Indonesia Terus Upayakan Solusi untuk Konflik Laut China Selatan

Senin, 11 Mei 2015 | 19:22 WIB
LC
B
Penulis: Leonard AL Cahyoputra | Editor: B1
Kapal nelayan Tiongkok di Laut China Selatan.
Kapal nelayan Tiongkok di Laut China Selatan. (The Star)

Jakarta - Pemerintah Indonesia terus mengupayakan solusi bagi kepentingan beberapa negara di kawasan Laut China Selatan. Seperti diketahui, wilayah perairan di dekat kepulauan Natuna itu terkenal karena letak strategisnya di bidang logistik. Hal tersebut membuat banyak negara bersitegang untuk menguasai atau mencegah negara lain menguasai daerah itu.

Wakil Menteri Luar Negeri A.M. Fachir mengatakan, Indonesia bersikap mengupayakan solusi untuk negara-negara di kawasan yang berkonflik, seperti Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Singapura, dan negara lain. Hampir semua forum diupayakan untuk mencegah terjadinya perpecahan antarnegara dalam berebut wilayah laut itu. Hal ini dilakukan dengan melibatkan semua stakeholders dengan kontribusi Indonesia mendudukkan pihak-pihak terkait dalam satu meja.

"Konflik bukan suatu solusi, agar semua menampilkan kepentingan bersama. Kepentingan bersama itu adalah stabilitas," ucap Fachir di kantornya, Jakarta, Senin (11/5).

Sebelumnya, negara kawasan saat ini sedang berusaha mempercepat penyelesaian Code of Conduct (CoC). Kesepahaman bersama antarnegara kawasan itu berisi mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan terkait Laut China Selatan.

Direktur Jenderal kerjasama ASEAN Kementerian Luar Negeri RI, I Gusti Wesaka Puja menerangkan, para pemimpin negara ASEAN, pernah meminta RRT menahan diri melakukan tindakan provokatif di wilayah tersebut.

"Kami sedang menegosiasikan CoC on the South China Sea, ini imbauan dari kepala negara kan supaya CoC itu dipercepat penyelesaiannya, dan kami memang mendesak kepada RRT juga supaya proses ini dipercepat jangan diperlambat, itu di satu sisi," kata Puja.

Di sisi lain, para pemangku kepentingan di ASEAN juga meminta negara-negara untuk meminimalisasi ketegangan di Laut China Selatan. Pertimbangannya, jika sesuatu terjadi di objek negosiasi, maka dikhawatirkan akan memengaruhi proses lobi.

Puja juga memberi gambaran mengenai adanya sebuah jarak yang terlalu besar antara RRT dan negara-negara lain. Hal itu menyebabkan negosasi masih belum membuahkan hasil sampai saat ini. Faktanya, negosiasi CoC Laut China Selatan sudah terjadi sejak tahun 2011 lalu.

"Jadi ada dua hal, pertama kami mengimbau untuk semua pihak menahan diri. Kedua, kami maju terus dengan COC. Karena, apa yang terjadi sekarang ini adalah terjadi gap yang begitu besar, apa yang terjadi di lapangan yang situasinya memburuk dengan kemajuan yang sudah kami capai di perundingan negosiasi. Meskipun tidak besar, tetapi ini progres positif. Supaya gap itu jangan terlalu besar," tambahnya.

Sikap Tiongkok selama ini mempersulit negosiasi soal kesepahaman bersama ini. Negara komunis itu terkesan terus menggantung proses kesepakatan. Pemimpin ASEAN sudah pernah mengingatkan Tiongkok untuk menyelesaikan perundingan.

"Itu yang sedang kami upayakan pada Tiongkok, supaya mereka juga paham bahwa proses negosisasi COC ini tidak bisa open handed, harus pada suatu saat, pada titik tertentu harus kita selesaikan," pungkasnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon