ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
BNI Investor Daily Summit 2022

Indonesia Harus Antisipasi Surplus Produksi Tembaga di 2025

Rabu, 12 Oktober 2022 | 22:47 WIB
AK
FH
Penulis: Arnoldus Kristianus | Editor: FER
CEO PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) Group Alexander Barus (kedua dari kiri) menjadi pembicara saat diskusi BNI Investor Daily Summit 2022, di Jakarta, Rabu, (12/10/2022). Diskusi ini mengangkat tema Investing In Downstream Industries.
CEO PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) Group Alexander Barus (kedua dari kiri) menjadi pembicara saat diskusi BNI Investor Daily Summit 2022, di Jakarta, Rabu, (12/10/2022). Diskusi ini mengangkat tema Investing In Downstream Industries. (Beritasatu Photo/David Gita Roza)

Jakarta, Beritasatu.com - Direktur PT Amman Mineral Nusa Tenggara Rachmat Makkasau memperkirakan pada tahun 2025 akan terjadi kelebihan produksi tembaga di Indonesia.

Permasalahan yang akan dihadapi yaitu penyiapan bahan baku yang dihasilkan oleh smelter tembaga bisa diserap untuk kebutuhan industri dalam negeri

"Kalau ini tidak dilakukan ini akan menjadi isu yang cukup besar, karena semuanya akan kita ekspor tahun 2025 serapannya hanya sekitar 20% hingga 30%. Sementara, sisa 70% produk akan diekspor dan dinikmati negara lain," ucap Rachmat dalam acara BNI Investor Daily Summit 2022, di Jakarta Convention Center (JCC), Rabu (12/10/2022).

Dia mengatakan proses penyediaan bahan baku industri tembaga dan akan siap di tahun 2025 dimana smelter dari PT Aman Mineral dan PT Freeport Indonesia akan beroperasi di tahun 2024. Di sisi lain investasi dalam pembangunan smelter cukup tinggi dan nilai tambah yang didapatkan hanya 5% sampai 7%

ADVERTISEMENT

"Belum banyak industri yang mengantisipasi ini. Di sisi lain ini risiko tetapi juga kesempatan terutama indonesia karena nikel kita cukup banyak dan berpengaruh di pasar dunia," ucap Rachmat.

Rachmat menuturkan bahwa perusahaan tambang tidak akan melakukan downstream industri tidak akan terjadi. Sebab selama ini pihaknya membangun smelter karena mengikuti peraturan yang ada Dia menyarankan agar pemerintah memaksimalkan kelebihan produksi katoda di 2025.

"Kalau tidak 70% produksi kita akan diekspor ke luar negeri sampai luar negeri akan dikenakan bea masuk dan pajak ujung-ujungnya kita yang minus ini sesuatu yang penting bukan menjadi lost," kata Rachmat.

Saat ini kebutuhan akan tembaga untuk teknologi hijau sangat penting. Apalagi jika pemerintah mengakselerasi pemakaian kendaraan listrik. Kebutuhan untuk pemakaian tembaga akan sangat meningkat di masa yang akan datang terutama untuk mendorong green technology di mobil, kemudian pembangkit listrik.

"Jadi opportunity terhadap komoditas ini sangat penting dan kita di Indonesia perlu memanfaatkannya," pungkas Rachmat.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Dolar AS Menguat, Harga Tembaga Indonesia Alami Kenaikan

Dolar AS Menguat, Harga Tembaga Indonesia Alami Kenaikan

EKONOMI
Toyota Kucurkan Rp 1,6 Triliun Investasi pada Timah dan Tembaga RI

Toyota Kucurkan Rp 1,6 Triliun Investasi pada Timah dan Tembaga RI

EKONOMI
Tembaga Jadi Pemeran Utama Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Tembaga Jadi Pemeran Utama Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

EKONOMI
Tembaga RI Dapat Bea Masuk 0 Persen ke Amerika

Tembaga RI Dapat Bea Masuk 0 Persen ke Amerika

EKONOMI
Kenaikan Tarif 50 Persen Impor Tembaga ke Amerika Berlaku Mulai Besok

Kenaikan Tarif 50 Persen Impor Tembaga ke Amerika Berlaku Mulai Besok

EKONOMI
Tembaga RI Ditaksir Amerika, BKPM Janji Tak Diekspor Mentah

Tembaga RI Ditaksir Amerika, BKPM Janji Tak Diekspor Mentah

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon