ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Menjadi Player, dan Bukan Victim dalam Era MEA

Sabtu, 18 Maret 2017 | 07:39 WIB
LK
B
Penulis: L Gora Kunjana | Editor: B1
HMPSA Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) mengadakan Diskusi Internal 2017 dengan tema
HMPSA Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) mengadakan Diskusi Internal 2017 dengan tema "Kompetensi Calon Akuntan dalam Menghadapi Era MEA" di Kampus UAJY, Jumat 17 Maret 2017.

YOGYAKARTA- Berdasarkan data Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), per 1 Agustus 2015, Indonesia (IAI) merupakan negara keempat terbesar Asosiasi Profesi Akuntan se-ASEAN dengan jumlah total 24,769 ribu. Posisi pertama diduduki Thailand (FAP), dengan jumlah total 62,739 ribu.

Bagi akuntan era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) saat ini merupakan tantangan tersendiri, seperti diperlukannya pemahaman atas standar profesi akuntansi, audit, dan bidang terkait yang berlaku secara global serta adanya peningkatan kualitas individu agar mampu bersaing secara regional dan global.

Beberapa peningkatan kualitas tersebut di antaranya dalam hal edukasi, kompetensi, sertifikasi, pengalaman, pendidikan profesi berkelanjutan, serta memenuhi standard dan pedoman IFAC.

Terkait hal itu, HMPSA Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) mengadakan diskusi dengan tema "Kompetensi Calon Akuntan dalam Menghadapi Era MEA" di Kampus III Gedung Bonaventura UAJY, Jumat (17/3). Hadir sebagai pembicara Sekretaris Pengurus IAI Wilayah Yogyakarta Lita Kusumasari MSA Ak CA.

ADVERTISEMENT

"Menjadi Akuntan itu berat, tanggung jawabnya ke Tuhan, dan juga masyarakat," kata Lita membuka diskusi.

Lita menjelaskan untuk memenangkan persaingan di era MEA, akuntan tidak cukup hanya mengandalkan kompetensi yang dimiliki saat ini. Setidaknya, perlu pengembangan dalam soft skills (inter-personal dan intra-personal), dan peningkatan dalam kompetensi karena jika hanya memenuhi persyaratan Program Pengalaman Lapangan (PPL), maka akuntan belum memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan akuntan lainnya.

Hal penting lainnya, lanjut Lita, adalah membangun networking yang kuat dan luas dengan individu dan institusi, memiliki integritas yang tinggi, serta memiliki mental optimistis.

"Dengan demikian kita bisa menjadi player, bukan victim di era MEA," pungkasnya. (gor)



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon