Grup Barito Ekspansi US$ 1 Miliar
Selasa, 10 Maret 2015 | 06:10 WIB
Jakarta– PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), dua perusahaan milik Prajogo Pangestu, siap mengucurkan dana sebesar US$ 1,05 miliar atau sekitar Rp 13,7 triliun untuk ekspansi pembangkit listrik dan kilang nafta.
Sesuai rencana, Chandra Asri yang merupakan anak usaha Barito Pacific akan membangun kilang nafta baru senilai US$ 740 juta (Rp 9,6 triliun). Sementara itu, Barito Pacific akan mendirikan pembangkit listrik atau power plant senilai US$ 317 juta (Rp 4 triliun).
Vice President for Corporate Relations Chandra Asri Suhat Miyarso mengatakan, kilang nafta akan dibangun di Cilegon, Provinsi Banten. Pembangunan bakal dilakukan di atas area pabrik seluas 80 hektare (ha) milik perseroan.
"Pengembangan dan studi awal akan menggunakan sebagian dana capex 2015. Jika berjalan lancar, produksi diharapkan dapat mulai pada 2018," kata Suhat di Jakarta, baru-baru ini.
Suhat menambahkan, kapasitas produksi kilang baru ditargetkan mencapai 100.000 barel feedstock kondesat per hari atau sama dengan 2,5 juta ton nafta per tahun. Sekitar 1,3 juta ton nafta ringan selanjutnya akan digunakan untuk memproduksi olefin.
Dengan demikian, perseroan dapat memangkas biaya impor bahan baku. Saat ini, perseroan masih harus mendatangkan 1,7 juta ton nafta per tahun dari Timur Tengah dan Singapura.
Pada akhir tahun lalu, Chandra Asri telah meneken nota kesepahaman (MoU) dengan BP Singapore Pte Ltd untuk mengembangkan proyek condensate splitter. Sebelumnya, proyek itu telah melalui feasibility study selama dua tahun.
Sementara itu, berdasarkan catatan Investor Daily, Chandra Asri melalui anak usahanya, PT Petrokimia Butadine Indonesia (PBI), juga sedang dalam proses pembangunan pabrik bahan baku ban. Nilai pembangunan pabrik mencapai US$ 435 juta.
Pabrik tersebut merupakan hasil patungan dengan perusahaan asal Prancis, Compagnie Financiere Michelin. Chandra Asri memiliki 45 persen saham pada perusahaan patungan, sedangkan Michelin menguasai 55 persen.
Selain itu, Chandra Asri juga dalam proses ekspansi ethylene cracker dari saat ini berkapasitas 600.000 ton per tahun menjadi 820.000 ton per tahun pada akhir 2015. Nilai investasi sebesar US$ 380 juta atau Rp 4,9 triliun.
Pembangkit Listrik
Pada saat yang sama, Barito Pacific akan membangun pembangkit listrik dengan kapasitas 150 megawatt (MW). Investasi tahap awal diperkirakan mencapai Rp 4 triliun.
Presiden Direktur Barito Pacific Agus Salim Pangestu mengatakan, pembangkit listrik itu juga akan dibangun di kawasan pabrik Cilegon. Perseroan masih mengkaji jenis bahan bakar power plant, yakni batu bara atau gas. Namun, pendanaan untuk proyek tersebut sudah disiapkan.
"Kami memang ingin membangun kapasitas 150 MW. Namun, kami juga sedang mempertimbangkan apakah akan sekaligus membangun pembangkit listrik berskala besar, mencapai 1.000 MW. Hal ini untuk menekan biaya investasi sekaligus operasional," kata Agus.
Menurut dia, pembangunan power plant berskala besar dapat membantu menghemat biaya operasional hingga 40 persen. Selain itu, dana investasi juga diprediksi lebih murah.
Agus mengatakan, groundbreaking proses konstruksi diharapkan dapat dilakukan tahun depan. Dengan demikian, pembangkit listrik diharapkan dapat mulai beroperasi pada 2019.
Hingga September 2014, Barito Pacific mencatat pendapatan sebesar US$ 1,9 miliar atau naik 5,5 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya US$ 1,8 miliar. Sementara itu, rugi bersih tercatat sebesar US$ 8,1 juta atau menurun 125,8 persen dibandingkan kuartal III – 2013 yang senilai US$ 31,3 juta.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




