Didukung 63 Juta Nasabah, BNI Terus Perkuat Digitalisasi
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Didukung 63 Juta Nasabah, BNI Terus Perkuat Digitalisasi

Kamis, 22 Juli 2021 | 16:44 WIB
Oleh : Nida Sahara / FMB

Jakarta, Beritasatu.com - Didukung 63 juta nasabah, di antaranya 9 juta nasabah mobile banking, PT BNI Tbk terus memperkuat digitalisasi untuk melayani para nasabah penyimpan dan peminjam. Saat ini, transaksi di kantor cabang tinggal 2%. Selebihnya, nasabah melakukan transaksi lewat anjungan tunai mandiri (ATM) dan layanan digital BNI. Penggunaaan transaksi digital terus meningkat, sehingga dalam waktu dekat, mayoritas transaksi dilakukan nasabah secara digital.

Sementara itu, untuk memperkuat permodalan, BNI akan melakukan rights issue senilai sekitar Rp 11,7 triliun pada semester pertama 2022. Pada September tahun ini, BNI juga menerbitkan surat utang US$ 500-800 juta.

Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Royke Tumilaar memaparkan, bank pelat merah ini sudah berada di jalur digitalisasi, dengan didukung kekuatan jumlah nasabah yang menembus 62-63 juta. Shifting bank BUMN ini ke digital akan semakin cepat, seiring perubahan transaksi di masa pandemi yang mendongkrak penggunaan electronic channel hingga 98%, sedangkan yang di kantor cabang tinggal 2%.

Dari transaksi electronic channel tersebut, saat ini, yang paling dominan masih lewat ATM sekitar 40% lebih. Namun, belakangan, transaksi mobile banking makin melesat pertumbuhannya, sehingga ke depan bisa mendominasi. Jumlah nasabah mobile banking yang baru sekitar 9 juta diyakini memberikan ruang yang besar untuk tumbuh.

Royke Tumilaar mengatakan, bank anggota Himbara ini menjadikan pandemi Covid-19 sebagai momentum untuk transformasi ke digital. Perseroan juga berencana mengembangkan bisnis anorganik dengan memiliki bank digital.

“Transformasi yang dilakukan BNI tidak 100% berubah menjadi bank digital yang tidak memiliki kantor cabang, namun transformasi dari sisi layanan, proses bisnis, dan produknya. Untuk memiliki bank digital, kami terbuka untuk menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Kesuksesan bank digital terletak pada empat syarat utama, yakni teknologi tinggi, cost murah, sudah terbentuk ekosistem kuat, dan mindset digital bank,” ujar Royke saat media visit virtual ke Beritasatu Media Holdings, Rabu (21/7/2021).

Hadir pula dalam kunjungan virtual BNI tersebut antara lain adalah Direktur Manajemen Risiko David Pirzada, Direktur IT dan Operasi YB Hariantono, Direktur Bisnis Konsumer Corina Leyla, Senior EVP Corporate Transformation Paolo Kartadjoemena, serta Corporate Secretary Mucharom.

Royke mengatakan, pihaknya juga menjajaki untuk mengakuisisi bank digital, tapi harus memenuhi syarat-syarat kunci itu. Dengan demikian akan memperkuat BNI.

“Kami harus punya untuk melengkapi BNI, tapi yang betul-betul tidak ada cabang, kalau nanti (bank digital) butuh cash tinggal numpang jaringan BNI. Harus bank juga, tapi masih dalam masa penjajakan dan harus memenuhi syarat, kalau tidak, malah akan kompetisi dengan BNI,” ucapnya.

Royke mengatakan, akseptasi nasabah terhadap layanan digital sudah meningkat di tengah pandemi, untuk itu BNI tak mau ketinggalan melakukan transformasi. Namun, transformasi yang membutuhkan teknologi tinggi yang mahal ini perlu dana besar.

