Bayi Kembar Tewas Bersama Ratusan Warga Gaza Lainnya dalam Serangan Udara Israel
Senin, 9 Oktober 2023 | 12:03 WIB
Gaza, Beritasatu.com - Kementerian Kesehatan yang dikuasai oleh Hamas di Jalur Gaza melaporkan sedikitinya 370 warga Palestina tewas dan 2.200 lainnya terluka akibat serangan udara yang dilakukan Israel mulai Sabtu (7/10/2023).
Sebanyak 300 orang dilaporkan tewas dalam serangan Sabtu (7/10/2023), menjadi jumlah terbesar warga Palestina yang tewas di Gaza dalam satu hari sejak tahun 2008. Di antara korban yang meninggal adalah bayi kembar yang berusia tiga bulan bersama ibu mereka dan tiga saudara perempuannya, yang semuanya tewas dalam serangan udara di Khan Younis, Jalur Gaza Selatan.
Diberitakan Reuters, di Jalur Gaza, seorang warga bernama Sabreen Abu Daqqa, yang berhasil diselamatkan dari reruntuhan rumah yang terkena serangan di Khan Younis, mengetahui bahwa tiga anaknya tewas dan dua lainnya terluka. Nasib anak keenamnya juga belum diketahui.
Abu Daqqa dan warga dari tiga rumah lainnya yang hancur akibat serangan udara tersebut mengatakan bahwa mereka tidak menerima peringatan dini dari Israel, yang berbeda dari serangkaian serangan sebelumnya, saat pasukan keamanan Israel memperingatkan warga untuk mengungsi sebelum serangan terjadi.
Di kota Rafah, yang berbatasan dengan Mesir, serangan udara Israel menewaskan 12 anggota keluarga dari Abu Qouta. Tujuh anggota keluarga lainnya diyakini terperangkap di bawah reruntuhan. Tim penyelamat masih berusaha mencari korban selamat di tengah reruntuhan pada hari Minggu.
Serangan udara Israel di Gaza dimulai segera setelah serangan Hamas dan berlanjut sepanjang malam hingga hari Minggu, menghancurkan kantor dan kamp pelatihan kelompok tersebut, serta rumah dan bangunan lainnya.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah berjanji akan melakukan "pembalasan besar" atas apa yang disebutnya sebagai "hari yang jahat" ini.
Juru bicara utama militer Israel menyebut serangan yang dilancarkan oleh pejuang Hamas, yang menewaskan setidaknya 700 warga Israel dan menculik puluhan orang, sebagai pembantaian terburuk terhadap warga sipil tak berdosa dalam sejarah Israel. Serangan balasan yang dilakukan Israel, diklaim sebagai tanggapan atas serangan itu.
Menurut Tentara Israel, jet tempurnya telah menghancurkan 800 sasaran militan di Jalur Gaza hingga saat ini. Salama Marouf, kepala kantor media pemerintah Hamas, menolak pernyataan ini dan menganggapnya sebagai upaya Israel untuk membenarkan agresi pendudukan terhadap warga sipil dan properti warga.
Jalur Gaza, yang menjadi tempat tinggal bagi sekitar 2 juta orang, telah dikuasai oleh Hamas sejak 2007. Ekonomi Gaza telah lama terhambat oleh blokade yang diberlakukan oleh Israel dengan bantuan Mesir.
Badan PBB, United Nations Relief and Works Agency (UNRWA) mengatakan bahwa setidaknya 70.000 warga Palestina mencari perlindungan di 64 sekolah yang mereka operasikan di Jalur Gaza. Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah seiring berlanjutnya penembakan dan serangan udara, termasuk di wilayah sipil.
UNRWA juga melaporkan bahwa dua siswa laki-laki yang bersekolah di sekolah yang mereka kelola di Khan Younis dan Beit Hanoun termasuk di antara yang tewas. Tiga sekolah UNRWA mengalami kerusakan tambahan akibat serangan udara Israel.
"Warga sipil harus dilindungi setiap saat, bahkan selama pertempuran. UNRWA mendukung seruan encatan senjata untuk segera menghentikan kekerasan di mana pun," demikian pernyataan UNRWA.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




