Davy J Tuilan

Gabungkan Hobi Moge dan Fotografi

Jumat, 11 April 2014 | 11:31 WIB
C
AB
Penulis: C01 | Editor: AB
Davy J Tuilan, 4W Sales, Marketing, and DND Director PT Suzuki Indomobil Sales
Davy J Tuilan, 4W Sales, Marketing, and DND Director PT Suzuki Indomobil Sales (Istimewa)

Di sela kesibukan sebagai 4W Sales, Marketing, and DND Director PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), Davy J Tuilan masih sempat menyalurkan beberapa hobinya. Kegiatan yang kerap dia jalani ketika waktu luang cukup banyak, antara lain bermain tenis meja, karaoke, merawat ikan koi, fotografi, dan jalan-jalan dengan motor gedenya (moge).

Davy mengaku baru mulai mengendarai moge sejak dua tahun terakhir. Ketika momen liburan panjang, dia pun suka mengendarai motor gedenya, Suzuki Intruder 1500 cc, hingga ke luar kota. Bahkan, Davy pernah membawa mogenya dari Cirebon, Jawa Barat, hingga Denpasar, Bali.

"Tadinya, saya juga tidak suka naik motor, tapi dua tahun lalu, tiba-tiba ingin naik. Tadinya juga inginnya beli motor biasa yang 250 cc, karena sejak kerja selalu pakai mobil. Baru dua tahun lalu, setelah test drive, motor gede ternyata lebih nyaman," ujar Davy, baru-baru ini.

Salah satu yang membuatnya mulai suka mengendarai moge karena banyak mendapatkan ide dan inspirasi, terutama yang berhubungan dengan pekerjaan. Ketika mendapatkan ide, dia akan langsung berhenti untuk mencatat idenya agar tidak lupa dan akan diimplementasikanya di kantor.

Meskipun hobi kegiatan mengendarai moge terbilang baru, dia tidak seperti pemula lainnya yang menggebu-gebu untuk langsung mengoleksinya. Motor gede justru lebih suka dia gunakan untuk berjalan-jalan ke luar kota ketimbang hanya sekadar untuk koleksi di rumahnya.

Ketika berkendara, hobi fotografi yang sudah dijalaninya sejak delapan tahun lalu juga tidak boleh terlewat. Davy selalu membawa kamera ke mana pun berkendara. "Selain suka solo riding, saya suka berhenti untuk mencatat ide dan memotret. Banyak hal yang saya dapatkan ketika riding, termasuk menyalurkan hobi memotret," jelasnya.

Dia melanjutkan, seperti hobi moge, pada awalnya juga tidak menyukai fotografi. Baru setelah teman-temannya banyak menggeluti bidang tersebut, dia banyak melihat hasil fotonya dan mulai tertarik. Setelah itu, dia mulai mengoleksi foto hasil jepretan sendiri.

Hingga dua tahun lalu, Davy masih rajin meluangkan waktu untuk hunting foto. Bahkan, hingga menjelajahi Kalimantan hanya untuk menambah koleksi fotonya. "Fotonya saya cetak, saya jadikan koleksi. Setiap jalan, saya akan bawa kamera. Waktu di Kalimantan, saya suka foto makro, salah satunya untuk objek lalat," imbuhnya.

Selain ke Kalimantan, tempat menarik baginya untuk dijadikan objek foto adalah Bromo di Jawa Timur dan Denpasar. Di Jakarta pun, dia kadang suka mengambil gambar. Ketika cuaca di Jakarta sedang cerah, pemandangan di luar kantor sering kali diabadikannya.

"Di Jakarta juga bagus. Kalau cuaca sedang bagus kan sunset Jakarta juga menarik untuk difoto," ujar Davy.

Semua foto hasil jepretannya sejauh ini hanya dijadikan koleksi pribadi. Kebanyakan dia cetak dan dipajang di rumahnya. Meski beberapa kali ada temannya yang menawarkan untuk ikut dan mengadakan pameran, tawaran itu selalu ditolaknya.

"Kalau sampai dua tahun lalu, saya masih rajin hunting. Tapi sekarang, kalau libur panjang saja, sekalian saya riding, saya bawa kamera," tuturnya.

Pilihan Kamera
Untuk koleksi kamera dan lensa, Davy mengaku lebih memilih untuk membeli yang berkualitas dibandingkan dengan yang harganya mahal. Menurut dia, kebanyakan fotografer, terutama yang masih pemula, masih berpikir semakin mahal lensa dan kamera semakin bagus pula hasil fotonya. Padahal, hal tersebut tidak selalu benar. Sebab, bagus tidaknya hasil jepretan foto bergantung pada cara pandang terhadap objeknya.

"Fotografi itu butuh kesabaran, harus sabar menunggu momen, dan tekniknya juga harus menguasai. Dalam fotografi, itu tidak bisa terburu-buru, kita harus punya waktu yang cukup," jelasnya.

Namun, dia juga mamahaminya. Pada awal menggeluti hobi fotografi, Davy pun berbuat sama dengan membeli kamera foto yang berharga hingga puluhan juta rupiah. Namun, ternyata, hasil fotonya tidak sebagus harapannya.

Dia justru pernah mendapatkan hasil foto yang lebih bagus dengan menggunakan kamera dan yang harga yang lebih terjangkau. Dari situ, Davy mulai menyadari bahwa bagus atau tidaknya sebuah hasil jepretan tergantung pada kemampuan fotografer sendiri.

Karena hobinya tersebut, dia pun sampai berandai-andai, jika saja saat ini tidak bekerja di SIS, profesi fotografer profesional sangat menarik untuk dijalaninya. Selain itu, Davy tertarik untuk menjadi pengajar karena merupakan salah satu kelebihannya yang lain. Bahkan, dia berpeluang menjadi pelatih fotografi meskipun merasa ilmunya belum cukup.

"Saya ingin juga menjadi trainer untuk fotografi, tapi saya merasa ilmu belum cukup. Saya harus belajar lagi, kemudian dipraktikkan dulu, baru nanti ngajarin orang," papar Davy.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon