Pengamat Meminta Politik Intimidatif Lewat Rencana Pengerahan Massa Dihentikan

Jumat, 18 Juli 2014 | 16:54 WIB
MS
B
Penulis: Markus Junainto Sihaloho | Editor: B1
Massa pendukung dan simpatisan calon presiden Joko Widodo memadati lapangan Rejo Mulyo, Madiun, Jawa Timur, Sabtu (28/6).
Massa pendukung dan simpatisan calon presiden Joko Widodo memadati lapangan Rejo Mulyo, Madiun, Jawa Timur, Sabtu (28/6). (Suara Pembariuan/Joanito De Soajoao)

Jakarta - Rencana pengerahan massa dalam bentuk apel siaga dari kubu pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa pada tanggal 22 Juli ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) dinilai merupakan langkah politik yang intimidatif.

Penilaian tersebut disampaikan pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Ari Dwipayana, saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (18/7).

"Rencana pengerahan massa ke KPU pada saat penetapan hasil Pilpres tanggal 22 Juli merupakan politik intimidatif," kata Ari.

Ari menjelakan, proses rekapitulasi suara dalam Pilpres adalah proses yang berjenjang dimulai dari desa, kecamatan, kabupaten/kota sampai provinsi. Proses tersebut juga dilakukan secara terbuka, melibatkan berbagai pihak baik Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), pemantau independen, dan juga saksi dari masing-masing kandidat.

"Itu artinya upaya mengerahkan massa pada tanggal 22 Juli hanyalah mencari panggung pertunjukan yang tentu saja tidak ada urgensi pada proses perhitungan suara dan cenderung tidak percaya pada proses yang sudah berjalan," ujarnya.

Ari mengajak semua pihak harus mendukung KPU menjalankan tugasnya secara profesional dan independen tanpa harus mengintimidasinya. Menurut dia, pengerahan massa justru memunculkan kesan bahwa mereka tidak siap dengan keputusan rakyat dalam memilih pemimpinnya.

Seperti diketahui, ribuan relawan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa disebut akan dikerahkan untuk menjaga KPU saat pengumuman pemenang Pemilu Presiden 2014 pada 22 Juli mendatang. Menurut anggota Dewan Penasihat Tim Pemenangan Prabowo-Hatta, Yunus Yosfiah, dikerahkannya ribuan relawan itu bukan untuk menimbulkan kerusuhan. Sebaliknya, menurut dia, pengerahan relawan justru untuk menjaga suasana damai dan kondusif.

Sementara Kubu Jokowi-JK sudah menginstruksikan larangan adanya pengerahan massa pendukung jelang pengumuman 22 Juli mendatang.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon