NextGen Summit 2021
Rhenald Kasali: Kunci Sukses di Abad 21, Harus Bisa Belajar Sendiri
Selasa, 6 April 2021 | 16:45 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Guru Besar Manajemen Universitas Indonesia (UI) dan Pendiri Rumah Perubahan, Prof Rhenald Kasali memaparkan kunci keberhasilan bagi generasi masa kini di era terkini.
"Kunci keberhasilan manusia di abad 21 itu, manusianya harus bisa belajar sendiri. Kapan saja, dimana saja dan belajarnya seumur hidup. Kalau sudah selesai menjadi sarjana, dokter dan lainnya, maka harus belajar sendiri untuk terus berkembang," kata Rhenald Kasali dalam acara NextGen Summit 2021 sesi diskusi Mencetak Generasi Tangguh yang digelar Beritasatu Media Holdings, Selasa (6/4/2021).
Menurut Rhenald, generasi z dan milenial harus tahu posisinya berada dimana dan jangan pernah mengandalkan kemampuan orang lain. Untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar, manusia dituntut cepat belajar. Menurutnya, bila menemukan masalah, harus dengan cepat diselesaikan, baik diri sendiri maupun memerlukan bantuan pihak lain untuk menyelesaikannya.
"Namun keterampilan yang terpenting dalam hidup ini sekarang adalah keterampilan untuk fokus. Hal ini dikarenakan kita hidup di tengah media sosial (medsos), sehingga membuat kita berkurang titik fokusnya dan terpecah. Kontrol itu ada dalam diri kita sendiri. Selesaikan satu pekerjaan atau masalah dahulu, jangan ke hal yang lain," ungkap dia.
Diakui, pendidikan di masa kecil sangat penting dan berguna kedepanya. Hal itu tidak cukup sekedar mata pelajaran matematika, bahasa dan lainnya, tetapi kemampuan berpikir, bahasa yang digunakan positif, motorik dan estetika membangun kehidupan yang lebih baik dan indah.
"Jadi kemampuan untuk melakukan sesuatu estetika penting apakah kerjanya hingga tuntas atau selesai. Itulah porsi orangtua yang mendidik anaknya saat kecil. Bagaimana bisa membuat sesuatu tanpa merusak karya orang lain dan mampu membersihkan sesuatu dan merapikan," jelasnya.
Setiap kali ada persoalan, lanjut Rhenald, seseorang kadang selalu melihat dari sisi problem. Hal ini berbeda halnya dengan pihak lain atau anak lain yang mampu melihat dari sisi kacamata menemukan solusi.
"Jadi hal ini pun perlu dilatih sikap bertanggungjawab atas langkah yang kita ambil. Bila kita tidak bisa menyelesaikannya, bagaimana kita mencari bantuan kepada siapa, guna mengatasi atau mencari solusi atas masalah yang dihadapi. Ini artinya ada pengetahuan yang terus bertahan, dan mana pengetahuan yang tak bisa digunakan lagi," ujarnya.
Ditegaskan terkadang manusia suka lupa bahwa memerlukan sesuatu yang melekat pada dirinya, seperti estetika, bahasa yang baik, teman yang respek, nama baik, prestasi yang diaku pihak lain, sebuah karya.
"Itu adalah intangible yang menjadi personal brand, skill, daya juang. Itu yang harus diinvestasikan daripada tangible aset yang hanya sekedar bisa didapatkan direngkuh, lihat, padahal pendidikan itu bukan ijazah atau gelarnya dan tampak secara kasat mata, tetapi sesuatu yang melekat pada diri manusia itu sendiri," urai profesor tersebut.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




