Airlangga di Konferensi PresUniv: Mahasiswa Berpeluang Besar dalam Bisnis Digital
Rabu, 27 Oktober 2021 | 21:03 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan mahasiwa memiliki peluang besar dalam bisnis digital.
Ekonomi digital Indonesia adalah yang terbesar di ASEAN. Airlangga mengutip data yang menyebutkan bahwa 41,9% total transaksi ekonomi digital di ASEAN datang dari Indonesia.
"Ini peluang bagi mahasiswa untuk melakukan bisnis digital, seperti financial technology (fintech), e-commerce, layanan kesehatan digital, education technology (edutech), hingga health tech," papar Airlangga saat menjadi pembicara utama dalam International Conference on Humanities and Social Science (ICHSS) 2021, yang digelar digelar Fakultas Humaniora President University (PresUniv), pada 26-27 Oktober 2021.
Dalam sesi yang dipandu Natasya Kusumawardani, dosen Prodi Hubungan Internasional PresUniv, Airlangga memaparkan soal peluang besar untuk anak muda Indonesia dalam bisnis digital.
“Mahasiswa saat ini adalah digital talents dan entrepreneurs masa depan. Saya berharap jumlah entrepreneurs kita dapat tumbuh hingga 5% dari seluruh populasi. Saat ini rasionya masih sangat rendah, yaitu 3,5%. Dan area potensial yang perlu dikembangkan adalah kemampuan teknologi digital, artificial intelligence, big data, atau yang sedang popular saat ini, yaitu crypto.”
Menurut Airlangga, upaya pemerintah menangani pandemi Covid-19 berdampak terhadap kinerja perekonomian. Airlangga membeberkan faktanya. Pada kuartal II-2021, Indonesia berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi tertinggi dalam 16 tahun terakhir, yaitu sebesar 7,16%.
Untuk sektor yang sedang dalam pemulihan saat ini adalah sektor industri, transportasi, retail, akomodasi, pertanian, hingga perumahan. Ia menyampaikan bahwa strategi yang diterapkan adalah dengan memberikan konsumen kepercayaan dan keringanan pajak, terutama pada sektor otomotif dan properti.
Airlangga mengungkapkan, tantangan saat ini sebenarnya adalah demografi Indonesia yang kebanyakan dari Generasi Z dan milenial yang melek digital. "Ini tentu tantangan bagi PresUniv. Bonus demografi ini adalah kunci pertumbuhan Indonesia di masa mendatang," katanya.
Airlangga juga menceritakan upaya pemerintah mempercepat transformasi ekonomi melalui Making Indonesia 4.0 yang mengutamakan tujuh sektor utama, yaitu makanan dan minuman, tekstil dan garmen, otomotif, bahan kimia, elektronik, farmasi, dan peralatan medis. "Semua sektor ini memiliki permintaan yang tinggi. Bahkan semasa pandemi," katanya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara media, akademik, bisnis, komunitas, dan pemerintah. "Untuk akademik, universitas perlu fokus pada kurikulum entrepreneurship yang baik, yang mampu melahirkan dan menghasilkan start-up baru, termasuk menjadi akselerator bagi entrepreneurship," tutupnya.
Ini merupakan konferensi internasional perdana Fakultas Humaniora PresUniv dengan tema "The Opportunities of Crisis: International Experiences and Best Practices in the Time of Covid-19 and Beyond in Society 5.0". Ada lima subtema yang dibahas pada konferensi ini, yaitu International Relations and Other Social & Cultural Issues, Communication Science, Law, Education, dan Biodiversity.
Konferensi dibuka oleh Ketua Yayasan Pendidikan Universitas Presiden (YPUP), Budi Susilo Soepandji. "Saya berharap konferensi ini menjadi agenda yang penting bagi mahasiswa dan segenap civitas academica humaniora di tingkat global dan bisa dilakukan setiap tahun," papar Budi.
Budi mengatakan bahwa tema tersebut sangat kontekstual dengan kondisi saat ini dan mengingatkan bahwa situasi pandemi ini telah mengubah peradaban global secara drastis dan tidak terprediksi sebelumnya.
Budi memaparkan bahwa beberapa cendekiawan dan tokoh sebenarnya telah memprediksi akan adanya perubahan pesat di peradaban manusia. Namun, tak satupun dari mereka yang memprediksi bahwa pandemi akan memengaruhi percepatan dari perubahan itu sendiri.
Menurut Budi, pandemi membuat masyarakat kurang memiliki interaksi fisik dibandingkan sebelumnya. Dalam konteks yang lebih luas, menurutnya, hal ini memicu pertanyaan mendasar tentang apa kontribusi yang dapat diberikan Ilmu Humaniora untuk menanggapi situasi saat ini.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