“Kami lihat modal terbatas, padahal peluang banyak, untuk pengembangan bisnis dalam konteks anorganik, ada potensi itu. Sementara itu, arahan dari pemegang saham mayoritas (pemerintah) agar kami fokus. Kami akan fokuskan ke depan lebih ke international bank, global bank, kami melakukan transformasi,” papar Royke.

Tambah Modal
Dengan meningkatkan modal agar lebih kuat, lanjut Royke, maka potensi untuk tumbuh akan lebih besar. Ini mengingat salah satu kunci keberhasilan bank digital adalah memiliki teknologi tinggi.

“Begitu punya 'muscle' kuat, kami punya mimpi tumbuh anorganik dan sudah ada kajian kalau syarat itu tidak ketemu, mending jangan, kami tidak asal bikin digital, kami punya konsep, tunggu waktu,” imbuh Royke.

BNI akan mempertebal permodalan untuk mendukung ekspansi bisnis ke depan. Sejumlah langkah dilakukan BNI, seperti rencana penerbitan bond sekelas equity, yang baru pertama dilakukan di Indonesia, namun sudah dilakukan bank-bank asing seperti DBS. Denominasinya dalam dolar AS senilai US$ 500-800 juta, yang akan diterbitkan pada September 2021.

“Untuk melakukan transformasi dan ekspansi, perseroan perlu penguatan permodalan, karena pada kuartal I-2021 rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) BNI di posisi 18%, dan saat ini sudah menurun karena ekspansi.

"Untuk itu, perseroan memiliki skenario untuk meningkatkan CAR. September, kami issue bond sekelas equity, US$ 500-800 juta, yang akan mengangkat modal inti kurang lebih 1-1,5% dari sekarang 16% menjadi bisa 17,5%,” tutur Royke.

Perseroan juga menyiapkan scenario rights issue tahun 2022. Selain melakukan rights issue, BNI juga minta penyertaan modal negara (PMN) dari Kementerian BUMN sebagai pemegang saham mayoritas agar kepemilikan sahamnya tidak terdilusi.

Rights issue di 2022 akan menambah 1-1,5% lagi (CAR). Izinnya itu rights issue dan minta PMN, supaya share pemerintah tetap 60%,” kata Royke.

Meskipun rights issue dan PMN adalah hal yang berbeda, lanjut dia, namun untuk melakukan rights issue pemegang saham existing harus mengambil jatah agar kepemilikannya tidak berkurang. Oleh karena itu, rencana rights issue BNI dibarengi dengan PMN dari pemerintah sebesar Rp 7 triliun.

Rights issue dan PMN itu berbeda, tapi kalau mau issue dan agar pemerintah share-nya tetap sama, maka harus ada penyertaan. Ini supaya kepemilikan (saham pemerintah) nanti tetap sama dengan posisi sekarang,” ucap Royke.

Sebenarnya, lanjut Royke, BNI bisa saja meningkatkan permodalan tanpa melakukan penerbitan saham baru atau menerbitkan obligasi, namun membutuhkan waktu yang lama.

“Jadi, rencana kami itu salah satu jalan untuk mempercepat, kalau mau normal, modal inti (yang diperlukan) kami bisa capai tahun 2025. Tapi, kami butuh cepat supaya bank bisa dilihat sehat,” tandas Royke.

Ekosistem BNI Solid
YB Hariantono menjelaskan lebih lanjut, BNI tidak bertransformasi menjadi fully digital bank, namun mendigitalisasikan BNI mulai dari layanan, operasional, hingga proses. Ini bertujuan memberikan layanan yang mudah, cepat, dan murah. Selain itu, lanjut dia, fully digital bank hanya menyasar segmen consumer dan usaha kecil, sedangkan BNI juga menggarap segmen korporasi.

“Kita lihat ke depan, digitalisasi itu important, namun mengembangkan bisnis (harus) dengan ekosistem. Jadi, ada customer base (besar) yang melekat,” ujarnya.

Hingga saat ini, YB menyebut, jumlah nasabah BNI sekitar 62-63 juta nasabah, dengan pengguna mobile banking sebanyak 9,3 juta nasabah. Hal tersebut menunjukkan ruang untuk meningkatkan jumlah pengguna mobile banking masih terbuka lebar.

