ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Perusahaan Korsel Investasi US$ 127 Juta di Sektor Kimia

Rabu, 16 November 2016 | 21:44 WIB
YW
B
Penulis: Yosi Winosa | Editor: B1
Menteri Perdagangan Thomas Lembong
Menteri Perdagangan Thomas Lembong (Tokoh Indonesia )

Jakarta - Minat investasi Korea Selatan (Korsel) di Indonesia semakin bertambah dan progresif, seiring munculnya investor Korsel di bidang industri kimia yang akan melakukan perluasan investasi senilai US$ 127 juta. Setelah sebelumnya muncul identifikasi minat dari salah satu investor negeri ginseng ini di sektor properti.

Komitmen ini muncul ketika Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong menjadi Special Guest Speaker pada forum pertemuan antara perusahaan produsen baja Korea Selatan, Pohang Iron and Steel Company (POSCO) dengan para pelanggannya Posco Global Early Vendor Involvement (EVI) Forum 2016, yang diadakan di Songdo, Incheon, Korea Selatan belum lama ini.

Melalui pertemuan dengan Kepala BKPM, salah satu investor Korsel yang bergerak di bidang industri manufaktur yang sebelumnya telah berinvestasi di Indonesia ini menyampaikan rencananya untuk memperluas bidang usaha, berupa turunan dari produk yang dihasilkan. Seperti disampaikan oleh investor tersebut, produk-produk yang akan dihasilkan dari rencana investasi tersebut masih memiliki nilai importasi yang tinggi, yaitu sebanyak 90%.

Ada kekhawatiran sebelum mereka merealisasikan rencana investasi tersebut, yaitu masuknya berbagai produk asal Tiongkok dengan harga yang jauh lebih murah dari produk di Indonesia, sehingga mereka berharap banyak pada kebijakan pemerintah untuk membantu perusahaan-perusahaan yang sudah berinvestasi agar dapat terus berkembang dengan pesat di tengah kondisi iklim penanaman modal yang kondusif.

ADVERTISEMENT

Industri Manufaktur
Selanjuthnya Kepala BKPM Thomas Lembong mengatakan, pemerintahan Jokowi-JK memprioritaskan pertumbuhan industri manufaktur yang dapat memberikan nilai tambah yang signifikan bagi kondisi perekonomian di Indonesia.

Selain itu, baja dan kimia merupakan komponen bahan baku utama bagi sebagian besar industri lainnya, sehingga pertumbuhan industri baja dan kimia dapat memberi kontribusi besar bagi peningkatan kekuatan perekonomian, karena berfungsi sebagai tulang punggung sektor manufaktur.

"Pemerintah akan membantu untuk memfasilitasi rencana investasi tersebut, terlebih lagi produk yang akan dihasilkan adalah substitusi impor," kata dia dalam keterangan tertulis yang diterima, di Jakarta, Selasa (15/11).
Terkait kekhawatiran mengenai membanjirnya produk asal Tiongkok yang dijual dengan harga sangat murah, kata dia, tentunya akan dikaji kembali mekanisme pengendalian importasi produk tersebut, mengingat produksi produk sejenis sudah dilakukan di dalam negeri.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon