SMRC: PDIP Akan Banyak Tampung Swing Voters dari Parpol Lain
Kamis, 1 September 2022 | 17:02 WIB
Sementara alasan pindah ke PDIP karena Gerindra dan PDIP juga memiliki kemiripan ideologis. Sama-sama partai nasionalis. Dalam beberapa hal, Prabowo juga sering meniru sosok Soekarno. Ada simbol-simbol tentang politik kerakyatan dan nasionalisme yang kuat yang ditunjukkan oleh Gerindra.
Sementara, kepindahan 3,9% pemilih Gerindra pada 2019 ke PKS, dikarenakan selama ini Prabowo didukung oleh para pemilih PKS. Dengan masuknya Prabowo ke dalam koalisi pemerintahan, ada unsur di dalam Gerindra yang antipemerintah yang kemudian pindah ke PKS.
"Di dalam Gerindra ada unsur kelompok oposan pemerintah. Itu logis karena itu merupakan hasil mobilisasi sebelumnya untuk melawan kelompok politik pemerintah. Kelompok oposan ini kemudian melihat PKS sebagai wadah untuk menampung aspirasi mereka," jelas Saiful Mujani.
Baca Juga: Ikut Disurvei SMRC, Jokowi Dapat Dukungan 12,5% Responden
Selain Gerindra, PDIP juga berpotensi menampung 10,7 persen pemilih Golkar. Terdapat 5,4% pemilih Golkar yang pindah ke Gerindra. Sementara pemilih partai Golkar yang loyal 60,7% dan ada 15,1% yang belum menjawab.
"PDIP yang mengancam Golkar dalam hal ini," tutur Saiful Mujani.
Hal yang sama terjadi pada Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Pemilih PKB paling potensial pindah ke PDIP. Dalam survei ini, ada 8,5% suara PKB di 2019 yang pindah ke PDIP. Ada 10,4% yang belum menentukan pilihan.
Saiful melihat perpindahan suara PDIP dan PKB relatif bisa terjadi karena kedua partai ini memiliki basis wilayah yang mirip, keduanya kuat di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Karena itu kalau ada pemilih yang kadang masuk ke PKB dan di lain kesempatan masuk ke PDIP, itu logis.
Baca Juga: Elektabilitas PDIP Teratas, PPP Terancam Tidak Lolos Parlemen
Partai politik yang mengancam suara partai Nasional Demokrat (Nasdem) juga adalah PDIP. Survei ini menunjukkan ada 20% pemilih Nasdem di 2019 yang sekarang pindah ke PDIP. Sementara yang belum menjawab sebanyak 14,8 persen.
"Yang sangat signifikan yang bisa mengancam Nasdem adalah PDIP," ucap Saiful Mujani.
Kemudian, sambung Saiful, swing voters PKS lebih banyak pindah ke Partai Demokrat, yakni sebanyak 10,5%. Partai kedua yang bisa menarik pemilih PKS adalah Gerindra (7%) dan Golkar (5,2%). Hanya saja, masih cukup banyak pemilih PKS yang belum menentukan pilihan, 20,3%. Sementara yang stabil akan tetap memilih PKS sekitar 52,5%.
Baca Juga: PDIP Memahami Langkah Pemerintah Menaikkan Harga BBM
Salah satu penjelasan mengapa yang belum menentukan pilihan dari pemilih PKS cukup banyak adalah karena munculnya tokoh-tokoh PKS yang mendirikan partai baru, seperti Anis Matta dan Fahri Hamzah yang membentuk Partai Gelora.
Namun, Saiful memberi catatan bahwa walaupun ada pemilih yang pindah ke Partai Gelora, hanya mengurangi suara PKS sekitar 1 sampai 1,5%. Dengan demikian, hal itu tidak akan menghalangi PKS untuk lolos ke Senayan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




