Bom di Depok Diracik dari Bahan Murah yang Bisa Didapat di Toko Kimia
Minggu, 15 Maret 2015 | 19:07 WIB
Jakarta - Penyidik dan analis di laboratorium forensik Mabes Polri berhasil mengurai unsur-unsur dari bom kimia yang diletakkan di Mall ITC Depok, Jawa Barat pada 23 Februari lalu yang hanya meletup kecil.
"Ada lima unsur kimia di dalam larutan kimia itu, yang tentu tidak bisa kami publikasikan karena nanti bisa ditiru. Lima zat itu didapatkan setelah kami urai di laboratorium forensik. Gawatnya, unsur-unsur itu bisa dibeli di toko kimia biasa," kata seorang sumber yang menangani kasus ini pada Beritasatu.com, Jakarta, Minggu (15/3).
Sumber yang paham benar urusan bom rakitan itu melanjutkan, salah satu unsur dominan dalam cairan kimia itu adalah kaporit yang dicampur sedemikian rupa dengan komposisi tertentu hingga bisa menghasilkan kandungan yang mematikan.
Bom kimia itu, menurut sumber tersebut, juga menggunakan pemicu yang, sedikit rumit tetapi bisa dipelajari. "Yaitu ada unsur filamen dari bola lampu dan karbit. Harapannya karbit akan mendidih karena filamen yang memanas setelah dipicu baterai dan memecahkan wadah yang memuat cairan kimia itu," kata dia.
Mengenai bom itu gagal menyebabkan reaksi yang menimbulkan gas sarin, ia menerangkana, "Karena ada unsur yang salah. Kita bersyukur, alhamdulilah," jawabnya.
Sumber yang tak mau disebut namanya itu memberi ilustrasi jika sampai cairan itu bereaksi sempurna dan menimbulkan gas sarin maka itu akan menimbulkan dampak serius.
"Sebab, di toilet mal itu ada exhaust fan yang terhubung dengan sistem sirkulasi udara di mal. Bayangkan saja akibatnya jika gas itu terbentuk dan lalu masuk ke sistem sirkulasi udara. Ini sungguh berbahaya dan kita perlu mengedukasi publik bahaya bom kimia ini. Ini dirty bomb," tegasnya.
Seperti diberitakan, penyidik Polri telah memastikan cairan kimia yang tidak meledak itu dipastikan adalah campuran berbahaya yang bisa menyebabkan gas klorin dan merupakan tindakan teror.
Seorang penyidik Densus sebelumnya mengatakan pada Beritasatu.com bisa jadi pelakunya terkait dengan jaringan Santhanam yang ditangkap pada Juni 2011 lalu.
Santhanam saat itu ditangkap bersama dengan lima orang rekannya karena berencana menyebarkan racun sianida di kantin kantor polsek, polres, dan kantin Polda Metro Jaya.
Dalam satu kesaksiannya, jaringan mereka waktu itu menyatakan juga belajar membuat gas klorin. Maka itu Densus sedang mendalami apakah ini ada kaitannya dengan Santhanam.
Sumber anggota Densus lainnya menambahkan, selain mencurigai jaringan Santhanam mereka juga melakukan mapping jika cairan itu dirakit oleh jihadis Indonesia yang sempat bergabung dengan ISIS di Suriah.
Itu karena klorin sedang populer digunakan di Suriah. Apalagi saat ini banyak sekali orang Indonesia eks ISIS yang sudah kembali.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




