Imbal Hasil Turun, Harga SUN Diperkirakan Kembali Menguat
Minggu, 6 Juni 2021 | 15:54 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Pergerakan harga surat utang negara (SUN) pada pekan depan diperkirakan menguat seiring menurunnya imbal hasil (yield) tenor 10 tahun ke level 6,3% sampai 6,7%.
Head of Economic Research Pefindo Fikri C Permana menjelaskan, penguatan ini akan dibayangi oleh meningkatnya Purchasing Manager Index (PMI) Manufacturing Indonesia dan tingkat inflasi yang terjaga. "Saya pikir-pikir optimisme di sektor riil juga akan sangat positif," jelasnya kepada Investor Daily, Minggu (6/6/2021).
Dia mengatakan, penyerapan surat utang negara dan global bond yang cukup baik pada pasar primer dua pekan lalu. Meski demikian, Fikri melanjutkan, peningkatan US Treasury, inflasi Amerika Serikat (AS) dan jobless claims yang lebih tinggi dari ekspektasi dapat memberikan tekanan terhadap harga SUN.
"Saya harap pekan depan sentimen dari global ini masih bisa terkendali, di sisi lain sentimen yang mempengaruhi harga SUN yakni kenaikan harga minyak yang dikhawatirkan mendorong kenaikan inflasi global dan memberikan penguatan tambahan mata uang AS," ujarnya.
Untuk diketahui, pada Selasa (8/6/2021), pemerintah berniat menggelar lelang surat utang negara dengan target indikatif Rp 30 triliun dan target maksimal yakni Rp 45 triliun. Adapun penerbitan ini dilakukan pemerintah untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2021.
Penerbitan ini dibagi dalam enam seri, yakni SPN12210909 dengan tenor 9 September 2021, lalu SPN12220527 memiliki tenor 27 Mei 2022, FR0086 tenor 15 April 2026, FR0087 15 tenor Februari 2031, kemudian FR008815, FR0083, FR0089, masing-masing bertenor 15 Juni 2036, 15 April 2040 dan 15 Agustus 2051.
Fikri optimis, pemerintah mampu menyerap target indikatif maksimal yakni Rp 45 triliun, sejalan dengan kebutuhan pendanaan yang besar dari Kementerian Keuangan pada kuartal II 2021. Adapun investor yang berminat adalah sektor perbankan lantaran kondisi penyaluran kredit yang masih belum bertumbuh signifikan.
Dari sisi investor asing, lelang kali ini cukup menarik untuk dikoleksi lantaran stabilitas rupiah dan real yield-nya yang sangat menarik dibandingkan negara peers seperti India ataupun Thailand. Pada lelang kali ini, Fikri memproyeksikan asing dapat masuk berkisar hingga Rp 10 hingga Rp 20 triliun.
Secara terpisah, Analis Pilarmas Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, pekan depan pasar obligasi bertenor 5 tahun akan bergerak pada rentang 5,45% – 5,55%, 10 tahun di 6,40% – 6,45%, 15 tahun di 6,33%-6,45% dan 20 tahun di 7,0%-7,10%.
Menurut Nico, kesuksesan lelang obligasi sukuk pekan lalu diharapkan dapat mendorong lelang obligasi konvensional dan mampu mendatangkan total penawaran di atas Rp 50 triliun. Perinciannya obligasi jangka pendek sebanyak 65%, jangka menengah 10%, dan jangka panjang 25%.
"Berbicara mengenai optimisme pemulihan ekonomi, pelaku pasar dan investor akan sangat menantikan pertemuan FOMC meeting yang akan terjadi bulan ini. Ditambah dengan menyebarnya kabar yang mengatakan bahwa The Fed akan melakukan diskusi mengenai rencana mengurangi portfolio obligasi corporate bond-nya, meskipun tidak dalam jumlah yang besar," pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




