ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Disrupsi Rantai Pangan, Kerja Sama Indonesia Australia Diperkuat

Jumat, 7 Oktober 2022 | 12:24 WIB
WP
WP
Penulis: Whisnu Bagus Prasetyo | Editor: WBP
Webinar
Webinar "A Framework of IA-CEPA Global Supply Chain Food Security", di Jakarta belum lama ini. (Dok)

Jakarta, Beritasatu.com - Implementasi kerja sama ekonomi Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) diharapkan lebih konkret di tengah meningkatkan disrupsi supply chain atau rantai pangan dan pertanian akibat pemanasan global dan perubahan iklim serta persoalan geopolitik.

"Kami mendorong kerja sama konkret antara Indonesia dengan Australia antisipasi rantai pangan," kata Founder and Chairman PT Jababeka Tbk (KIJA) SD Darmono dalam webinar "A Framework of IA-CEPA Global Supply Chain Food Security’ di Jakarta, seperti dikutip dalam keterangan tertulisnya Jumat (7/10/2022).

Darmono menilai Indonesia memiliki pasar besar dengan total 250 juta penduduk, sedangkan Australia memiliki teknologi, inovasi, akses kapital dan akses ke market dunia. "Australia dan Indonesia memiliki keunggulan yang saling melengkapi," kata dia.

Darmono menyampaikan bahwa kerja sama bisa memanfaatkan lahan yang belum digunakan Indonesia dan Australia dalam bentuk kerja sama joint venture terkait rantai pangan. Tujuannya, memperlihatkan ke dunia bahwa Indonesia-Australia bisa berkontribusi terhadap permasalahan rantai pangan.

ADVERTISEMENT

"Kita bisa dengan open source di KEK Tanjung Lesung (di Banten) seluas 1.500 hektare, di mana banyak orang berdatangan. Kita punya hotel, golf course, marina juga sedang dibangun. Ini merupakan tempat orang bisa datang dan relaks. Selain itu, secara geografis sangat strategis karena berdekatan dengan Selat Sunda yang menjadi jalur perdagangan. Kita bisa mulai dari sana dalam upaya menjalankan proyek agrobisnis," terang Darmono.

Kerja sama juga bisa memanfaatkan lahan melalui KEK Morotai di Provinsi Maluku Utara. Dengan luas 1.101,76 hektare, KEK Morotai punya potensi perikanan, yaitu ikan tuna, cakalang, tongkol, udang vaname dan budidaya rumput laut.
Selain itu, KEK Morotai memiliki potensi pertanian (agrobisnis) dan sumber daya alam, seperti seperti batu bara, emas, mangan, dan nikel. "Lokasinya juga strategis yaitu jalur perdagangan antar negara dan benua yang dekat dengan Australia," kata dia.

Darmono mengunkapkan Pulau Morotai memiliki komoditas hasil pertanian unggulan yaitu kelapa, cengkih, pala, padi, dan kakao. Untuk luas padi sawah mencapai 1.450 hektare. Sementara untuk komoditas kelapa, sudah mulai digarap oleh investor dari Jepang termasuk pelatihan-pelatihan untuk masyarakat lokal.

"Kita tinggal start dengan merumuskan konsep dan plan untuk bekerja sama, kita juga harus punya mimpi bersama dengan investor Australia mengenai kerja sama (food) supply chain ini," kata Darmono di webinar yang diikuti lebih dari 100 orang ini.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon