Dahlan: Bendungan Rote Ndao Perlu Dana Rp 45 Miliar

Minggu, 25 Agustus 2013 | 08:09 WIB
E
FH
Penulis: ELI | Editor: FER
Dahlan Iskan
Dahlan Iskan (Jakarta Globe/Safir Makki)

Labuan Bajo - Menteri Negara BUMN memperkirakan kebutuhan dana untuk pembuatan satu bendungan yang diminta bupati Rote Ndao mencapai sekitar Rp 15 miliar. Dengan demikian, untuk tiga bendungan yang dibutuhkan Rote Ndau perlu dana sekitar Rp 45 miliar.

Kabupaten yang memiliki sekitar 2.000 penduduk ini, sebagian besarnya masih kurang sejahtera. Wilayah ini, minim curah hujan. Karenanya, dibutuhkan bendungan untuk mendukung pasokan air bagi irigasi. Salah satu fungsi bendungan memang untuk irigasi, apabila muka air sungai lebih rendah dari muka tanah yang akan diairi.

"Pulaunya dari ujung ke ujung Rote Ndao hanya sekitar 100 km, ke utara-selatan cuma 50 km, jadi wilayah ini seharusnya bisa berkembang," kata Menteri BUMN Dahlan Iskan di Labuan Bajo, Sabtu (24/8) malam.

Dahlan berharap bisa membantu Kabupaten Rote Ndao dan meninggalkan predikatnya sebagai daerah tertinggal. Dia berjanji berupaya mendukung agar di Rote Ndao juga memiliki depo bahan bakar sendiri.

Sebelumnya, Bupati Rote Ndao menyampaikan tiga permintaanya ke Dahlan. Pertama, masyarakat Rote Ndao berharap bisa membangun tiga bendungan. Kedua, didirikannya depo bahan bakar. Ketiga, adanya kapal cepat yang bisa berlayar meski gelombang mencapai ketinggian hingga 5 meter.

Dari tiga permintaan tersebut, Dahlan hanya menyanggupi untuk mendukung didirikannya depo bahan bakar. Sebab untuk dua hal lainnya, di luar kewenangannya.

"Depo bahan bakar saya akan bantu bangun, sebab itu di bawah PT Pertamina, dan sayalah yang memilih direksi Pertamina, jadi bisa saya bicarakan. Harapan saya, kalau Rote Ndau ini keluar dari daerah tertinggal," kata Dahlan.

Setelah Rote Ndao keluar dari daerah tertinggal, Dahlan yakin dengan sendirinya banyak bank dan kapal akan datang, sehingga harapan Rote Ndao bisa mendapatkan dana untuk membangun bendungan dan memiliki kapal cepat pun bisa terwujud.

Kabupaten paling Selatan wilayah Indonesia ini merupakan daerah tertinggal yang cukup sulit dijangkau. Dari Atambua saja memerlukan waktu sekitar 50 menit melalui perjalanan pesawat udara. Belum lagi, jika berupaya menjangkaunya dari Kupang, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Sementara melalui jalur laut, untuk menjangkau wilayah ini dibutuhkan waktu sekitar empat jam dari Kupang dengan menggunakan kapal ASDP. Sedangkan jika menggunakan kapal cepat (speed boat) membutuhkan waktu dua jam. Padahal cuaca di wilayah ini sulit diprediksi. "Kalau melalui laut, kami tidak bisa tempuh dengan kapal, kalau gelombangnya mencapai 5 meter," kata Bupati Rote Ndao, Leonard Haning.

Dahlan mengunjungi pulau kecil Rote Ndao karena terkesan dengan bupatinya yang membuat terobosan baru untuk menghentikan kebiasaan masyarakatnya yang dianggap boros terkait upacara orang meninggal dunia. Masyarakat Rote Ndao, selama ini, baru memakamkan orang meninggal setelah tujuh hari, dan selama tujuh hari itu, mereka berpesta dan potong satu sapi per hari.

Dengan kebiasaan lama itu, maka sulit menyejahterakan masyarakat wilayah ini. Masyarakatnya sering potong tujuh sapi jika ada orang meninggal, padahal kesejahteraan mereka masih kurang.

"Saya tidak punya agenda apa-apa datang ke sini (Rote Ndao, Red), saya hanya ingin ketemu Pak Bupati, hanya itu. Saya sudah mampir ke pulau-pulau besar di NTT, tapi belum pernah ke Rote Ndao, makanya ketika ada kunjungan ke Atambua, maka saya bela-belain ke Rote Ndao," ujar Dahlan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon