ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Iran 'Dikeroyok' AS-Israel, Kenapa Rusia dan China Tak Turun Tangan?

Selasa, 3 Maret 2026 | 17:30 WIB
MF
MF
Penulis: Muhammad Firman | Editor: MF
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping.
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping. (AP Photo/AP)

 Jakarta, Beritasatu.com - Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel mengguncang dinamika geopolitik global. Serangan yang terjadi pada Sabtu (28/2/2026) tidak hanya memicu eskalasi ketegangan di Timur Tengah, tetapi juga menempatkan Rusia dan China dalam posisi yang penuh perhitungan. 

Rusia dan China negara memang menyampaikan kecaman keras, namun belum terlihat langkah konkret untuk membantu Teheran secara militer maupun sipil. Situasi ini memunculkan pertanyaan besar, mengapa Rusia dan China, yang selama ini kerap dipandang sebagai mitra strategis Iran, belum mengambil tindakan lebih jauh?

Serangan AS-Israel dan Reaksi Awal Rusia-China

Serangan militer yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Peristiwa tersebut segera memicu reaksi keras dari Beijing dan Moskow.

Dalam percakapan telepon antara Menteri Luar Negeri China Wang Yi dan Menteri Luar Negeri Rusia, Beijing menyampaikan kecaman tegas atas serangan tersebut. 

ADVERTISEMENT

Wang Yi menilai tindakan AS-Israel tidak dapat diterima, terlebih karena secara terbuka membunuh pemimpin negara berdaulat dan memicu upaya perubahan rezim.

"Apalagi secara terang-terangan membunuh seorang pemimpin negara berdaulat dan memicu perubahan rezim," kata Wang Yi, dikutip dari AFP, Selasa (3/3/2026).

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Rusia mengeluarkan pernyataan resmi yang menyebut serangan tersebut sebagai tindakan agresi yang melanggar hukum internasional. Moskow juga menilai langkah itu bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar Piagam PBB serta berpotensi mengganggu stabilitas kawasan secara luas.

Meski demikian, pernyataan keras tersebut tidak diikuti dengan komitmen bantuan nyata kepada Teheran. Banyak pengamat menilai respons Rusia dan China cenderung terbatas pada kritik diplomatik.

Mengapa China Belum Bertindak Lebih Jauh?

Sejumlah analis menilai sikap China mencerminkan kalkulasi strategis yang lebih luas. Direktur Pelaksana Teneo yang fokus pada isu China, Gabriel Wildau, menilai kecil kemungkinan Beijing mengambil langkah konkret untuk mendukung Iran.

Menurutnya, mempertahankan hubungan yang relatif stabil dengan AS tetap menjadi prioritas utama kepemimpinan China. Apalagi Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan bertemu pada akhir bulan ini, jika agenda tersebut tidak berubah.

"Saya tidak melihat pemerintah China mengambil tindakan konkret untuk mendukung Teheran," kata Direktur Pelaksana Teneo, yang mengkhususkan diri soal China, Gabriel Wildau, dikutip dari CNBC Internasional.

Pandangan serupa disampaikan peneliti Chatham House, Ahmed Aboudouh. Ia menilai Beijing kemungkinan akan mencari konsesi pada isu-isu yang lebih langsung berkaitan dengan kepentingan nasionalnya, seperti Taiwan dan perdagangan, sebagai imbalan atas sikap yang lebih lunak terhadap Iran.

Di dalam negeri, bahkan akun media sosial yang terafiliasi dengan media pemerintah China, Niutanqin, secara terbuka menyatakan bahwa Iran tidak memiliki sekutu sejati. 

Narasi tersebut menegaskan bahwa negara-negara, termasuk yang memiliki kedekatan dengan Teheran, pada akhirnya akan mendahulukan kepentingan nasional masing-masing.

Sikap berhati-hati China sebenarnya bukan hal baru. Tahun lalu, Beijing juga mengkritik serangan AS dan Israel terhadap Iran tanpa memberikan dukungan material. 

Sebelum kesepakatan nuklir 2015, China bahkan mendukung sanksi ekonomi yang dipimpin PBB terhadap Teheran. Setelah kesepakatan tersebut, investasi China ke Iran pun berjalan relatif lambat.

Respons China terhadap kasus lain, seperti penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh AS pada 3 Januari, juga menunjukkan pola serupa: kecaman keras secara retoris, namun minim langkah konkret.

Wildau menegaskan bahwa kemitraan strategis dengan Beijing tidak identik dengan aliansi militer atau jaminan dukungan dalam menghadapi ancaman eksistensial.

Kalkulasi Rusia di Tengah Perang Ukraina

Berbeda dengan China, hubungan Rusia dan Iran dalam beberapa tahun terakhir semakin erat, terutama pada bidang militer dan ekonomi. Sejak invasi skala penuh Rusia ke Ukraina pada 2022, Iran menjadi pemasok penting drone dan rudal militer bagi Moskow.