Customer mobile banking 9 juta lebih, ini masih kecil, jadi ruang untuk tumbuh masih banyak. Untuk transaksi, hanya 2% di cabang dan 98% sudah melalui channel elektronik,” urai YB.

Ia mengatakan, kanal yang paling banyak digunakan adalah ATM dengan komposisi lebih dari 40%, diikuti oleh mobile banking. Sedangkan dari jumlah nilainya, transaksi mobile banking dan ATM hampir sama, dan ke depan mobile banking akan dominan nilai transaksinya.

“Karena kekuatan mobile banking dan akseptasi nasabah inline dengan pertumbuhan itu, orang mengarah ke digital banking lewat open API. Kami juga jadi market leader karena paling banyak institusi yang terkoneksi,” imbuh dia.

Corina menambahkan, mobile banking menjadi produk andalan BNI sepanjang tahun lalu dari sisi layanan. Tugas saat ini, lanjut dia, adalah mengedukasi nasabah untuk mulai beralih menggunakan mobile banking.

“Fokus base nasabah dan akuisisi, transaksi terlihat tumbuh tinggi di tabungan. Kita ada 9,3 juta pengguna mobile banking, yang aktif ada 35% pengguna. Ini kita mau jadikan 50%, 60%, sampai 70%,” papar Corina.

Menurut dia, dengan adanya pembatasan mobilitas masyarakat akibat pandemi Covid-19 membantu perseroan membuat nasabah menggunakan mobile banking untuk bertransaksi. Shifting ke bank digital menjadi lebih mudah.

“Dengan pandemi orang tidak bisa ke mana-mana, shifting jadi mudah, yang dipastikan bank itu punya solusi tepat dan mudah. Ini yang kami fokuskan, onboarding gampang, tinggal download sudah bisa transaksi,” kata dia.

BNI juga baru saja memperbaharui mobile banking-nya dengan upgrade UI/UX (antarmuka dan pengalaman pengguna), dan mempermudah pembukaan rekening secara digital dengan face recognition. Sehingga, lanjut dia, nasabah tidak perlu datang ke cabang, cukup buka rekening melalui mobile banking sudah punya rekening BNI. Selain proses pembukaan rekening yang dipermudah, dalam mobile banking terdapat produk kartu kredit, nasabah bisa mengajukan kartu kredit melalui BNI mobile.

“Sekarang ribuan yang sudah coba, tidak harus ke mana-mana bisa apply kartu kredit. Transaksi, bill statement, bisa dilihat melalui mobile banking, kita buat powerful,” ucap Corina.

Kemudian, perseroan juga membuat fitur tarik tunai tanpa kartu. Nasabah cukup melalui mobile banking bisa mengambil uang di ATM. “Ini kami buat juga fitur yang lebih personalize agar nasabah loyal. Setahun ini pergerakan saldo tabungan cukup baik, karena nasabah teredukasi dengan mobile banking kami,” katanya.

Tingkatkan Capex
Royke mengatakan, BNI juga membuka peluang bagi bank digital untuk bekerja sama. Namun, dia memastikan ingin menjadi pengendali bank digital tersebut nantinya.

“Kami open untuk bekerja sama, tidak semua (syarat utama yang diperlukan) harus dari kami. Tapi, kami harap yang jadi pengendali,” tutur dia.

Untuk transformasi, perseroan tahun ini juga meningkatkan belanja modal (capex) untuk teknologi informasi (TI) dan digitalisasi. Di sisi lain, tahun ini BNI juga tidak agresif dalam membuka kantor cabang baru, karena fokus mengembangkan digitalisasi.

Capex kami sebagian besar untuk pengembangan IT dan digital, yang pasti lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya. Yang penting eksekusi capex seberapa kuat, kalau tidak punya budget, itu juga jadi problem. Walau terkendala pandemi, kami kejar eksekusi capex jadi prioritas,” ujar Royke.

