Adrian Bramantyo Musyanif
IJF, Proyek Idealis
Jumat, 30 Agustus 2013 | 12:59 WIB
Saat terdengar kabar tentang akan diselenggarakannya "Indonesian Jass Festival" (IJF) akhir bulan ini, banyak yang bertanya-tanya, apakah panitia salah mengeja nama event tersebut. Ternyata tidak, justru penggunaan kata "jass" dalam Indonesian Jass Festival disengaja oleh panitia. Selain sebagai pembeda dari gelaran musik jaz lainnya, penggunaan kata jass juga merujuk pada sejarah bahwa band pertama yang merekam album jaz pada 1917 bernama "The Original Dixieland Jass Band".
Adalah Adrian Bramantyo Musyanif, seorang musisi yang dikenal sebagai pembetot bas grup musik Yovie & Nuno, yang juga merupakan direktur Alba Production, event organizer yang berada di balik gelaran IJF pertama ini.
Bram pertama kali bermain alat musik saat masih duduk di bangku SMP Al-Azhar, Jakarta. Awalnya Bram mempelajari gitar dan drum. Ketika masih menjadi mahasiswa di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI), ia tidak lolos sebagai gitaris dalam sebuah audisi. Tidak lama setelahnya, ketika ada "Jazz Goes to Campus", ia melihat Dody Isnaini, pemain bas Kahitna tampil. Dari sana awal ketertarikan Bram mempelajari bas dan beralih menjadi bassist pun muncul.
Selain menjadi bass player di Yovie & Nuno, alumnus SMAN 28 ini juga tergabung dalam band BAG+Beat serta kerap mengiringi Marcell. Keseharian Bram di luar dunia musik disibukkan dengan berbagai pekerjaannya, seperti sebagai CEO PT Dream Food, Research & Development Director PT Saligading Bersama yang bergerak dalam industri properti, dan lain sebagainya. Kesibukan luar biasa yang dihadapi Bram setiap hari menuntutnya untuk pandai membagi-bagi waktu secara profesional. Untuk tampil bermusik, biasanya ia menyediakan waktu pada akhir pekan. Sementara untuk berlatih, biasa dilakoninya setelah jam kerja.
Untuk melepas lelah dan penat, Bram yang hobi bermotor ini biasanya memiliki agenda bersama komunitas motor trail yang diikutinya. "Bermotor menjadi salah satu caraku untuk refresh dari lelah dan penat," kata pengidola Nathan East, bassist Fourplay ini.
Pengalaman paling berkesan yang dirasakan Bram selama menjadi bassist adalah ketika tampil di arena Pekan Raya Jakarta (PRJ) tahun 2012 lalu. Antusiasme penonton yang luar biasa membuat pengalaman manggung saat itu tidak terlupakan. Selain itu, memori saat debut bersama BAG+Beat di Java Soulnation Festival tahun 2010 juga menjadi kenangan manis. Bagi Bram, jaz itu masalah rasa. Ada kenikmatan tersendiri saat memainkan musik jaz yang rasanya priceless, tidak bisa diukur dengan harga.
Keluarga sangat berperan dalam perjalanan karier seorang Bram. Istrinya Lolly Ariesty dan anaknya Abraraza Adriano Musyanif, selain menjadi pendukung setia Bram, juga selalu menjadi moodbuster bagi Bram yang harus menjalani banyak aktivitas dalam kesehariannya.
Apresiasi Musisi Lokal
Tentang perkembangan jaz di Tanah Air, Bram menyebutknya cukup menggembirakan. "Semakin banyak event jaz digelar dengan keunikan masing-masing. Mulai dari yang sudah punya nama sampai event skala kecil semakin sering digelar, Tantangan musik jaz justru datang dari masyarakat. Sejauh mana penerimaan masyarakat terhadap musik jaz," jelas pria berusia 25 tahun ini.
"Kita sama-sama tahu seperti apa selera musik yang diminati masyarakat. Maka dari itu, masyarakat perlu diedukasi tentang kualitas musik. IJF adalah salah satu langkah kami untuk mengedukasi masyarakat tentang kualitas musik," tambah Bram.
IJF digelar sebagai ajang komunikasi antar penikmat dan musisi jaz, baik pemula maupun yang sudah senior, bahkan yang melegenda. Sebagai sebuah persembahan untuk Indonesia, IJF bertabur unsur idealisme. Tentu harapannya, IJF dapat menjadi salah satu alat pemersatu bangsa, pemupuk rasa nasionalisme, dan yang terpenting tentunya adalah turut mengembangkan musik, khususnya musik jaz di Indonesia. "IJF ini nonprofit oriented," ujarnya.
Ide penyelenggaraan IJF juga awalnya muncul karena keprihatinan. Dalam beberapa tahun belakangan, Indonesia menjadi pasar musisi dunia. Para musisi ternama dunia, mulai dari Justin Bieber, Evanescence, Simple Plan, Secondhand Serenade, sampai yang teranyar, band rock Metallica, telah unjuk kualitas bermusik dan memuaskan fansnya. Ribuan, bahkan puluhan ribu masyarakat Indonesia selalu antusias menyambut dan mengapresiasi kehadiran musisi internasional tersebut.
Lalu ke mana para musisi lokal? Bagaimana masyarakat mengapresiasi mereka? IJF sendiri akan berlangsung di Istora Senayan, Jakarta, Jumat-Sabtu, 30-31 Agustus 2013. Musisi yang akan berpartisipasi dalam IJF, di antaranya Maliq n D’Essential, Idang Rasjidi, Gugun & The Blues Shelter, Andien, Syaharani & Queen Fireworks, Inna Kamarie, The Groove, B.I.P, Soulvibe, Indro Hardjodikoro, Ireng Maulana, Mus Mudjiono, Balawan, Benny Likumahuwa, Harry Toledo, Baron, Monita Tahalea, Sandy Winarta Quartet, Beben Jazz & Friends, Bagbeat, dan masih banyak lainnya. Kemeriahan dan kualitas menjadi jaminan dalam IJF pertama ini.
"IJF dirancang sebagai ajang apresiasi pada talenta-talenta musik lokal. IJF memberikan panggung untuk tampil dan memperlihatkan bahwa musisi lokal punya kualitas, tidak kalah hebat dari para musisi internasional yang tiap kehadirannya selalu disambut gegap gempita oleh pecinta musik di Tanah Air," tutup Bram.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




