kredit, sehingga mendorong pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 15,0 persen.
BNI mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp 372,02 triliun pada kuartal III 2016 atau meningkat 21,1 persen, jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan kredit di industri yang mencapai 7,6 persen per Agustus 2016.
Baiquni menjelaskan, strategi yang dilakukan manajemen BNI untuk mendorong pertumbuhan kredit diatas industri yakni menggali potensi pasar pembiayaan BUMN dengan fokus pada proyek infrastruktur dan sektor industri yang memiliki risiko rendah dan terkontrol, mengoptimalkan jaringan dan outlet untuk mampu menggarap potensi pasar yang ada, menggali potensi supply chain debitur korporasi.
Terkait komposisi, penyaluran kredit BNI ke Sektor Business Banking masih menjadi yang terbesar dengan komposisi 73,0 persen dari total kredit atau sebesar Rp 271,68 triliun. Aliran kredit ke Sektor Business Banking ini tumbuh 23,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2015. Pada sektor Business Banking ini, kredit BNI disalurkan ke segmen Korporasi (sebanyak 24,3 persen), kredit BUMN (19,1 persen), lalu ke segmen Menengah (16,3 persen), dan segmen Kecil (13,3 persen).
Sementara, untuk meningkatkan penyaluran kredit ke segmen korporasi, manajemen telah melaksanakan paduan strategi yaitu, fokus pada pembiayaan proyek infrastruktur dan BUMN. Lalu fokus pada pembiayaan sektor berisiko rendah seperti konstruksi, pertanian, serta sektor listrik, gas, dan air. Serta, tidak melakukan ekspansi ke sektor yang berisiko cukup tinggi karena faktor eksternal, seperti sektor minyak dan pertambangan.
Disamping kredit ke Sektor Business Banking, BNI juga mengucurkan pembiayaan ke Sektor Consumer Banking dengan alokasi 16,9 persen dari total kredit, terutama pada Kredit Kepemilikan Rumah (BNI Griya), Kartu Kredit, dan Fleksi. Kredit ke Sektor Consumer Banking tumbuh 14,4 persen. "Pertumbuhan ini diraih dengan dua strategi utama, yaitu optimalisasi potensi pembiayaan melalui produk payroll nasabah dari debitur institusi melalukan optimalisasi cross sell," kata Baiquni.
Lebih lanjut, kata dia, laba BNI juga tumbuh berkat pendapatan berbasis komisi (fee based income) yang meningkat 20 persen. Serta, pendapatan bunga bersih (NII) yang naik 15 persen menjadi Rp 21,87 triliun. Adapun, net interest margin (NIM) terjaga di level 6,2 persen.
Laba, tambahnya juga ditopang oleh pendapatan non bunga yang naik 20,0 persen menjadi Rp 6,24 triliun yang didukung oleh kenaikan fee based income dari trade finance, pengelolaan rekening, dan bancassurance.
Di sisi lain, aset BNI pada kuartal III tembus Rp 571,51 triliun atau tumbuh 25,2 persen. BNI pun dapat menghimpun aset dilevel rendah risiko yang ditandai dengan rendahnya Gross NPL, yaitu 3,1 persen. Aset berisiko rendah ini terhimpun karena kemampuan BNI dalam melakukan mitigasi risiko kredit di berbagai sektor usaha. Adapun, loan to deposit ratio (LDR) naik dari 87,7 persen menjadi 92,8 persen. Dengan posisi tingkat kecukupan permodalan (capital adequacy ratio/CAR) naik dari 17,4 persen menjadi 18,4 persen.
Lebih lanjut, Baiquni menjelaskan, pada kuartal III, BNI mencatat Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp 401,88 triliun atau meningkat 15 persen dengan dana murah (CASA) 59,7 persen.
Pada saat yang sama, BNI terus mendorong terjadinya efisiensi, yang terlihat dari Cost to Income Ratio (CIR) pada kuartal III tahun 2016 sebesar 42,3 persen menurun dibandingkan posisi kuartal III tahun 2015 sebesar 43,4 persen. "Peningkatan transaksi melalui channel-channel elektronik (e-banking) dan pengembangan digital banking merupakan langkah BNI dalam menciptakan efisiensi dan mendorong pertumbuhan CASA," ucap dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