Namun, perang yang berkepanjangan di Ukraina disebut telah menggerus kemampuan Rusia untuk memproyeksikan kekuatan di luar perbatasannya. Kepala ahli strategi geopolitik BCA Research, Matt Gerken, menyebut militer Rusia saat ini berada dalam tekanan besar, sementara ekonominya terus dibayangi sanksi Barat.

Kehilangan Iran sebagai mitra strategis juga berpotensi menjadi pukulan tambahan bagi Rusia, terlebih setelah runtuhnya rezim Suriah menyusul jatuhnya Bashar al-Assad pada Desember 2024.

Meski Kementerian Luar Negeri Rusia telah mengutuk serangan terhadap Iran, Kremlin maupun Presiden Vladimir Putin belum menyampaikan pernyataan terbuka secara langsung.

Selain faktor militer, Moskow juga mempertimbangkan aspek ekonomi. Harga minyak mentah melonjak lebih dari 8% akibat kekhawatiran gangguan pasokan global dari Iran. 

Beberapa negara dalam kelompok OPEC+, termasuk Rusia, bahkan mengumumkan peningkatan produksi sebesar 206.000 barel per hari mulai April.

Presiden Transversal Consulting, Ellen Wald, menilai kenaikan harga minyak justru dapat menguntungkan Rusia. Setiap lonjakan harga komoditas tersebut berpotensi membantu mendanai kebutuhan perang Moskow.

Dengan demikian, Rusia memiliki insentif ekonomi untuk tidak terburu-buru mengambil langkah yang dapat memperluas konflik.

Secara historis, Rusia kerap mengambil pendekatan wait and see dalam isu global yang tidak berdampak langsung terhadap kepentingan vitalnya. Ketika protes meletus di Iran pada akhir Desember sebelumnya, Moskow juga tidak memberikan bantuan langsung.

Dalam konteks saat ini, Rusia kemungkinan akan mengamati apakah rezim Iran mampu bertahan dari tekanan militer AS dan Israel.

Profesor Stanford dan mantan duta besar AS untuk Rusia, Michael McFaul, menyatakan bahwa secara historis serangan udara jarang menghasilkan penggulingan rezim. Bahkan intervensi militer dengan pasukan darat pun tidak selalu menjamin keberhasilan perubahan rezim.

Ia menilai kampanye militer yang menargetkan sistem persenjataan tidak serta-merta menghancurkan instrumen yang digunakan untuk menekan rakyat Iran. Karena itu, masih belum jelas apakah operasi militer saat ini benar-benar akan menghasilkan perubahan rezim seperti yang dijanjikan Presiden Trump.

Apakah Iran Akan Jatuh?

Pertanyaan mengenai masa depan Iran kini menjadi fokus perhatian global. Meski tekanan militer meningkat, belum ada kepastian bahwa serangan udara saja akan cukup untuk menggulingkan pemerintahan yang ada.

Baik Rusia maupun China tampaknya memilih bersikap hati-hati. Keduanya menyampaikan kecaman diplomatik, tetapi belum memberikan bantuan nyata kepada Iran. Faktor kepentingan nasional, stabilitas ekonomi, serta perhitungan geopolitik jangka panjang menjadi pertimbangan utama.

Pada akhirnya, dinamika hubungan Iran dengan Rusia dan China menunjukkan bahwa kemitraan strategis tidak selalu berarti komitmen pertahanan kolektif. Dalam politik internasional, setiap negara tetap menempatkan kepentingannya sendiri di atas segalanya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Kecam Agresi ke Iran, Mamdani: Duit Rp 390 T Lebih Baik untuk Rakyat!

Kecam Agresi ke Iran, Mamdani: Duit Rp 390 T Lebih Baik untuk Rakyat!

INTERNASIONAL
Iran Siap Sambut Serangan Darat AS

Iran Siap Sambut Serangan Darat AS

INTERNASIONAL
Jepang dan 5 Negara Eropa Ini Siap Jaga Keamanan Selat Hormuz

Jepang dan 5 Negara Eropa Ini Siap Jaga Keamanan Selat Hormuz

INTERNASIONAL
Trump Tegaskan Tidak Mau Kirim Pasukan ke Iran

Trump Tegaskan Tidak Mau Kirim Pasukan ke Iran

INTERNASIONAL
PM Israel Ingin Bangun Pipa Migas demi Hindari Selat Hormuz

PM Israel Ingin Bangun Pipa Migas demi Hindari Selat Hormuz

INTERNASIONAL
Pembunuhan Pemimpin Iran oleh Israel Dikecam Keras China

Pembunuhan Pemimpin Iran oleh Israel Dikecam Keras China

INTERNASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT