Konflik Iran-AS-Israel, Perang Dunia III di Depan Mata?
Senin, 2 Maret 2026 | 19:46 WIB
Bantul, Beritasatu.com - Eskalasi Iran-AS-Israel kembali memanaskan geopolitik Timur Tengah dan memunculkan spekulasi tentang potensi Perang Dunia III. Serangan AS-Israel ke Iran serta respons Teheran dinilai berisiko memperluas konflik regional menjadi krisis global.
Namun, Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof Dr Sidik Jatmika menilai ketegangan ini bukanlah awal Perang Dunia III, melainkan bagian dari strategi global Amerika Serikat (AS) untuk mempertahankan dominasinya sebagai superpower dunia.
Dalam wawancara di ruang simulasi sidang hubungan internasional UMY, Senin (2/3/2026), Sidik menegaskan konflik Iran-AS-Israel tidak bisa dipahami sebagai peristiwa yang berdiri sendiri.
“Memahami Amerika hari ini tidak bisa dilepaskan dari masa lalunya,” ujarnya.
Sidik menjelaskan, Amerika Serikat berdiri pada 1776 dengan 13 koloni di Pantai Timur. Melalui ekspansi wilayah ke tengah dan barat, termasuk aneksasi Texas dan California, pembelian Alaska dari Rusia, hingga penguasaan Hawaii, AS membangun fondasi sebagai kekuatan nasional.
Transformasi menuju kekuatan global terjadi setelah keterlibatan dalam Perang Dunia I dan terutama Perang Dunia II. Sejak 1945, AS resmi menjadi superpower, menggantikan dominasi Inggris dan Prancis. Berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York menjadi simbol pergeseran pusat kekuasaan dunia.
Puncaknya terjadi setelah runtuhnya Uni Soviet pada akhir Perang Dingin. Sejak saat itu, AS merasa menjadi satu-satunya kekuatan global tanpa pesaing seimbang, sebelum kemudian muncul kebangkitan Tiongkok dan Rusia.
Menurut Sidik, kebijakan luar negeri AS, khususnya di bawah kepemimpinan Donald Trump pada periode keduanya, harus dilihat dalam konteks tersebut. Ia merujuk teori pengambilan keputusan politik luar negeri William D Coplin yang menyebut kebijakan luar negeri dipengaruhi faktor domestik, ekonomi-pertahanan, dan konteks internasional.
Slogan “Make America Great Again”, katanya, mencerminkan pandangan bahwa AS merasa kehilangan sebagian dominasinya akibat pertumbuhan Tiongkok dan kebangkitan Rusia.
Dalam kerangka itu, Iran diposisikan sebagai aktor yang perlu ditegaskan batasnya. Serangan AS-Israel ke Iran dan tekanan diplomatik dinilai sebagai bagian dari upaya konsolidasi hegemoni global Washington.
“Amerika sudah menghitung semua risiko. Secara geografis, Amerika adalah negara yang relatif paling aman. Tidak ada kekuatan besar yang mampu menyerang wilayah utamanya secara langsung,” jelasnya.
Isu Perang Dunia III mencuat seiring meningkatnya eskalasi Iran-AS-Israel dan ketegangan di Teluk Persia. Jalur perdagangan energi global terancam terganggu, terutama distribusi minyak dunia yang melewati kawasan tersebut.
Meski demikian, Sidik menilai konflik ini belum mengarah pada perang global berskala besar. Menurutnya, Perang Dunia III baru mungkin terjadi apabila Tiongkok dan Rusia terlibat langsung dalam konfrontasi terbuka dengan Amerika Serikat.
“Ini seperti permainan catur politik. Semua langkah sudah diperhitungkan,” ujarnya.
Dalam jangka pendek, eskalasi Iran-AS-Israel lebih berpotensi menciptakan ketidakstabilan kawasan dan tekanan pada ekonomi global, ketimbang memicu perang dunia. Secara geopolitik, situasi ini dinilai sebagai fase konsolidasi kekuatan besar, bukan awal konflik global total.
Meski demikian, dinamika Timur Tengah tetap menjadi titik rawan yang dapat berubah cepat. Dunia kini menanti, apakah eskalasi ini akan mereda melalui diplomasi atau justru berkembang menjadi krisis yang lebih luas dan tak terkendali.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Ini Senjata Iran yang Bikin Rontok Jet Tempur F-15 AS
Ribuan Warga Mojokerto Terima Bantuan Pangan
Sampah Laut Kian Parah, Pengelolaan di Darat Jadi Sumber Masalah
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Man City vs Liverpool, Mengapa Guardiola Tak Ada di Pinggir Lapangan?




