Adityawarman
Mencintai Pekerjaan Adalah Seni Kehidupan
Selasa, 17 Maret 2015 | 15:48 WIB
Sudah 32 tahun Adityawarman malang-melintang dan merasakan pahit-manis industri jalan tol. Ia memilih bekerja pada industri jalan tol selepas mengenyam pendidikan S1 Teknik Sipil di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.
Adit, begitu eksekutif ini disapa, bergabung dengan PT Jasa Marga (Persero) Tbk pada 1983. Ia terpilih menjadi direktur utama emiten bersandi saham JSMR itu dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) pada 2012. Sebelumnya, Adit sempat memangku jabatan-jabatan penting di berbagai anak usaha Jasa Marga dan konsorsiumnya.
Suami Dyah Sulistyawati ini mengaku sangat mencintai pekerjaannya. Itu sebabnya, ia selalu bekerja dengan semangat menyala-nyala. "Saya selalu berupaya untuk menanamkan rasa cinta terhadap pekerjaan apa pun yang saya dapatkan. Itu bagian dari seni kehidupan saya," tutur pria kelahiran Palembang, 25 Oktober 1955 ini.
Bagi Adit, membangun jalan tol sama dengan membangun kehidupan bagi masyarakat. "Keberadaan infrastruktur jalan, utamanya jalan tol, juga akan membuka akses bagi daerah-daerah yang selama ini terisolasi, sehingga masyarakat di daerah terpencil bisa memperoleh akses pendidikan dan pelayanan kesehatan, dan kesejahteraannya meningkat," paparnya.
Hingga akhir tahun ini, Adit optimistis mampu mengantarkan perusahaan yang dipimpinnya meraih konsesi tol sepanjang 1.000 km, sekaligus menguatkan peranan BUMN pengelola jalan tol tersebut dalam membangun infrastruktur di dalam negeri. Saat ini, Jasa Marga menguasai 10 ruas tol, sehingga tercatat sebagai perusahaan yang paling banyak memegang konsesi jalan tol di Tanah Air.
Apa yang membuat Adit tertarik dan memilih industri jalan tol sebagai kariernya? Bagaimana ia mengawali karier hingga menjadi orang nomor satu di perusahaan pelat merah pengelola jalan tol tersebut? Mengapa industri jalan tol dianggap penuh tantangan sekaligus pengharapan? Berikut penuturan lengkap Adityawarman di Jakarta, belum lama ini.
Bisa diceritakan latar belakang dan perjalanan karier Anda di bidang pengelolaan jalan tol?
Saya dulu sekolah di teknik sipil. Setelah lulus dari universitas, saya memilih bekerja dengan Jasa Marga karena perusahaan tersebut selaras dengan latar belakang pendidikan saya. Waktu saya masuk ke sini dulu, Jasa Marga masih muda sekali, sehingga saya merasa tantangan dan peluangnya akan luar biasa. Terbukti pilihan saya enggak salah.
Saya selalu bekerja dengan semangat, mencoba mencintai pekerjaan yang saya dapatkan. Itu bagian dari seni kehidupan saya. Memilih karier di bidang ini juga menjadi amanah bagi saya. Dalam bekerja, ada dua hal yang selalu saya ingat. Pertama, kepercayaan itu mahal sehingga saya harus terus menjaganya. Kedua, dalam berkarier, hanya hak saya yang boleh saya ambil.
Apa yang Anda temukan di perusahaan ini?
Yang membuat saya semangat pertama kali bekerja di sini adalah kami sebagai junior mendapat kesempatan yang sama dengan senior untuk berkompetisi dan berprestasi. Kami sangat dihargai. Itu yang memacu kami untuk terus berprestasi.
Dulu cita-cita menjadi kepala cabang saja sudah sangat luar biasa bagi saya. Lebih dari itu adalah hadiah bagi saya. Sekarang saya menjadi direktur utama, ini merupakan berkah sekaligus kepercayaan yang besar bagi saya. Sebelumnya saya tidak pernah berkhayal menjadi direksi. Saya hanya mau bekerja dengan baik. Kalau hasil kerja saya sudah diapresasi atasan, saya sudah sangat bersyukur.
Tapi di Jasa Marga ini juga saya mendapat berbagai pelajaran seperti bekerja secara profesional. Sebagai atasan atau pemimpin, kami memilih dan menempatkan bawahan sesuai kapasitas dan track record mereka. Kami juga belajar bagaimana bertahan dalam krisis dan bagaimana berjuang di roda atau posisi yang baru.
Kiat Anda memimpin karyawan dan menyelesaikan krisis di perusahaan?
Pada awal terpilih menjadi direktur utama, saya langsung membuat komitmen bersama, terutama dengan jajaran satu tingkat di bawah direksi. Kami menyusun visi-misi perusahaan. Itu karena saya percaya bahwa visi-misi yang terbaik bukan dari atas ke bawah, tapi dari bawah ke atas. Saya mendengar aspirasi mereka untuk membuat visi-misi perusahaan, karena nanti diturunkan menjadi rencana strategis dan kebijakan. Dengan demikian kami bisa terjemahkan apa yang akan dicapai sampai tahun 2022.
Saya orang yang selalu memberi solusi, bukan perintah. Saya memberi contoh, juga penerapannya. Selanjutnya, saya selalu kasih kepercayaan sepenuhnya kepada karyawan. Saya akan melihat apakah mereka bekerja sesuai dengan yang saya inginkan atau saya instruksikan. Sebab, semua harus bekerja sesuai komitmen yang sudah kami sepakati bersama sebelumnya. Jika ada yang melanggar, saya akan ganti atau berhentikan. Tapi ini bukan karena kekuasaan saya, melainkan karena prestasi mereka yang buruk. Dalam menghadapi masalah, saya selalu bilang ke anak buah saya, "Kamu harus berjuang, sampai mati kalau perlu. Sebelum kamu berkorban, kamu enggak boleh kalah."
Apa strategi Anda dalam memajukan perusahaan di tengah percepatan pembangunan infrastruktur?
Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) saat ini mencanangkan program pembangunan jalan tol sepanjang 1.000 km. Kesempatan ini yang akan kami manfaatkan untuk Jasa Marga agar bisa berperan sebagai pembangun dan pengelola jalan tol. Saat ini kami sudah mengelola sekitar 799 km jalan tol dan hingga akhir 2015 akan mengupayakan konsesi tambahan sekitar 200 km.
Di dalam bisnis, kita juga harus menanamkan iktikad baik dengan mitra kerja. Saat ini Jasa Marga memiliiki rekanan kerja, dari mulai perusahaan BUMN, swasta nasional, bahkan asing banyak yang mau masuk. Kami harus mencari mitra yang mau bekerja sama dalam jangka panjang. Sebelumnya kami harus ceritakan bagaimana karakter bisnis jalan tol, lalu kami melihat postur perusahaan mereka. Kalau salah pilih, sangat berisiko.
Upaya untuk mencapai target tersebut?
Kami sekarang mengelola hampir 800 km jalan tol. Kami sedang mengupayakan konsesi tambahannya tahun ini sekitar 200 km. Angka itu akan diperoleh dari akuisisi jalan tol yang prosesnya sedang berjalan. Sekitar 180 km berasal dari ruas tol Solo-Ngawi-Kertosono dan 10 km dari Serpong-Cinere. Kami juga sedang mengikuti tender jalan tol Pasirkoja-Soreang di Jawa Barat sepanjang 10 km.
Target lainnya, yaitu jalan tol Manado-Bitung sepanjang 39 km yang sedang dalam tahapan persiapan tender oleh pemerintah. Tahap tender akan dimulai saat pembebasan tanah mencapai 75 persen. Selain itu, pemerintah sedang menyiapkan pembangunan jalan tol Samarinda-Balikpapan sepanjang 100 km. Tol ini juga masuk daftar target tambahan konsesi Jasa Marga.
