Indonesia, Tak Kenal maka Tak Sayang
Kamis, 16 Agustus 2012 | 23:55 WIB
Seberapa kenal mereka dengan negeri yang dibangun di atas kesepakatan beratus bahkan ribuan suku bangsa, agama, dan golongan ini?
Mengibarkan bendera di halaman rumah, menyaksikan film bertema perjuangan, atau terlibat dalam lomba panjat pinang sudah menjadi ekspresi yang jamak untuk merayakan Kemerdekaan di Tanah Air. Ramai dan seru memang, tetapi apakah itu sudah cukup menunjukan nasionalisme sebagai rakyat Indonesia?
Terjebak dalam hingar bingar era globalisasi, Indonesia, terutama kaum mudanya semakin melek dengan informasi dan pengetahuan dari berbagai arah. Tetapi bagaimana dengan ke-Indonesiaan? Seberapa kenal mereka dengan negeri yang dibangun di atas kesepakatan beratus bahkan ribuan suku bangsa, agama, dan golongan ini?
Beritasatu.com coba menggali seberapa jauh anak-anak muda Indonesia mengenal negerinya dengan mengajukan sejumlah pertanyaan ringan, mungkin sepele, tetapi bisa jadi membantu menjelaskan seberapa penting mereka memaknai Indonesia di usianya yang menginjak 67 tahun ini.
Dimulai dengan Aziza, seorang mahasiswi di sebuah universitas swasta di bilangan Semanggi, Jakarta Pusat apakah dia tahu apa ibu kota dari Provinsi Sumatera Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Nusa Tenggara Timur. Hasilnya?
"Aduh enggak tahu semua," keluh Aziza sambil tersenyum tersipu.
"Yah, enggak hafal. Pengetahuanku tentang peta-peta gitu minim sih," ketus Mita, seorang gadis muda dari sebuah universitas negeri di kawasan Depok, Jawa Barat.
"Palangka Raya? Toraja? Aduh, enggak tahu," seloroh Robin, mahasiswa lainnya.
Tetapi tidak semua anak muda seperti Aziza, Mita, atau Robin. Brandan, pemuda asal Jakarta yang sedang menempuh pendidikan di Oxford, Inggris justru lebih mengenal kota-kota di pelosok Indonesia itu.
"Palembang, Kendari, Kupang," jawabnya lancar, berurutan, nan singkat.
Dan ketika bertanya tentang pencipta lagu perjuangan "Padamu Negeri", Cheisy yang sedang berkuliah di universitas swasta di bilangan Kemanggisan, Jakarta Barat langsung menyerah.
"Jujur lupa nih," ketusnya singkat. Tetapi, sekali lagi Cheisy bukan tipikal anak muda Jakarta. Irina yang juga berkuliah di tempat yang sama dengan Cheisy, menjawab dengan pasti, "Kusbini."
Memang terlalu naif jika mengukur nasionalisme anak-anak muda Indonesia hanya dengan pengetahuannya tentang nama kota atau pencipta lagu perjuangan semata. Seperti kata Mita, yang merasa harus mengenal sisi positif dan negatif di negeri ini.
"Misalnya mengetahui budaya Indonesia yang kaya lalu bangga, tapi disaat yang sama harus ngerti juga masalah-masalah di Indonesia,” Mita menjelaskan.
Sementara menurut Cheisy, sejarah adalah faktor penting untuk membangun Indonesia ke depan, "Punya pengetahuan tentang Indonesia, mau itu sejarah atau apapun, itu bisa jadi alat untuk ingetin agar kita nggak lupa untuk membantu Indonesia di masa depan."
Selain sejarah, Cheisy mengusulkan penggunaan bahasa dan sastra Indonesia sebagai cara untuk lebih memahami Indonesia.
Tetapi di mata Brandan seni, budaya pop, dan hiburan bisa menjadi media pengenalanan dan untuk mempopulerkan konsep Indonesia yang beragam di anak-anak muda.
"Mungkin bisa melalui lagu-lagu tentang Indonesia yang aransemennya sesuai dengan selera anak muda sekarang. Atau kalau ada film atau serial TV tentang sejarah Indonesia juga. Kalau dikemasnya menarik pasti gue tonton deh,” ujar Brandan.
Mengibarkan bendera di halaman rumah, menyaksikan film bertema perjuangan, atau terlibat dalam lomba panjat pinang sudah menjadi ekspresi yang jamak untuk merayakan Kemerdekaan di Tanah Air. Ramai dan seru memang, tetapi apakah itu sudah cukup menunjukan nasionalisme sebagai rakyat Indonesia?
Terjebak dalam hingar bingar era globalisasi, Indonesia, terutama kaum mudanya semakin melek dengan informasi dan pengetahuan dari berbagai arah. Tetapi bagaimana dengan ke-Indonesiaan? Seberapa kenal mereka dengan negeri yang dibangun di atas kesepakatan beratus bahkan ribuan suku bangsa, agama, dan golongan ini?
Beritasatu.com coba menggali seberapa jauh anak-anak muda Indonesia mengenal negerinya dengan mengajukan sejumlah pertanyaan ringan, mungkin sepele, tetapi bisa jadi membantu menjelaskan seberapa penting mereka memaknai Indonesia di usianya yang menginjak 67 tahun ini.
Dimulai dengan Aziza, seorang mahasiswi di sebuah universitas swasta di bilangan Semanggi, Jakarta Pusat apakah dia tahu apa ibu kota dari Provinsi Sumatera Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Nusa Tenggara Timur. Hasilnya?
"Aduh enggak tahu semua," keluh Aziza sambil tersenyum tersipu.
"Yah, enggak hafal. Pengetahuanku tentang peta-peta gitu minim sih," ketus Mita, seorang gadis muda dari sebuah universitas negeri di kawasan Depok, Jawa Barat.
"Palangka Raya? Toraja? Aduh, enggak tahu," seloroh Robin, mahasiswa lainnya.
Tetapi tidak semua anak muda seperti Aziza, Mita, atau Robin. Brandan, pemuda asal Jakarta yang sedang menempuh pendidikan di Oxford, Inggris justru lebih mengenal kota-kota di pelosok Indonesia itu.
"Palembang, Kendari, Kupang," jawabnya lancar, berurutan, nan singkat.
Dan ketika bertanya tentang pencipta lagu perjuangan "Padamu Negeri", Cheisy yang sedang berkuliah di universitas swasta di bilangan Kemanggisan, Jakarta Barat langsung menyerah.
"Jujur lupa nih," ketusnya singkat. Tetapi, sekali lagi Cheisy bukan tipikal anak muda Jakarta. Irina yang juga berkuliah di tempat yang sama dengan Cheisy, menjawab dengan pasti, "Kusbini."
Memang terlalu naif jika mengukur nasionalisme anak-anak muda Indonesia hanya dengan pengetahuannya tentang nama kota atau pencipta lagu perjuangan semata. Seperti kata Mita, yang merasa harus mengenal sisi positif dan negatif di negeri ini.
"Misalnya mengetahui budaya Indonesia yang kaya lalu bangga, tapi disaat yang sama harus ngerti juga masalah-masalah di Indonesia,” Mita menjelaskan.
Sementara menurut Cheisy, sejarah adalah faktor penting untuk membangun Indonesia ke depan, "Punya pengetahuan tentang Indonesia, mau itu sejarah atau apapun, itu bisa jadi alat untuk ingetin agar kita nggak lupa untuk membantu Indonesia di masa depan."
Selain sejarah, Cheisy mengusulkan penggunaan bahasa dan sastra Indonesia sebagai cara untuk lebih memahami Indonesia.
Tetapi di mata Brandan seni, budaya pop, dan hiburan bisa menjadi media pengenalanan dan untuk mempopulerkan konsep Indonesia yang beragam di anak-anak muda.
"Mungkin bisa melalui lagu-lagu tentang Indonesia yang aransemennya sesuai dengan selera anak muda sekarang. Atau kalau ada film atau serial TV tentang sejarah Indonesia juga. Kalau dikemasnya menarik pasti gue tonton deh,” ujar Brandan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