Tumbuh Positif
Royke mengatakan, segmen UMKM paling terdampak pandemi. Hal tersebut diperkirakan akan meningkatkan kredit macet perseroan tahun ini.

“Kami masuk segmen bawah juga, UMKM tapi yang kecil, bukan mikro. Dan ini ada kenaikan NPL, tapi masih bisa buat kami, ukurannya sepanjang tidak sampai bulan Agustus nanti, setelah itu agak seram. Pasti impact ke consumer tidak bisa bayar kredit motor, tidak bisa bayar cicilan, itu pasti kami ada pengaruh,” urai dia.

Namun, lanjut dia, segmen korporasi meskipun masih ada yang wait and see tetap berjalan dengan baik. Secara keseluruhan, kredit dan dana pihak ketiga (DPK) BNI masih tumbuh positif.

“Sampai sekarang ini year on year atau year to date masih positif. DPK juga positif, tapi tidak besar, kisaran 2-3%. Kami pikir tadinya proyeksi tumbuh 6%, tapi kita lihat kini ada kenaikan angka positif Covid-19 harian, namun ruang untuk tumbuh ada,” kata Royke.

Pihaknya masih optimistis masih ada ruang untuk menumbuhkan kinerja positif tahun ini, khususnya untuk kredit dan DPK. “Saya masih optimis positif pasti, tapi kita lihat berapa nanti,” ujar dia.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: Investor Daily


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Kurs Rupiah Menguat 60 Poin ke Rp 14.480

Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan sore hari ini, Kamis (22/7/2021), terpantau menguat ke kisaran Rp 14.480.

EKONOMI | 22 Juli 2021

Bursa Eropa Dibuka Menguat, Pasar Tunggu Rapat ECB

Stoxx 600 naik 0,65%, DAX Jerman naik 0,8%, FTSE Inggris naik 0,12%, CAC Prancis naik 0,55%, FTSE MIB Italia naik 0,73%.

EKONOMI | 22 Juli 2021

Industrinya Berdaya Saing Global, Kemperin Perkuat SDM Teknologi Kertas

Kemperin berupaya untuk meningkatkan kinerja industri kertas di Tanah Air melalui penyediaan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten.

EKONOMI | 22 Juli 2021

Di tengah Ketidakpastian Pasar Keuangan Global, BI Sebut Rupiah Terkendali

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengatakan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah relatif terkendali di tengah kembali meningkatnya ketidakpastian.

EKONOMI | 22 Juli 2021

Dipimpin Hang Seng, Bursa Asia Ditutup Menguat

Indeks komposit Shanghai naik 0,34%, Hang Seng Hong Kong naik 1,83%, S&P/ASX 200 naik 1,06%, Kospi Korsel naik 1,07%.

EKONOMI | 22 Juli 2021

Kemdes PDTT Pastikan Penyaluran BLT DD di Kabupaten Sukabumi

Kemdes PDTT pantau penyaluran BLT yang bersumber dari Dana Desa (DD) di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (22/7/2021).

EKONOMI | 22 Juli 2021

REI dan Rumah.com Dorong Pemulihan Ekonomi di Sektor Properti

Di tengah pandemi, konsumen tertarik mencari informasi properti melalui online.

EKONOMI | 22 Juli 2021

Perpanjangan Stimulus Listrik hingga Desember Dinilai Tepat Sasaran

Saat ini kapasitas pembangkit listrik PLN secara nasional mencapai 62.915 mega watt dengan total pelanggan mencapai 80,4 juta pelanggan.

EKONOMI | 22 Juli 2021

IHSG Melesat 1,8% pada Penutupan Hari Ini

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 1,78% ke 6.137,5 pada akhir perdagangan hari ini, Kamis (22/7/2021).

EKONOMI | 22 Juli 2021

Bank Indonesia Tahan Suku Bunga Acuan di 3,5%

Bank Indonesia memutuskan untuk kembali mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,50%.

EKONOMI | 22 Juli 2021


BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS