Lemhannas Ingatkan Perang Tahun 2023 Bisa Lebih Buruk, Begini Skenarionya
Rabu, 22 Februari 2023 | 22:39 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Andi Widjajanto membeberkan sejumlah skenario terburuk yang mungkin terjadi di dunia pada 2023, salah satunya yang paling buruk yakni perang. Saat ini, perang antara Rusia dan Ukraina juga masih berlangsung dan belum ada tanda-tanda ketegangan akan mereda. Bahkan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam pidato terbarunya kembali menegaskan adanya kemungkinan eskalasi Rusia menjadi perang nuklir.
Dalam pertemuan dengan Putin di Rusia pada akhir Oktober 2022, Andi mengatakan Putin juga secara khusus menitip pesan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahwa Rusia tidak mempertimbangkan menggunakan senjata nuklir. Namun, jika ada serangan udara ke wilayah Udara, Putin mempertimbangkan untuk menggunakan nuklir.
"Saya belajar ilmu tentang nuklir. Normalnya, serangan nuklir hanya dilakukan kalau terjadi serangan nuklir. Tetapi kata Putin, dia akan mempertimbangkan penggunaan senjata nuklir kalau ada serangan udara ke wilayah Rusia, bukan serangan nuklir. Pertanyaan, wilayah udara Rusia yang disebut Putin itu wilayah mana? Benar-benar Rusia, atau empat wilayah di Ukraina yang sekarang dikuasai Rusia yang sudah referendum bergabung ke Rusia, atau bahkan Krimea yang sejak 2004 secara de facto Rusia," kata Andi Widjajanto dalam acara Forum Komunikasi Gubernur Lemhannas bersama Pemimpin Redaksi Media Massa, di Jakarta, Rabu (22/2/2023).
Yang kemudian menjadi kekhawatiran Andi melihat negara-negara barat membantu persenjataan Ukraina. "Mereka sudah membantu menggelar tank, lalu setelah itu Ukraina minta dibantu dengan pesawat tempur F-16 bahkan sampai ke F-35. Begitu F-16 dan F-35 digelar, kemudian melakukan serangan ke wilayah Rusia, Putin mengatakan dia akan mempertimbangan serangan nuklir," kata Andi.
Titik seperti ini terakhir kali terjadi di dunia pada 1962 di Kuba yang dikenal dengan krisis rudal Kuba atau Cuban missile crisis. Ketika itu, seluruh dunia benar-benar bersiap dengan perang nuklir.
"Karena itu, kami di Lemhannas mikirnya kita lagi berjalan di atas kaca. Bisa dilalui, bisa. Tetapi melangkahnya harus hati-hati benar, supaya kacanya tidak retak lalu kemudian pecah berantakan, hati-hati melangkahnya. Moga-moga kita bisa melewati 2023 ini menuju 2024 dengan berjalan di atas kaca tersebut. Tapi ini skenario terburuknya, dan perangnya bisa terjadi bermacam-macam," ujar Andi.
Hal lainnya yang juga menjadi perhatian terkait kondisi Suriah yang disebut Andi mulai kolaps. Pemerintahan Suriah di Damaskus tidak memiliki kemampuan untuk menolong korban gempa, lalu kemudian melakukan pembicaran dengan negara-negara Timur Tengah, termasuk dengan Arab Saudi yang selama ini tidak mau berinteraksi dengan Suriah.
"Saudi mau (membantu), dengan catatan Suriah memutus hubungannya dengan Iran. Jadi mungkin ada rekonsiliasi konfigurasi baru di Timur Tengah antara Suriah, Saudi, Uni Emirat Arab," ujarnya.
Andi juga memperhatikan pergerakan sel-sel teror yang selama ini masuk ke Irak hingga Suriah. Dengan keberadaan kemungkinan terjadinya konfigurasi baru, sel terornya mencari rumah baru.
"Yang langsung ditemukan ruang barunya adalah di Mali di Afrika Tengah. Begitu masuk ke Mali, sudah tahu transitnya di Sudan, di Yaman, setelah dari Mali mereka ke Ethiopia, turun, bahkan sampai ke Afrika Selatan," papar Andi.
Begitu konfigurasi sel teror global di Timur Tengah berpindah, biasanya di Asia Tenggara juga ikut bergeser. "Di Asia Tenggara ya tinggal dua titik, Filipina selatan dan Indonesia. Hal-hal seperti itu yang harus kami perhatikan," ujar Andi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




