Gutteres: Warga Gaza Kini Alami Fase Paling Kejam dalam Perang
Sabtu, 24 Mei 2025 | 19:15 WIB
Gaza, Beritasatu.com – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyatakan bahwa warga Palestina di Gaza kini mengalami fase paling brutal dalam konflik berkepanjangan, di tengah keterbatasan akses bantuan dan peningkatan serangan militer oleh Israel.
Pernyataan itu disampaikan pada Jumat (24/5/2025), menyusul laporan bahwa lebih dari puluhan truk bantuan makanan dijarah setelah Israel melonggarkan sebagian blokade yang telah berlangsung lama. Bantuan kemanusiaan memang mulai kembali masuk ke wilayah Gaza sejak Senin (20/5/2025), untuk pertama kalinya sejak 2 Maret, namun jumlahnya masih sangat terbatas.
“Warga Palestina di Gaza tengah menghadapi salah satu fase paling kejam dari konflik ini,” ujar Guterres.
“Israel harus segera mengizinkan dan memfasilitasi pengiriman bantuan kemanusiaan yang jauh lebih besar," lanjutnya.
Ia mencatat bahwa dari hampir 400 truk bantuan yang diizinkan masuk dalam beberapa hari terakhir, hanya 115 yang berhasil didistribusikan. “Semua bantuan yang diberikan sejauh ini hanyalah setetes air di lautan, sementara masyarakat Gaza membutuhkan banjir bantuan,” tegasnya.
Mohammed Al-Mughayyir, pejabat dari badan pertahanan sipil Gaza, melaporkan bahwa sedikitnya 71 orang tewas akibat serangan udara Israel pada hari Jumat (23/5/2025), dengan puluhan lainnya luka-luka dan masih banyak yang hilang tertimbun reruntuhan bangunan.
Militer Israel menyatakan telah menyerang lebih dari 75 target, termasuk kompleks militer, gudang senjata, dan pos penembak jitu di berbagai lokasi di Gaza.
Di Gaza utara, rumah sakit Al-Awda melaporkan tiga staf medisnya terluka akibat bom yang dijatuhkan oleh drone militer Israel. Serangan ini memicu kebakaran yang kemudian berhasil dipadamkan oleh petugas.
Sementara itu, sirene serangan udara juga terdengar di wilayah dekat perbatasan Gaza setelah sebuah proyektil dicegat oleh sistem pertahanan udara Israel.
Program Pangan Dunia (WFP) melaporkan bahwa 15 truk bantuannya dijarah di Gaza selatan saat dalam perjalanan menuju toko roti yang didukung oleh badan PBB tersebut. “Kelaparan, keputusasaan, dan ketidakpastian menyebabkan meningkatnya ketidakamanan,” bunyi pernyataan WFP.
Mereka menyerukan kepada otoritas Israel untuk mengizinkan masuknya bantuan pangan dalam skala besar secara cepat ke Jalur Gaza.
Di tengah kelangkaan makanan, Sobhi Ghattas, seorang pengungsi Palestina yang mengungsi ke pelabuhan Gaza, menyampaikan kesulitannya. “Putri saya meminta roti sejak pagi tadi, tetapi kami tidak punya apa-apa untuk diberi,” katanya pilu.
Philippe Lazzarini, kepala UNRWA, badan PBB untuk pengungsi Palestina, menambahkan bahwa selama masa gencatan senjata yang berlangsung enam minggu hingga Maret lalu, PBB hanya mampu mengevakuasi 500–600 orang per hari.
“Tidak mengejutkan jika bantuan dijarah atau hilang. Masyarakat Gaza telah kelaparan selama lebih dari 11 minggu,” tulisnya di platform X.
Sejak Israel melanjutkan operasi militer pada 18 Maret, tercatat 3.673 warga Palestina tewas, menambah total korban jiwa menjadi 53.822 orang, sebagian besar di antaranya adalah warga sipil.
PBB dan berbagai lembaga kemanusiaan mendesak Israel untuk membuka lebih banyak jalur bantuan dan mempercepat distribusi logistik demi mencegah bencana kelaparan yang lebih luas. Krisis kemanusiaan di Gaza terus memburuk, sementara pertempuran belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




