BKPM Dorong Sektor Pengolahan Kimia dan Besi
Minggu, 24 Februari 2013 | 14:07 WIBJakarta – Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) akan terus mendorong sektor-sektor yang bisa mensubtitusi impor, tujuannya untuk mencegah terjadinya defisit di dalam neraca perdagangan.
Kepala BKPM Chatib Basri menjelaskan, salah satu penyebab utama defisitnya neraca perdagangan mengalami adalah tingginya impor barang modal atau bahan baku yang masuk ke Indonesia untuk kepentingan investasi. Menurut dia, barang baku tersebut digunakan oleh perusahaan untuk menciptakan suatu produk.
"Iklim investasi kita naik, di satu sisi neraca perdagangan kita defisit, penyebabnya adalah impor barang baku kita tinggi, semestinya perdagangan dan investasi itu seimbang, maka dari itu kami akan terus mendorong sektor sektor yang bisa menggantikan impor barang baku," ujar dia saat ditemui di kantornya, Gedung BKPM, baru-baru ini.
Chatib mengatakan sektor-sektor tersebut adalah sektor yang bergerak di industri pengolahan kimia seperti petrochemical dan juga sektor yang bergerak di industri pengolahan besi baja.
Menurut Chatib, BKPM akan terus menggenjot sektor ini untuk berinvestasi di Indonesia. Chatib menilai saat ini sektor consumer good sedang berkembang pesat. Menurut dia, salah satu contoh produk consumer good adalah peralatan rumah tangga, ia mengungkapkan bahan dasar dari peralatan rumah tangga adalah plastik.
Chatib menjelaskan, jika perusahaan petrochemical sudah investasi di sini maka perusahaan perusahaan yang menciptakan peralatan rumah tangga tidak perlu lagi impor plastik karena persediaan sudah ada di Indonesia.
Chatib mengatakan begitu juga dengan sektor industri pengolahan besi baja, ketika perusahaan otomotif berkembang pesat maka stok bahan baku berupa besi sudah ada di dalam negeri jadi tidak perlu diimpor lagi. Menurut dia, terkait industri pengolahan besi baja, perusahaan korea POSCO sudah menyatakan minatnya untuk investasi dalam waktu dekat ini.
"BKPM akan terus support sektor yang bisa subtitusi impor, agar defisit di dalam neraca perdagangan bisa berkurang, istilahnya kami dukung sektor hulunya dulu, baru kemudian sektor hilirnya," ujar dia
Chatib mengatakan, tidak hanya mendorong sektor yang bisa memsubtitusi impor, BKPM juga terus mendukung perusahaan perusahaan yang bisa menghasilkan inovasi produk dan teknologi. Menurut dia tujuannya adalah agar bisa meningkatkan kinerja ekspor dan menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang besar.
Soal Volkwagen
Chatib menjelaskan perusahaan mobil Jerman Volkswagen (VW) menunjukkan ketertarikan untuk berinvestasi di Indonesia karena melihat Toyota sudah masuk ke Indonesia. Faktor lainnya adalah penjualan mobil VW di indonesia tidak mengecewakan sehingga membuat investor VW semakin tertarik untuk investasi.
"Saya pernah bertemu mereka di bulan November lalu, mereka sangat serius ingin berinvestasi di Indonesia karena melihat Toyota yang berinvestasi senilai US$ 2,7 miliar, di sinilah pentingnya success story," ungkap dia
Dia mengatakan dirinya belum mengetahui berapa nilai investasi karena masih dalam tahap pembicaraan. Menurut dia, rencana investasi VW ini juga akan menjadi topik pembicaraan ketika presiden SBY mengunjungi Jerman pada bulan Maret mendatang.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




