Hadapi Krisis Ekonomi, Kementan Kelola Pangan Dalam Negeri
Kamis, 21 Juli 2022 | 12:29 WIB
Jakarta, Beritasatu.com- Kenaikan harga pangan dan energi menjadi perhatian utama banyak negara. Pasalnya banyak negara akan terpukul terutama negara berkembang dan miskin. Situasi ini diantisipasi Kementan dengan memaksimalkan pangan dalam negeri.
Namun kemampuan ekonomi Indonesia yang tetap bisa tumbuh 5,1% pada triwulan I tahun 2022, diharapkan bisa menjadi modal untuk mendorong kolaborasi bangkit bersama.
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) menegaskan pentingnya peran sektor pertanian di Indonesia hingga saat ini. "Sektor Pertanian tidak boleh berhenti bergerak agar kebutuhan pangan tetap terjaga," tegas Mentan Syahrul dalam keterangan tertulisnya Kamis (21/7/2022).
Baca Juga: Airlangga Hartarto: Minyak Sawit Bisa Jadi Solusi Krisis Pangan dan Energi
Menteri Syahrul mengaku optimistis dengan seluruh upaya yang dijalankan. Kementerian Pertanian menjalankan berbagai upaya untuk mengatasi ancaman krisis pangan global.
"Sektor pertanian satu-satunya sektor yang mampu tumbuh menggeliat dan positif meski dalam kondisi pandemi Covid-19. Tidak itu saja, kita juga mencatat kenaikan ekspor di angka 40%. Kondisi ini akan terus kita pertahankan dan tingkatkan," ujarnya.
Mentan Syahrul mengingatkan jajarannya, dalam 2 tahun ke depan situasi pangan dalam negeri harus kembali stabil. Seluruh jajaran Kementan harus bekerja lebih serius dalam mengawal kegiatan produksi pangan di dalam negeri.
Dalam agenda Ngobrol Asyik (Ngobras) Penyuluhan volume 28, bertema Antisipasi Krisis Pangan Global, Selasa (19/07/2022), di AOR BPPSDMP, Jakarta, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, mengatakan salah satu ciri krisis pangan global yaitu harga yang terus melejit dengan kenaikan harga pangan.
"Terdapat kutipan dari Presiden pertama kita, Soekarno, bahwa pangan merupakan masalah hidup dan mati suatu bangsa. Ini harus menjadi perhatian dan diantisipasi kita untuk mengatasi krisis pangan," ujar Dedi.
Dedi mengatakan, krisis pangan global merupakan dampak dari pandemi Covid-19. Selain itu, ada faktor climate change yang menggangu ekosistem pertanian seperti kemarau panjang, lamina, banjir dan hama penyakit dan ini mengangu produktivitas pertanian kita, salahsatu solusinya dapat diatasi dengan smart green house.
"Mari kita atasi krisis pangan dengan mengenjot pangan yang di miliki di Indonesia bukan hanya produksinya tapi juga olahannya, pertanian menyumbang inflasi yang tinggi sehingga harus dikendalikan, kebutuhan dalam negeri haruslah aman," jelas Dedi.
Baca Juga: Walau Ekonomi Indonesia Aman, Gobel Ingatkan Soal Pangan
Narasumber ngobras, Rachmat Pambudy, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB, mengatakan Indonesia memiliki sejarah panjang dalam membantu negara lain, sebagai contoh negara vietnam kita pernah menyumbang pengetahuan pertanian di negara tersebut. "Dalam mengatasi krisi pangan, kita harus berjalan beriringan bersama praktisi akademis dengan konsep gotong royong bersama-sama," ujar Rachmat Pambudy.
Narasumber lainnya, Wayan Supadno petani sukses mengolah lahan kering menjadi lahan yang subur, mengatakan krisis pangan global menyebabkan harga pangan semua negara naik. "Dengan adanya peluang Indonesia untuk menggelola pangan,ini peluang untuk mendongrak profesi petani," jelas Wayan Supadno.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




