ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

BPS: Defisit Neraca Perdagangan Agustus US$ 1,02 Miliar

Senin, 17 September 2018 | 12:16 WIB
FB
AK
DR
FB
Petugas memindahkan pembatas di Indonesia Kendaraan Terminal, di Pelabuhan Tanjung Priok, Rabu (12/9/2018). lahan tersebut menempatkan IKT sebagai operator terminal terbesar ke-27 dunia dan terbesar ketiga di Asia Tenggara.
Petugas memindahkan pembatas di Indonesia Kendaraan Terminal, di Pelabuhan Tanjung Priok, Rabu (12/9/2018). lahan tersebut menempatkan IKT sebagai operator terminal terbesar ke-27 dunia dan terbesar ketiga di Asia Tenggara. (beritasatu photo/mohammad defrizal)

Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit neraca perdagangan Agustus sebesar US$ 1,02 miliar, menyusut dibandingkan defisit perdagangan Juli lalu sebesar US$ 2 miliar. Defisit dipicu oleh defisit sektor migas US$1,66 miliar, walaupun sektor nonmigas surplus US$0,64 miliar. Sejak awal tahun hingga Agustus, neraca perdagangan mengalami defisit US$ 4,09 miliar.

"Terjadi defisit US$1,02 miliar, dengan catatan defisit ini jauh lebih kecil dari bulan lalu yang mencapai US$ 2,03 miliar. Kami berharap ke depan tidak lagi terjadi defisit dan bisa surplus," ujar Kepala BPS Kecuk Suhariyanto dalam Konferensi Pers di kantornya pada Senin (17/9).

Nilai ekspor Indonesia Agustus 2018 mencapai US$ 15,82 miliar atau menurun 2,90 persen dibanding ekspor Juli 2018. Sementara dibanding Agustus 2017 meningkat 4,15 persen. Nilai impor Indonesia Agustus 2018 mencapai US$16,84 miliar atau turun 7,97 persen dibanding Juli 2018, sebaliknya jika dibandingkan Agustus 2017 meningkat 24,65 persen.

Ekspor nonmigas Agustus 2018 mencapai US$14,43 miliar, turun 2,86 persen dibanding Juli 2018. Sementara dibanding ekspor nonmigas Agustus 2017, naik 3,43 persen. Impor nonmigas Agustus 2018 mencapai US$13,79 miliar atau turun 11,79 persen dibanding Juli 2018, namun meningkat 19,97 persen dibanding Agustus 2017.

ADVERTISEMENT

Secara kumulatf, nilai ekspor Indonesia Januari–Agustus 2018 mencapai US$120,10 miliar atau meningkat 10,39 persen dibanding periode yang sama tahun 2017, sedangkan ekspor nonmigas mencapai US$108,69 miliar atau meningkat 10,02 persen.

"Penurunan ekspor dari Juli ke Agustus disebabkan oleh dua hal yaitu migas dan nonmigas. Penurunan ekspor migas dari Juli ke Agustus 3,27 persen (dari US$ 1.431,3 juta menjadi US$ 1.384,6 juta), tapi kalau dilihat ekspor minyak mentah masih naik 46 persen (menjadi US$564,5 juta), sementara ekspor nonmigas turun 2,86 persen (menjadi US$14.433,5 juta)," ujar Suhariyanto.

Penurunan terbesar ekspor nonmigas Agustus 2018 terhadap Juli 2018 terjadi pada bahan bakar mineral sebesar US$380,7 juta (16,25 persen), sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada lemak dan minyak hewan/nabat sebesar US$61,3 juta (3,47 persen).

Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari–Agustus 2018 naik 6,13 persen dibanding periode yang sama tahun 2017, demikian juga ekspor hasil tambang dan lainnya naik 34,79 persen, sementara ekspor hasil pertanian turun 9,60 persen.

Ekspor nonmigas Agustus 2018 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$2,11 miliar, disusul Amerika Serikat US$1,60 miliar dan Jepang US$1,48 miliar, dengan kontribusi ketganya mencapai 35,95 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar US$1,52 miliar.

Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari–Agustus 2018 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$20,22 miliar (16,83 persen), diikut Jawa Timur US$12,74 miliar (10,61 persen) dan Kalimantan Timur US$12,18 miliar (10,14 persen).

Sedangkan impor migas Agustus 2018 mencapai US$3,05 miliar atau naik 14,50 persen dibanding Juli 2018 dan meningkat 51,43 persen dibanding Agustus 2017.

Peningkatan impor nonmigas terbesar Agustus 2018 dibanding Juli 2018 adalah golongan susu, mentega, telur US$48,6 juta (94,19 persen), sedangkan penurunan terbesar adalah golongan mesin dan pesawat mekanik sebesar US$296,3 juta (11,31 persen).

"Ada penurunan impor dalam bentuk konsumsi bahan baku dan barang modal, khususnya untuk impor apel segar," ujar Suhariyanto.

Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Agustus 2018 ditempat oleh Tiongkok dengan nilai US$28,78 miliar (27,56 persen), Jepang US$11,98 miliar (11,47 persen), dan Thailand US$7,29 miliar (6,98 persen). Impor nonmigas dari ASEAN 20,47 persen, sementara dari Uni Eropa 9,18 persen.

Nilai impor semua golongan penggunaan barang baik barang konsumsi, bahan baku/penolong dan barang modal selama Januari–Agustus 2018 mengalami peningkatan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing 27,38 persen, 23,24 persen, dan 29,24 persen.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon