ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Kasih Insentif, Kemenperin Kawal Proyek industri Dasar

Selasa, 14 Agustus 2012 | 13:17 WIB
AB
B
Penulis: Antara/ Whisnu Bagus | Editor: B1
Ilustrasi Industri Alumunium
Ilustrasi Industri Alumunium (Antara)
Selama ini, bahan baku untuk sektor logam dasar dan kimia dasar masih diimpor.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan mengawal ketat proyek-proyek industri dasar untuk memacu pertumbuhan industri hulu, baik logam dasar maupun industri kimia dasar.

Pemerintah memberikan insentif pajak dan pembebasan bea masuk barang modal.

"Ini agar sektor industri hulu baik logam dasar seperti baja, aluminium, nikel dan tembaga, maupun industri kimia dasar seperti petrokimia tumbuh pesat," kata Menteri Perindustrian M.S Hidayat di Jakarta, hari ini.

Dia mengatakan, saat ini proyek-proyek strategis yang sedang berjalan antara lain industri besi baja, industri petrokimia dan pupuk.
 
Pada sektor besi baja, PT Krakatau Posco telah memulai pembangunan tahap I pabrik di Cilegon dengan kapasitas 3 juta ton per tahun senilai US$2,8 miliar. 

Kemudian PT Batulicin Steel telah memulai pembangunan pabrik tahap I berkapasitas 1 juta ton per tahun dan PT Ferronikel Halmahera Timur sudah menanamkan modalnya US$1,6 miliar dengan kapasitas produksi mencapai 27.000 ton per tahun.

Pada industri petrokimia, lanjut Hidayat, PT Petrokimia Butadiene Indonesia telah berinvestasi sebesar Rp1,5 triliun dan PT Chandra Asri menanamkan modalnya sebesar Rp1,7 triliun. Selain itu, pemerintah akan merevitalisasi lima pabrik pupuk urea milik BUMN dengan investasi US$3,7 miliar.
 
"PT Petrokimia Butadiene Indonesia memiliki kapasitas 150.000 ton per tahun, PT Chandra Asri kapasitasnya 1 juta ton per tahun dan lima pabrik pupuk urea BUMN memiliki kapasitas 3,5 juta ton per tahun. Proyek-proyek tersebut akan selesai pada 2014," tuturnya.

Hidayat menuturkan, dengan realisasi pembangunan di sektor industri logam dasar maupun industri kimia dasar, maka sektor-sektor tersebut tidak akan kesulitan bahan baku.
 
"Selama ini, bahan baku untuk sektor logam dasar dan kimia dasar masih diimpor dan membuat biaya produksi semakin tinggi," ungkapnya.
 
 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon