Warga Aceh Usulkan Wacana Mengganti Istilah Tsunami dengan Smong
Kamis, 26 Desember 2013 | 23:24 WIB
Jakarta - Ketua Taman Iskandar Muda, Surya Darma, mengajak warga Aceh di Jakarta melakukan refleksi sembilan tahun tsunami Aceh. Bertempat di Mess Aceh, Jakarta Pusat, Kamis (26/12) malam, ia mengajak untuk tidak terbawa budaya luar yang tidak sesuai dengan budaya Aceh.
"Beberapa waktu lalu saya ketemu Ibu Wakil Walikota Banda Aceh (Illiza Saaduddin). Beliau cerita saat ini sedang gencar memerangi kemaksiatan di Aceh," kata Surya Darma dalam acara 'Peringatan 9 Tahun Smong'.
Surya melanjutkan, berdasar cerita yang ia dengar, pasca tsunami, Aceh terbebas dari konflik. Namun di sisi lain ada banyak budaya luar yang masuk. Sayangnya budaya itu sering tidak cocok dengan budaya Aceh.
Ia mencontohkan, saat ini banyak tumbuh kafe di Aceh. Bagus untuk perekonomian memang, namun sayang banyak kafe itu yang tetap buka saat tiba waktu maghrib, isya, bahkan hingga subuh.
Sepatutnya, daripada menginternalkan budaya inyernasional, begitu istilah Surya, jauh lebih baik menginternasionalkan budaya Aceh.
"Sebetulnya kita sudah punya istilah untuk tsunami, yaitu smong. Namun saya tidak pernah kita kenalkan di dunia. Akhirnya Jepanglah yang menginternasionalkannya dengan tsunami," jelas Surya.
Menanggapi itu, hadirin pun kemudian mengusulkan ide untuk membuat istilah smong diterima dunia. Sebagai alternatif tsunami yang dalam bahasa Jepang yang berarti gelombang pantai.
Surya pun memang berniat membuat istilah smong dikenal luas, setidaknya di tingkat nasional. Namun perlu dikaji terlebih dulu, mana istilah yang lebih dulu muncul antara smong dengan tsunami.
"Kalau tidak salah (istilah) smong ini sudah ada sejak tahun 1700-an di Simeulue," ungkap Surya.
Catatan sejarah Thucydides menyebutkan tsunami pertama terjadi di Yunani pada 426 SM.
Pemain cello, biola, dan penyair berkolaborasi ikut serta dengan menyajikan puisi berjudul 'Smong'. Puisi berbahasa Aceh itu berisikan kenangan sekaligus cara untuk selamat dari smong.
"Bocah-bocah tergulung bagai kapas oleh ombak laut,"
"Jangan kau cari Meulaboh! Jangan kau cari Simeulue! Peta-peta sudah terlipat digulung ombak laut,"
"Naiklah ke dataran tinggi! Larilah!"
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




