Kearifan Islam untuk Masyarakat Majemuk
Selasa, 24 Februari 2015 | 19:12 WIB
Jakarta - Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sejatinya adalah penawar dari carut-marut kehidupan di Indonesia yang majemuk. Namun, banyak dari kita melupakan kata sakti tersebut. Alih-alih bersatu dalam perbedaan, intoleransi menjadi masalah yang hingga sekarang masih memprihatinkan.
Ma'arif Institute coba menawarkan bagaimana persoalan intoleransi yang kebanyakan bermula dari mayoritas Muslim yang tidak memiliki pemahaman mendalam mengenai Islam, sesungguhnya, penawar intoleransi dimiliki oleh pemikiran Islam itu sendiri. Menurut Buya Syafii Maarif dalam fikih atau kajian Islam, kepemimpinan dalam keberagaman menjadi salah satu isu yang diangkat.
"Konstitusi di Indonesia tidak mengenal masyarakat mayoritas maupun minoritas. Namun dalam praktek kehidupan sehari-hari hal itu masih terlihat jelas. Sering terjadi penolakan kuat dan disertai justifikasi keagamaan, jika daerah mayoritas muslim dipimpin oleh non muslim atau sebaliknya," kata Buya Syafii Maarif dalam pembukaan seminar bertajuk 'Fikih dan Tantangan Kepemimpinan dalam Masyarakat Majemuk' di Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (24/02).
Intoleransi demikian tampak pada kasus Ahok yang menjadi Gubernur DKI Jakarta dan Lurah Susan yang menjadi Lurah Lenteng Agung. Bahkan penolakan seperti itu kadang berujung pada kekerasan.
Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan pandangannya pentingnya toleransi umat beragama. Menurutnya, dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, demokrasi juga berarti mengakui kepemimpinan dari kalangan manapun.
"Karena hal itu konstitusional. UUD 1945 menyatakan negara melindungi segenap warga negaranya dan semuanya berhak mendapat hak ekonomi, sosial, politik dan budaya tanpa ada diskriminasi," ujarnya.
Buya Maarif melanjutkan, fikih atau ajaran Islam yang sebenarnya mampu menjawab berbagai persoalan tersebut. "Sayangnya fikih yang mengatur soal kebhinnekaan dan kepemimpinan dalam masyarakat majemuk belum jadi wacana publik," imbuhnya.
Piagam madinah merupakan contoh maha karya tentang bagaimana Nabi Muhammad mengatur masyarakat dalam kepemimpinan masyarakat majemuk.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




