Cari Investor Strategis, Jasa Marga Tawarkan Diri ke INA
Jumat, 28 Mei 2021 | 14:43 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - PT Jasa Marga (Persero) Tbk sudah membuka komunikasi dengan para investor strategis termasuk Indonesia Invesment Authority (INA) terkait divestasi untuk menjaga struktur permodalan perusahaan dalam jangka pendek.
"Pada prinsipnya, Jasa Marga sudah membuka diri sejak tahun 2017 terkait investor strategis. Nanti kita tunggu saja kabarnya. Kita tetap open communication dengan semua investor, termasuk salah satunya adalah INA," ucap Corporate Finance Group Head Jasa Marga Eka Setya Adrianto, Kamis (27/5/2021).
Adri mengungkapkan sejak 2017, Jasa Marga sudah melakukan berbagai inisiatif diawali dengan penerbitan debt recycling atau asset recycling seperti sekuritisasi, project bond, kontrak investasi kolektif infrastruktur, reksa dana penyertaan terbatas (RDPT) maupun divestasi langsung kepada investor strategis.
"Jadi, pada prinsipnya kalau ngomongin divestasi tentunya di tengah development, selanjutnya tentu kita sebagai perusahaan yang membangun jalan tol tidak akan diam. Kita akan terus berkembang. Untuk melakukan, perkembangan tentu yang paling penting kita harus jaga capital structure," ujarnya.
"Kalau kinerja jangka panjang, kita sangat optimistis bagus. Tapi tekanan kinerja jangka pendek perlu dijaga, salah satunya melalui divestasi. Investornya bisa INA, bisa yang lain kita membuka peluang," katanya.
Pada kesempatan tersebut, Adri juga menyatakan, meski Jasa Marga mengalami tekanan pendapatan di masa Pandemi Covid-19 akibat kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), di sisi yang lain Perseroan juga diuntungkan dengan situasi market saat ini yang mana likuiditas relatif baik. Sehingga hal itu menyebabkan penurunan tingkat suku bunga yang signifikan.
"Jadi, sebagian besar tingkat suku bunga turun di level 1 sampai 2. Di mana, kalau dilihat, cost terbesar kita adalah financing cost atau beban suku bunga. Sehingga kita optimistis dengan seimbangnya penurunan pendapatan dan penurunan beban bunga, kita dapat menjaga kinerja," jelas dia.
Selain itu, Jasa Marga juga memiliki peluang divestasi seperti yang sudah dilakukan di tahun-tahun sebelumnya. Karena divestasi akan memonetisasi aset yang selama ini dicatat sebagai nilai cost.
"Kalau kita jual lebih mahal tentu akan ada potential gain. Itu juga menjadi potensi upside dari kinerja Jasa Marga," terangnya.
Sementara untuk hal lain di luar bisnis jalan tol seperti Transit Oriented Development (TOD) saat ini kondisinya sedang tidak mudah. Untuk itu, TOD diharapkan dapat memberi kontribusi positif tapi tidak dalam waktu dekat. Sebab, fokus utama Jasa Marga saat ini adalah jalan tol. Apalagi, sejak dilakukan otomatisasi pada Oktober 2017 telah menunjukkan perseroan sekarang jauh lebih fleksibel dalam hal kontrol biaya.
Dengan revenue tahun 2020 yang anjlok lebih dari Rp 1 triliun, Adri menuturkan, perusahaan tetap bisa mengimbanginya dengan melakukan control cost baik dari sisi financing cost maupun sisi operating cost. Alhasil, dengan penurunan pendapatan yang signifikan, EBITDA margin relatif dapat dipertahankan di level 62%.
"Jadi strategi yang sama pada 2020 akan kita lakukan di tahun 2022 ini seiring dengan kondisi terkini," papar Adri.
Ditambah, beberapa waktu ini pendapatan perusahaan juga sudah jauh lebih baik dibanding tahun lalu, khususnya di ruas-ruas Tol Trans Jawa. Adri menilai, hal ini disebabkan oleh adanya alih transportasi yang semula banyak menggunakan pesawat seperti pada trafik-trafik menuju Semarang yang berjarak sekitar 400 km dari Jakarta. Namun, ketika melewati jalan tol, pengguna kendaraan hanya membutuhkan 4 sampai 5 jam hingga sampai Semarang-Solo.
"Jadi ada transfer pengguna yang tadinya banyak menggunakan pesawat, sekarang banyak menggunakan kendaraan. Sehingga peningkatan pendapatan banyak terjadi di ruas-ruas Trans Jawa," ungkapnya.
Adapun ruas-ruas lain khususnya yang terkait traveling misalnya Bali atau Tol Sedyatmo, sejauh ini masih membutuhkan waktu untuk recovery karena penerbangan sendiri ataupun traveler relatif jauh lebih sedikit dibanding sebelumnya.
Beroperasinya Tol Baru
Lebih jauh, Adri menuturkan, sebagaimana diketahui, pendapatan tol saat ini sangat sulit untuk diprediksi. Kendati demikian, perusahaan tetap optimistis pendapatan tahun ini harus lebih tinggi daripada tahun sebelumnya.
Pasalnya, hal ini seiring dengan banyaknya tol baru yang dioperasikan Jasa Marga seperti Ruas Tol Jakarta - Cikampek Elevated, kemudian Ruas Tol Cinere - Serpong yang diharapkan dalam waktu dekat mulai bertarif, dan Ruas Tol Kunciran - Cengkareng. Dengan begitu, pendapatan seharusnya tumbuh.
"Di akhir tahun 2020, kita memang target utamanya Jakarta Outer Ring Road (JORR) 2 selesai. Nanti, kita lihat Seksi 1 Tol Balikpapan Samarinda (Balsam) atau Seksi 5 Tol Balsam, kita harapkan dalam waktu dekat dapat beroperasi sepenuhnya," tutupnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