Inovasi Anda di Jasa Marga?
Kami melakukan efisiensi transaksi dengan menggunakan layanan e-toll card di gerbang tol otomatis (GTO). Ini merupakan upaya kami mendorong penggunaan uang elektronik atau nontunai. Kami sudah memperbanyak GTO hingga mencapai 40 persen dari total jumlah gerbang. Kami akan meningkatkannya hingga 80 persen pada 2017.
Kami juga berani membuat gardu sebanyak 37 gardu di lahan sempit, padahal jarak antargardu itu sekitar 5 meter. Kami enggak punya lahan seluas itu. Akhirnya saya bikin gerbang tol serong di Cimanggis. Itu tercetus spontan ketika ada di lapangan. Dengan kondisi lahan yang sempit, kami harus bikin gardu banyak supaya transaksi lebih cepat dan tidak menciptakan antrean, karena gerbang Cimanggis itu merupakan salah satu yang padat. Akhirnya kami melakukan inovasi, yakni membuat cluster dengan gerbang tol miring. Perhitungannya harus tepat karena konsekuensinya bisa terjadi tabrakan
Hal lain yang ingin Anda capai di Jasa Marga?
Kami sudah merencanakan pada 2017 Jasa Marga menjadi perusahaan terkemuka di bidang pengusahaan jalan tol. Selanjutnya pada 2022 kami harus menjadi perusahaan terkemuka secara nasional, bukan hanya di bidang jalan tol, tapi di banyak bidang. Untuk itu, kami membentuk beberapa anak perusahaan, seperti yang bergerak di bidang properti. Tapi kami tetap fokus di tol.
Hingga saat ini kami harus bersyukur karena Jasa Marga merupakan BUMN yang ditugasi membangun jalan tol dengan jumlah paling banyak, yakni 10 ruas tol. Ini artinya, kepercayaan pemerintah masih terus ada untuk kami. Jadi, itu yang saya syukuri, kami bisa pertahankan mayoritas industri jalan tol. Obsesi yang belum tercapai adalah bagaimana Jasa Marga bisa mengoperasikan tol sepanjang lebih dari 1.000 km. Target kami, sampai akhir 2015 Jasa Marga bisa pegang konsesi di atas 1.000 km dari saat ini 799 km.
Filosofi hidup Anda?
Sungguh-sungguh dalam bekerja. Jangan berharap apa yang didapat dari pekerjaan, tapi apa yang bisa saya lakukan untuk pekerjaan yang dipercayakan kepada saya. Kedua, mungkin klasik, yaitu jujur dan integritas. Terakhir, saya harus mengemong, seperti orangtua, tidak bisa mengedepankan emosi.
Apa lagi yang ingin Anda kejar dalam hidup dan karier?
Jabatan itu tidak ada yang abadi, jabatan hanya datang sekali. Apa yang bisa dilakukan semaksimal mungkin dengan jabatan itu, harus dilakukan sekarang. Saat ini saya menjadi direktur utama, tapi tidak mungkin selamanya. Yang ada di benak saya adalah kalau semua itu sudah lewat, tidak ada lagi yang bisa saya perbuat. Jadi, mumpung ada di posisi ini, saya akan memberikan yang terbaik, untuk saat ini.
Peran keluarga dalam karier Anda?
Dulu saat saya masih menjadi kepala cabang, tujuh hari dalam seminggu saya ada di kantor. Orang menyebut istri pertama saya adalah kantor. Anak-anak juga demikian. Mereka bilang, kalau mau cari ayah saya, pasti ada di kantor. Tapi itu memang yang saya butuhkan dari mereka, yaitu full support untuk menerima kondisi dan kesibukan saya. Terkadang saya mengajak istri untuk menemani ke kantor atau ke lapangan pada hari Sabtu dan Minggu. Sekarang saya bersyukur keadaannya berubah. Saya punya waktu lebih untuk keluarga.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




