CTI Ajak Masyarakat Cintai Karya Tenun Nusantara

Rabu, 25 Februari 2015 | 16:30 WIB
AP
FH
Penulis: Astari Fitria Putri | Editor: FER
Beberapa koleksi Songket Limar Bintang Tabur Emas dan Sutera (22 karat) miliki Dewi Arimbi yang dipamerkan di Pejaten House, Jakarta, 25 Februari 2015
Beberapa koleksi Songket Limar Bintang Tabur Emas dan Sutera (22 karat) miliki Dewi Arimbi yang dipamerkan di Pejaten House, Jakarta, 25 Februari 2015 (BeritaSatu.com/Astari Fitria)

Jakarta - Kemajuan teknologi membuat teknik menenun sekarang cenderung lebih cepat karena menggunakan mesin. Namun, di sisi lain tenun dengan teknik lama seringkali dikeluhkan masyarakat karena harganya yang cenderung lebih mahal.

"Kita harus hargai penenun. Teknik tenun itu sulit. Kami ingin kesejahteraan penenun lebih baik. Masyarakat jangan ngeluh harga mahal saja, tapi harus tau prosesnya yang sulit. Rata-rata penenun juga usianya sudah lanjut. Belum banyak penerus," ujar salah satu anggota Cita Tenun Indonesia (CTI), Sjamsidar Isa di Pejaten House, Jakarta, Rabu (25/2).

Menurut Sjamsidar, ada banyak ragam hias tenun di Indonesia. Salah satu yang paling sulit dalam proses pembuatannya adalah Gringsing. Untuk membentuk satu warna perlu berkali-kali dicelup, karena menggunakan pewarnaan alam. Setelahnya baru bisa ditenun.

Selain dari sisi penenunnya, bahan baku dan peralatan untuk menenun juga terbatas dan banyak yang tidak memadai. Akses pemasaran dan promosinya pun diklaim masih belum maksimal.

"Kami ingin angkat tenun sesuai visi misi Cita Tenun Indonesia (CTI), yakni melestarikan tenun sebagai warisan budaya. Kami akan kerjasama dengan tenaga ahli untuk proses pewarnaan alam dan sintesis, juga dengan tenaga ahli pemasarannya," ujar Sjamsidar.

Namun ia menyayangkan banyak pengrajin tenun yang memodifikasi kain tenun secara berlebihan dan menghilangkan ciri khas. Ia mengimbau agar pengrajin tenun jangan sampai menghilangkan identitas asli dari kain tenun itu sendiri.

"Misalnya songket Palembang. Kadang suka ada yang ditambah bordir. Padahal menurut saya itu justru mengurangi keindahannya, apalagi yang digunakan bordir mesin," ujar Sjamsidar.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon