Kebhinekaan Belum jadi Jati Diri Masyarakat
Selasa, 13 Januari 2015 | 19:49 WIB
Jakarta - Maarif Institue menggelar diskusi yang bertemakan Politik Kebhinekaan di Indonesia: Tantangan dan Harapan pada Selasa (13/1) di Aula Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat.
Diskusi tersebut menghadirkan Jalaluddin Rakhmat sebagai Cendekiawan Muslim dan Anggota DPR RI Komisi VIII, Sekretaris Umum PGI Pdt Gomar Gultom, dan Direktur Riset Maarif Institute Ahmad Fuad Fanani.
Diskusi digelar merujuk pada peristiwa kekinian yang terjadi yang mencuri perhatian dan rasa kemanusiaan. Pada awal Januari 2015, penyerangan dan pembunuhan di kantor redaksi majalah satir Charlie Hebdo, Paris.
Sedangkan, di akhir tahun 2014 kelompok Taliban di Pakistan melakukan serangan pada sekolah di Peshawar yang mengakibatkan sedikitnya 141 orang meninggal dunia, sebagian besarnya anak-anak sekolah.
Menurut Politikus PDI Perjuangan Jalaluddin Rakhmat, Kebhinekaan itu merupakan sunnatullah (ketentuan Allah) yang belum menjadi jati diri dan sikap hidup masyarakat.
Yang lebih ironis, kata dedengkot Ijabi ini, sikap hidup yang menjunjung sektarianisme (paham kelompok) dan intoleransi justru dijadikan acuan dan pegangan.
"Klaim tunggal kebenaran dan keinginan untuk memaksa orang lain mengikuti pendapatnya, sekalipun itu dengan paksaan, masih mendominasi wajah sosial, budaya, dan politik banyak orang di dunia," kata Kang Jalal, sapaan akrabnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




