Pemeriksaan Empat WNA Terkait ISIS Masih Terkendala Bahasa

Senin, 15 September 2014 | 14:51 WIB
H
B
Penulis: Herman | Editor: B1

Jakarta - Empat warga negara asing (WNA) yang ditangkap di wilayah Poso, Sulawesi Tengah, karena diduga terlibat jaringan ISIS hingga kini masih diperiksa secara intensif oleh tim Detasemen Khusus Antiteror 88 Polri di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok.

Menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Boy Rafli, pemeriksaan empat WNA yang sebelumnya diduga berkebangsaan Turki tersebut mengalami masalah bahasa.

"Ada kendala bahasa, karena kami duga mereka fasih berbahas Turki, tetapi ternyata mereka menggunakan bahasa Uyghur. Informasinya mereka berasal dari Turkistan, namun menggunakan paspor Turki. Kami masih mencari ahli bahasa, karena bahasa Inggris pun juga tidak fasih," kata Boy Rafli di sela acara peringatan "Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia" yang digelar Kementerian Kesehatan RI di Jakarta, Senin (15/9).

Di samping itu, tim penyidik juga akan mengklarifikasi masalah paspor keempat WNA tersebut kepada Kedutaan Besar Turki. "Melihat dari hasil pemeriksaan, mereka awalnya dari Turkistan, lalu menuju Kamboja menggunakan angkutan laut, kemudian menempuh jalur darat ke Thailand, Kuala Lumpur, Makassar, dan Palu. Saat di Tailand itulah mereka sempat membuat paspor. Dari keterangan sementara, mereka membayar US$ 1.000 untuk membuat paspor yang diduga palsu, namun informasi ini masih didalami keterangannya," lanjut dia.

Menurut Boy, keberadaan empat WNA ini di Poso memang diduga ada kaitannya dengan jaringan terorisme yang ada di wilayah tersebut. "Memang ada keterkaitan komunikasi mereka dengan jaringan teroris yang ada di Poso, yaitu dengan [salah satu oknum yang ada di Daftar Pencarian Orang (DPO)] berinisial M, yang diduga memfasilitasi mereka selama berada di sana. Dari sisi akomodasi, kos-kosan tempat mereka tinggal juga merupakan tempat yang kami identifikasi terkait dengan terorisme. Jadi ini indikasi awal yang membuat kami menelusuri lebih jauh, apakah ini bagian dari aktivitas jaringan terorisme. Karena kalau ke Poso itu lazimnya melakukan pelatihan dan aktivitas persiapan," jelasnya.

Karena itulah, tim penyidik masih memerlukan data-data pelengkap lainnya, termasuk dari ketiga warga negara Indonesia yang membantu mereka dalam hal transportasi menuju ke Poso. "Kami upayakan ketiga warga negara Indonesia tersebut juga akan dibawa ke Jakarta untuk digali informasinya lebih mendalam," jelas Boy.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon